Saturday, January 16, 2016

AK Gani, Tokoh Flamboyan dari Palembayan

Siapapun akan sulit membantah bahwa Orang Minang (Sumatera Barat) banyak yang menjadi Tokoh Nasional dan jasa-jasa mereka tidak mungkin dilupakan Bangsa Indonesia.  Tuanku Imam Bonjol, Muhammad Hatta, Tan Malaka, Mohammad Yamin,  H Agus Salim, Muhammad Natsir, Sutan Syahrir, Prof. Dr. Buya Hamka, H.R. Rasuna Said dan masih banyak lagi. Nama-nama itu  telah menghiasi buku-buku sejarah Negara Indonesia, mulai dari sejarah sebelum kemerdekaan hingga sejarah di awal-awal pembangunan Indonesia dan pasca memproklamirkan kemerdekaannya. Hal ini memperlihatkan betapa besarnya eksistensi dan pengaruhOrang Minang” di level Nasional bahkan Internasional. 
Bahkan saking banyaknya, ada yang sampai sempat terlupakan bahwa mereka adalah Urang Awak. Diantaranya, Encik Yusof bin Ishak Presiden Singapura yang pertama yang merupakan keturunan Minangkabau dan Melayu. Zubir Said kelahiran kota Bukittinggi, Sumatera Barat pencipta lagu kebangsaan Singapura. Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi, yang lahir di Koto Tuo - Balai Gurah, IV Angkek Candung, Agam, Sumatera Barat, menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram.
Satu lagi tokoh Nasional yang kurang terpublikasi sebagai Urang Awak adalah Adnan Kapau Gani atau A.K Gani yang tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Sumatera Selatan. Lantas, siapakah sosok AK Gani itu?
Berawal dari rasa penasaran ketika mengetahui pada daftar tokoh Agam dan Bukittinggi di Wikipedia ada sosok yang bernama Adnan Kapau Gani (Palembayan, Agam) - Wakil Perdana Menteri, Pahlawan Nasional, penulis mencoba melakukan penelusuran untuk mengetahui lebih detail sosok tersebut.
Pertanyaan yang muncul dibenak penulis waktu itu adalah apakah beliau memang putera Palembayan Kabupaten Agam? Dan dimana rumah kelahiran beliau?
Setelah beberapa hari tidak mendapat informasi tentang pertanyaan itu, akhirnya penulis membuat status di media sosial facebook tentang AK Gani. Dan respon yang penulis terima sungguh luar biasa. Penulis dikirimi informasi-informasi tentang beliau berupa photo-photo beliau dengan Presiden Soekarno dan Photo Keluarga yang belum pernah dipublikasikan. Juga dikirimkan kepada penulis Ranji Keluarga (Silsilah) yang lengkap serta informasi mengenai orang-orang yang pernah tinggal bersama beliau.
Adnan Kapau Gani lahir di Lereang, Palembayan Tangah Kenagarian Palembayan Kecamatan Palembayan (40 km dari Kota Bukittinggi) Kabupaten Agam. Bapak beliau bernama Abdoel Gani bergelar Sutan Mangkuto seorang Guru berasal dari Sungai Taleh, Nagari Baringin Kecamatan Palembayan dan Amaknya bernama Siti Robayah. AK Gani merupakan anak kedua dari 5 orang bersaudara.
Pada sebuah photo yang dikirimkan Dunsanak beliau, terlihat Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati dan beberapa orang lain tertawa lepas memperhatikan AK Gani sedang bercerita. Pada photo lainnya juga terlihat AK Gani sedang berbincang-bincang dengan Bung Karno dengan sorot mata yang tajam. Tidak terlihat kecanggungan dan kesungkanan beliau ketika berada dihadapan Sosok Proklamator dan Presiden RI Pertama itu.
Dari beberapa literatu, sosok AK Gani digambarkan sebagai sosok yang Pemberani. Ini dapat kita ketahui ketika suatu saat terjadi dialog antara Westerling yang akan menangkap AK Gani. Dengan nada yang sombong Westerling memperkenalkan diri sambil menggertak;
 “Saya Westerling, juga dikenal sebagai de Turk !!”
Oleh Gani kemudian dijawab, “Saya Gani, juga dikenal sebagai penyelundup terbesar di Indonesia”
…. -Robert Cribb, dalam Gejolak Revolusi di Jakarta (Grafiti, 1990), Hlm. 150
AK Gani bukannya takut apalagi sampai minta ampun pada gertakan Westerling yang terkenal brutal itu, melainkan balas menggertak bahwa dirinya adalah penyelundup nomor wahid di Indonesia. Jika Westerling merupakan orang yang kerjanya menangkap atau membunuh orang, maka AK Gani adalah Penyelundup yang resiko pekerjaannya adalah ditangkap atau dibunuh.
Pengakuan AK Gani sebagai penyelundup terbesar bukan sekadar ngomong doang, karena aksi-aksi penyelundupan yang dilakukan AK Gani telah menyelamatkan Indonesia dari kehancuran ekonomi serta bencana kelaparan akibat embargo Belanda di awal kemerdekaan.
Gani menyelundupkan minyak-minyak mentah, dan hasilnya digunakan untuk membiayai birokrasi pemerintahan, termasuk melengkapi senjata militer. Tujuannya buat berjaga-jaga, bersiap menghadapi kemungkinan Belanda menyerang lagi. Berkat Gani militer Indonesia kala itu memiliki seragam dan senjata, hasil selundupan.
Tak cuma itu, Gani juga menyelundupkan aneka hasil bumi ke Singapura. Bahan mentah seperti karet, kemudian ditukar amuninisi, tekstil dan obat-obatan. Dia juga yang membawa emas dan perak sumbangan dari rakyat Indonesia ke luar negeri untuk kemudian ditukar dengan bahan makanan dan senjata.
Keberanian AK Gani juga mendapat pujian dari Presiden Soekarno. Dalam biografinya, Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno mengatakan, "Orang yang menyelundupkan perdagangan emas dan perak itu juga menyelundupkan 8.000 ton karet adalah Dr AK Gani. Belanda memberinya julukan raja penyelundup tapi rakyat Indonesia mengenalnya sebagai menteri perekonomian".
AK Gani juga dipuji setinggi langit secara terbuka ketika ia masih hidup. Pujian itu disampaikan dengan sebuah artikel yang ditulis Idrus Nawawi dengan judul “Gani Manusia Istimewa”  pada Madjalah Merdeka : Berita Mingguan untuk Indonesia edisi Desember 1950.
Dalam artikel itu diceritakan bagaimana istimewanya sosok AK Gani. Ia adalah orang yang  amanah, selalu menepati janjinya. Bahkan ketika ia berhutang dan disaat waktu membayar yang dijanjikan untuk  tiba,  kalau tidak punya uang cash maka AK Gani menjual barangnya guna membayar hutang itu.
Diceritakan pula tentang sebuah jalan di Pasemah Sumatera Selatan yang bernama “Jalan Gani”. Jika biasanya jalan diberi nama pahlawan sebagai bentuk perhormatan atau penghargaan atas jasa-jasanya, maka Jalan Gani tersebit adalah jalan yang dibuat oleh AK Gani.
Jalan yang panjangnya puluhan kilometer yang dibuat oleh AK Gani dengan kain belacu. Atas perintah AK Gani, rakyat bekerja memotong, membersihkan, mendatarkan hutan besar untuk dijadikan jalan. AK Gani memberikan upah kepada rakyat setiap meternya dengan 1 meter kain belacu.
Dari sisi perfomance, AK Gani adalah sosok yang Handsome alias Ganteng, tinggi semampai, berhidung mancung dan rambut ikal disisir belah tengah. AK Gani juga diceritakan sebagai seorang tokoh Ekstrovert, yang mengisap cerutu besar dan mengenakan kopiah kulit rusa. Kegantengan itu pula lah mungkin menjadikannya seorang “selebiritis” di zamannya. Dia menjadi bintang film sebagai pemeran utama dalam film yang disutradarai oleh Raden Arifin berjudul “Asmara Moerni” pada tahun 1941 dengan lawan main aktris Djoewariah.
Akibat jadi “Selebritis” itu, AK Gani dikritik dari segala penjuru. Masa iya seorang tokoh pergerakan nasional, dokter, dan intelektual mau terjun ke dunia sandiwara, dunia wayang Stambul? Dan pertualangan menjadi bintang film tersebut ternyata adalah yang pertama dan terakhir.
Pada tahun 1950, AK Gani mulai menekuni profesi sebagai seorang Dokter Partikulir (swasta), dari hasil praktek sebagai dokter tersebut AK Gani mendapatkan penghasilan yang lumayan. Presiden Sokarno beberapa kali menawari AK Gani jabatan,  diantaranya sebagai Gubernur di Irian dan di Maluku Selatan, tapi AK Gani menolaknya. AK Gani merasa lebih baik ia hidup dengan profesi sebagai Dokter praktikulir.
Bahkan waktu itu Gani sering mengkritik beleid (kebijakan) pemerintahan Soekarno. Kata AK Gani, pemerintah cuma banyak bicara dan kurang kerja. Banyak uang diboroskan percuma, sedang pembangunan masih terbengkalai.

Meski begitu, di lingkungan tempat tinggalnya AK Gani terkenal sangat dermawan, selalu menjadi orang pertama yang memberikan bantuan atau sumbangan. Dan dalam pergaulan sehari-hari, setiap orang yang sudah berkenalan selalu akan menjadi akrab dengan AK Gani seperti orang kena pelet. Entah ia memakai ilmu pekasih atau memang karena gayanya yang menarik.
Itulah Adnan Kapau Gani, lelaki Flamboyan dari Palembayan.
* dari berbagai sumber
Bersambung ke tulisan berikutnya;
AK Gani, From Palembayan to Palembang

Tuesday, January 12, 2016

A.K. Gani – Pejuang Eksentrik


IMG_20141019_0001 …Serdadu Ambon dari Pasukan Khusus Westerling tiba, dan kemudian menangkap Gani. Menurut kabar, ketika itu Westerling memperkenalkan diri kepada Gani, “Saya Westerling, juga dikenal sebagai de Turk,” yang oleh Gani kemudian dijawab, “Saya Gani, juga dikenal sebagai penyelundup terbesar di Indonesia”…. -Robert Cribb, dalam Gejolak Revolusi di Jakarta (Grafiti, 1990), Hlm. 150
Ada banyak hal menarik dalam periode awal sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia, termasuk tokoh-tokohnya. Beberapa hal menarik sudah kusampaikan dalam beberapa artikel terdahulu seperti pengangkatan orang mati sebagai Menteri, pengerahan pasukan eks-pelacur, dan sebagainya. Namun masih kurang rasanya apabila tidak membahas seorang tokoh bernama Adnan Kapau Gani atau lebih sering disebut A.K. Gani saja. Tokoh ini baru diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2007 melalui Keputusan Presiden Nomor 66/2007.
Ketertarikanku terhadap tokoh A.K. Gani ini dimulai ketika aku membaca buku “Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949” (Grafiti, 1990). Buku ini memang mengungkapkan banyak hal yang merangsang rasa penasaranku.  Sang penulis, Robert Cribb berhasil mengungkap banyak hal “sisi lain” peristiwa Revolusi. Salah satunya adalah penjabaran mengenai tokoh A.K. Gani yang menurutku sangat menarik. Tokoh yang peranannya cukup penting dalam sejarah perjuangan, namun kurang terekspose. Robert Cribb menyebutkan sebagai berikut :
Menteri Perekonomian dalam kabinet Sjahrir ke-3, yang mulai bekerja pada tanggal 2 Oktober 1946, dijabat oleh Dr. A.K. Gani kelahiran Palembang, seorang Dokter yang kepribadiannya penuh gaya. Sejak zaman sebelum perang, ia sudah aktif dalam pergerakan nasionalis, dan bahkan pernah membintangi sebuah film populer, “Asmara Murni”, yang mengandung pesan nasionalistik yang lunak. Setelah Proklamasi kemerdekaan, mula-mula ia diangkat sebagai Residen, kemudian sebagai wakil Gubernur Sumatera Selatan. Pernah pula ia terlibat penyelenggaraan perdaganga karet dan hasil perkebunan lainnya secara gelap dari Sumatera Selatan ke Singapura.
Gani pergi ke Jakarta segera setelah ia diangkat menjadi menteri, dan turut dalam perundingan ekonomi dengan Belanda, yang berlangsung dalam waktu yang bersamaan dengan perundingan konstutional. Reputasinya sebagai “orang kuat dari Sumatera” telah memberi harapan baru kepada komunitas Republiken di Jakarta…
Gani adalah seorang tokoh Ekstrovert, yang mengisap cerutu besar, mengenakan kopiah kulit rusa, dan mencetak sendiri uang peraknya untuk dibagi-bagikan sebagai uang rokok, kepada siapa pun di hotel atau restoran.
…Ketika serdadu Ambon dari Pasukan Khusus Westerling tiba, dan kemudian menangkap Gani. Menurut kabar, ketika itu Westerling memperkenalkan diri kepada Gani, “Saya Westerling, juga dikenal sebagai de Turk,” yang oleh Gani kemudian dijawab, “Saya Gani, juga dikenal sebagai penyelundup terbesar di Indonesia”….
IMG_20141019_0004
A.K. Gani (1905-1968)
Agak sulit juga menemukan buku khusus mengenai profil dr. A. K. Gani, padahal aku yakin kisah hidupnya begitu menarik. Wikipedia menyebutkan sebuah buku karya Ruben Nalenan dan H. Iskandar Gani yang berjudul “Dr. A.K. Gani: Pejuang Berwawasan Sipil dan Militer” (1990) namun karena diterbitkan secara terbatas dan sudah lama sekali, aku belum pernah berkesempatan memiliki buku itu. Aku berdoa saja semoga suatu waktu bisa dipertemukan dengan buku tersebut.
Tapi untunglah aku menemukan sebuah majalah yang memuat profil singkat dr. A.K. Gani. Majalah ini bernama “Madjalah Merdeka : Berita Mingguan untuk Indonesia” edisi 9 Desember 1950. Majalah ini didirikan oleh B.M. Diah dan dibesut oleh Herawati Diah serta M.T. Hutagalung, memuat ulasan-ulasan politik nasional yang hangat saat itu. Berikut aku akan mengutip sebuah artikel karya Idrus Nawawi yang berjudul “Gani Manusia Istimewa”yang ejaannya sudah kusesuaikan dengan ejaan modern.
***
Gani Manusia Istimewa
Banyak kisahnya sudah ditulis orang dalam surat-surat kabar dan juga dalam majalah-majalah, sudah sering kita membaca riwayat hidup dr. A.K. Gani. Agak pembaca majalan Mendeka ingin pula mendengar kisah yang tersendiri dari dokter muda itu. Memang kalau kita perhatikan tidak pada tempatnya lagi nama Gani disebut-sebut atau direklamekan, sebab Gani bukan dewa yang memberi keuntungan bagi rakyat. Gani bukan manusia ajaib yang dapat menciptakan barang yang tidak menjadi ada atau sebaliknya, tetapi kita akan menuliskan riwayat Gani sebagai orang yang istimewa.
Kita tidak minta diturut caranya Gani bekerja, berjuang, berpropaganda, berkebun, berpraktik sebagai dokter atau yang lainm akan tetapi kita akan menceritakan bahwa penghidupan Gani ada luar biasa dari kebanyakan penghidupan pemimpin yang sudah kita lihat.
Orang mengatakan Gani sebagai smokkelaar (penyelundup) dan Gani pernah mengakui bahwa ia smokkelaar besar di Asia Tenggara, tapi kita tidak melihat suatu kejadian penting yang telah dismokkel oleh Gani. Orang sering mengatakan bahwa Gani memiliki banyak dollar di luar negeri, akan tetapi sehingga sampai sekarang kita belum melihat Gani dapat mempergunakan dollarnya itu, kalau kiranya ada, yang kita melihat ialah Gani suka berhutang. Tapi janjinya tepat, tidak pernah mungkir. Kalau ia berhutang dan dijanjikannya membayar pada waktu yang ditentukan, maka akan terlihatlah oleh kita Gani menjual barangnya guna membayar hutang itu.
IMG_20141019_0003
Baginya Semua Gampang.
Orang sudah mengenal Gani dengan kudanya semasa agresi. ia waktu itu diangkat oleh rakyat menjadi Gubernur Militer dengan kudanya Gubernur Militer itu sudah mengadakan peninjauan di tempat-tempat pertahanan tentara gerilya kita di Sumatera Selatan.
Bagi Gani semua gampang. Asal mau bekerja, katanya semua mesti dapat tercapai.
Sampai sekarang orang di daerah Pasemah masih mengenal “jalan Gani” yang dibuat oleu Gani dengan kain belacu. Agaknya orang heran mendenganr jalan yang dibuat dengan kain belacu, tapi Gani tidak heran dengan ini. Hutan yang besar dibuat oleh Gani menjadi jalan. Diperintahkannya rakyat bekerja memotong, membersihkan, mendatarkan jalan itu dan tiap-tiap meter yang dikerjakan akan menjadap upah pula 1 M. kain belacu.
Rakyat gembira dan bekerja dengan giat, sehingga terciptalah jalan yang berpuluh KM. Jalan itu sampai sekarang masih dipakai oleh rakyat dan dinamakan Jalan Gani.
Gani selalu berkata, barang siapa yang ingin memakan telor, hendaklah memelihara ayam dan itik dan ini bukan perkataan Gani saja. Ia sendiri sudah kerjakan.
“The King of The Cowboy Ranch”
Di Curup sudah dibelinya sebidang tanah, dimana di sana sudah dipeliharanya bermacam-macam ternak, kuda, sapi, kerbau, kambing, ayam, itik. Pegawainya dinamakannya cowboy, dan iapun dinamakan dirinya “The King of the Cowboy Ranch”.
Kalau ia sampai di kebunnya di Curup, autonya yang bernama “Tarzan” disimpan dalam garasi, pakaiannya ditukar dengan pakaian cowboy, cari kuda kesayangannya dan kemudian memeriksa kebun. Agaknya kalau orang melihat Gani waktu itu, orang akan terkenang dengan cerita-cerita cowboy dalam bioskop.
Waktu Gani jadi Gubernur Militer, Gani sudah bikin pabrik uang tapi selama pabrik itu berjalan, hasil yang diperolehnya tidak lebih dari 20 mata uang, dalam waktu itu bukan tidak kurang menggoncangkan semangat Belanda. Kalau orang menanyakan kepada kita apa agama Gani, kita cuma dapat menjawab, Gani seorang vrijdenker, tapi ia tentu akan marah, jika ia dikatakan bukan orang Islam. Memang Gani adalah orang Istimewa.
Di Palembang Gani ada berumah, jauh dari kota, Kenten namanya. Kalau orang datang mengunjungi rumah Gani, tidak akan susah menjadi rumahnya, sebab rumahnya juga punya tanda yang istimewa. Di kanan kiri pintu pagar halamannya diberi topi baja. Dan inilah rumah Gani. Di Kenten, selain dari banyak menanam sayur-sayuran, Gani banyak pelihara itik dan ayam. Kalau kita bertamu kepadanya, suguhan yang pertama adalah rebus telur. Dan ketika pulang, kita diberi sangu dengan sepasang ayam luar negeri atau sepasang itik.
IMG_20141019_0002
Gani dan Istri
Istri Gani
Fani sudah beristeri, tapi isterinya juga agaknya dapat dikatakan istimewa. Gani jarang benar hidup bersama istrinya sampai berbulan, sebab istrinya kadang-kadang pergi ke Curup buat mengepalai kebunnya di sana atau sering melancong ke Pulau Jawa. Lama juga ia sudah beristri. Sejak dari zaman Jepang. Waktu itu agaknya istrinya belum “resmi”, sebab kita pernah menanyakan kepada Gani, siapa istrinya, dijawab tidak ada. Dan waktu zaman pergolakan kita tanya pula siapa istrinya, ia menjawab, saya ada punya istri untuk zaman perang. Lho….., kata kita, kok ada istri zaman perang dan ada istri zaman damai, ini gimana bung.
Kembali ia menjawab, “Kalau Indonesia sudah betul-betul merdeka, saudara akan melihat Gani beristri yang betul, sebab sekali kawin tetap merdeka”.
Pada suatu ketika, di masa KMB kita pernah bertanya kepada Gani, bagaimana keputusan beliau terhadap istrinya, kita mendapat jawaban “Nah kalau orang mau beristri, hendaklah cari sebagai istri saya sekarang, seorang istri internasional”,  Mendengar jawab Gani itu kita hanya dapat tersenyum saja.
Dokter Partikulir
Sekarang ia hidup sebagai seorang Dokter Partikulir (swasta), pendapatannya lumayan juga. Kalau ditanyakan berapa, Gani menjawab, kira-kira lebih sedikit dari gaji Presiden. Ia pernah diminta oleh Presiden menjadi Gubernur di Irian dan ia menjawab bahwa ia tidak tahu dimana letaknya Iran. Juga ia disebut untuk menjadi Gubernur di Maluku Selatan, tapi katanya lebih baik ia hidup dengan praktek praktikulirnya.
Ia mau jadi orang dagang, entah dagang apa, tapi ia sudah diangkat jadi ketua Koordinator Perdagangan. Kelihatannya ia selalu menyalahkan beleid (kebijakan) Pemerintah sekarang, sebab katanya, Pemerintah cuma banyak bicara dan kurang kerja. Banyak uang diboroskan percuma, sedang pembangunan masih terbengkalai.
Kalau ia berjalan, foto Leyea-nya sudah tetap tergantung di lehernya tapi kita belum pernah melihat gambar yang dibuat oleh Gani. Katanya gambarnya semua istimewa dan tidak boleh dilihat orang.
Kalau orang baru berkenalan dengan Gani, orang tentu benci kepadanya. Tapi jika sudah lama berkenalan, agaknya orang akan kepelet. Entah ia memakai ilmu pekasih, entah ia memakai ilmu pekasih, entah memang ada gaya penarik……. cuma, Gani tidak mau menjadi bintang film lagi, meskipun ia sangat memuji kepada orang yang menjadi bintang film.
Kalau ada sesuatu pendirian amal, atau untuk mendirikan suatu rumah amal, pertama sekali orang akan menuju Gani, sebab sudah tetap Gani akan menjadi pelopor dengan derma yang paling tinggi…
Nah itulah Gani orang istimewa dari pinggir kali Musi.
*****
Demikian sekilas kisah mengenai salah satu anak bangsa yang berjasa mempertahankan negara ini di masa pergolakan.  Adalah tepat rasanya beliau mendapatkan gelar pahlawan pada tahun 2007 silam. Sedikit tambahan mengenai riwayat beliau, wikipedia menyebutkan bahwa :
Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga wafat pada tanggal 23 Desember 1968. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Pahlawan Siguntang di Palembang. Gani meninggalkan seorang istri Masturah, dan tidak mempunyai anak hingga akhir hayatnya.
IMG_20141019_0001
A.K. Gani sedang berorasi dalam rangka Kongres PNI di Lapangan Tegalega Bandung tahun 1954

 sumber : https://santijehannanda.wordpress.com/2014/10/19/a-k-gani-pejuang-eksentrik/

Monday, January 11, 2016

Dr. Adnan Kapau Gani (Pahlawan Nasional kelahiran Palembayan Kab. Agam)

A.K. Gani lahir di Desa Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 16 September 1905. Ia menempuh pendidikan Europeesche Lagere School (ELS; setingkat SD) di Bukittinggi, kemudian pindah ke Palembang mengikuti kepindahan ayahnya yang berprofesi sebagai guru. Tamat dari ELS, A.K. Gani melanjutkan pendidikan di School Tot Opleiding Voor Inlandsche (STOVIA; sekolah dokter pribumi) di Jakarta. Karena sekolah ini ditutup pemerintah ia memasuki Algemeene Middelbare School (AMS) dan akhirnya mengikuti kuliah di Geneeskundige Hoge School (GHS; Sekolah Tinggi Kedokteran). Kuliah di GHS diselesaikan pada tahun 1940 dengan memperoleh gelar dokter, sesudah itu ia membuka praktik sebagai dokter di Palembang.
Pada masa bersekolah di Jakarta, A.K. Gani sudah aktif dalam organisasi kepemudaan. Ia menjadi anggota pengurus Jong Sumatranen Bond yang kemudian berganti nama menjadi Pemuda Sumatra. Ia turut membantu terselenggaranya Kongres Pemuda bulan Oktober 1928. Sesudah itu ia diangkat sebagai anggota komisi yang bertugas melakukan fungsi berbagai organisasi pemuda yang akhirnya melahirkan Indonesia Muda pada awal tahun 1930. dalam Indonesia Muda ia diangkat sebagai anggota Dewan Eksekutif.
Kegiatan dalam dunia politik dimulai A.K. Gani sebagai anggota Partai Indonesia (Partindo). Pada bulan Mei 1937, setelah Partindo bubar, dengan beberapa temannya ia mendirikan partai baru yakni Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang langsung diketuainya. Pada tahun 1939 ia ikut mensponsori lahirnya Gabungan Politik Indonesia (Gapi) yang merupakan federasi partai-partai politik dan terkenal dengan aksi ”Indonesia Berparlemen”. Dalam kepengurusan Gapi ia duduk sebagai wakil Gerindo.
Pada masa pendudukan Jepang, Gani dipenjarakan selama satu tahun akibat sikap politiknya yang menentang fasisme. Ia dibebaskan berkat campur tangan Ir. Soekarno. Jepang kemudian mengangkatnya menjadi anggota Sumatra Chuo Sangi In (semacam dewan perwakilan) yang didirikan bulan Maret 1945.
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan cepat diketahui di Palembang. Pada tanggal 23 Agustus ia membentuk Pemerintahan Bangsa Indonesia Keresidenan Palembang yang langsung dipimpinnya sebagai residen. Jabatan sebagai residen kemudian disahkan oleh Gubernur Sumatra. Selain itu, pemerintah pusat mengangkat Gani sebagai koordinator pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Sumatra. Dalam jabatan tersebut, ia membentuk Komandemen Sumatra dan mengangkat Suharjo Harjowardoyo sebagai panglima dengan pangkat jenderal mayor. Dalam penyempurnaan organisasi TKR yang kemudian menjadi TRI dan akhirnya TNI, Gani pernah pula menduduki jabatan sebagai Komandan Sub-Komandemen Sumatra Selatan. Pada waktu Provinsi Sumatra dipecah menjadi tiga subprovinsi, ia pun diangkat sebagai Gubernur Muda Sub-Provinsi Sumatra Selatan.
Selain memegang berbagai kepemimpinan di Sumatra Selatan pada masa-masa awal revolusi, Gani juga aktif mengadakan perdagangan barter (yang oleh Belanda disebut penyeludupan) dengan luar negeri, terutama dengan Singapura dan Malaya. Dari hasil barter itu ia berhasil memasukkan berbagai keperluan pemerintah, terutama senjata. Dalam melakukan barter ini ia bekerja sama dengan beberapa orang pedagang Tionghoa.
Kiprah Gani dalam pemerintahan pusat dimulai sebagai Menteri Kemakmuran dalam Kabinet Sjahrir III (Oktober 1946 – Juni 1947). Atas prakarsanya, pada bulan Januari 1947 dibentuk Planning Board (Dewan Perancang) yang bertugas menyusun rencana pembangunan ekonomi. Planning Board yang langsung dipimpinnya ini kemudian dikembangkan menjadi Panitia Pemikir Siasat Ekonomi di bawah pimpinan Wakil Presiden Hatta, sedangkan Gani diangkat sebagai Wakil Ketua. Jabatan sebagai Menteri Kemakmuran tetap dipegang Gani dalam Kabinet Amir Syarifuddin, di samping jabatanya sebagai Wakil Perdana Menteri. Selain itu, Gani juga berperan aktif dalam perundingan dengan Belanda yang akhirnya melahirkan Perjanjian Linggajati.
Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua, Gani memimpin perjuangan gerilya sebagai Gubernur Militer Daerah Istimewa Sumatra Selatan (DMISS). Ia merupakan satu-satunya gubernur militer di Sumatra yang banyak berkomunikasi dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Sumatra Barat. Sebagai penghargaan atas jasanya memimpin perjuangan gerilya ini, pada bulan Februari 1950 Dewan Perwakilan Rakyat Sumatra Selatan menganugerahinya gelar Pemimpin Agung Gerilya disertai sebuah medali emas. Medali yang merupakan kebanggaannya ini kemudian dijualnya untuk membantu menyekolahkan anak-anak bekas pejuang.
Keikutsertaan terakhir Gani di bidang pemerintahan ialah sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Ali Sastromijoyo I. Sesudah itu ia diangkat menjadi anggota Kontituante sebagai wakil PNI, dan akhirnya menjadi anggota MPRS. Selain itu, ia juga memegang berbagai jabatan di Sumatra Selatan sambil membuka praktik sebagai dokter.
Dokter Adnan Kapau Gani meninggal dunia di Palembang pada tanggal 23 Desember 1968 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Ksatria, Bukit Siguntang, Palembang. Penghargaan tertinggi yang diterimanya dari pemerintah ialah Bintang Mahaputra Adipradana pada tanggal 7 Agustus 1995. Penghargaan lain ialah Bintang Gerilya (17 Agustus 1958), Lencana Gerakan Operasi Militer I dan II.
Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 068/TK/Tahun 2007 tanggal 6 November 2007.

Sumber: http://pahlawancenter.com/dr-adnan-kapau-gani/

Dr. A.K. Gani Bintang Film
Oleh H. ROSIHAN ANWAR

PENDIDIKAN kedokteran di Salemba No. 6 Jakarta di zaman Hindia Belanda telah menghasilkan dokter yang kemudian ternyata punya aneka ragam bakat dan kemampuan.
Di seminar Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Kedokteran 22 Mei 2007, saya kemukakan sebagai contoh dr. Adnan Kapau Gani (1905-1968). Ketika Gubernur Jenderal De Jonge (1931-36) telah mengasingkan Bung Karno ke Ende, Flores, dan Bung Hatta, Bung Sjahrir ke Boven Digul, ketika kaum nasionalis nonkoperator tidak berkutik dibuatnya, dan nasionalis koperator seperti M.H. Thamrin, Soetardjo, Soekardjo Wirjopranoto di Dewan Rakyat (Volksraad) masih mengangkat suara, dr. Gani memilih masuk Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) yang sifatnya left-of-center bersama Mr. Amir Syarifuddin, Mr. Muhammad Yamin dan dari generasi lebih muda Adam Malik. Gani melihat bagaimana Belanda kolonial melecehkan tuntutan Indonesia berparlemen dan tidak memperlakukan secara sungguh-sungguh Petisi Soetardjo tahun 1936 di Volksraad untuk melaksanakan hak penentuan nasib sendiri dan dalam masa 10 tahun mengadakan konferensi antara Hindia dan Kerajaan Belanda.
Tersumbat di bidang politik, Gani mencari outlet atau jalan keluar untuk menyalurkan energi dan dinamikanya. Dia menjadi bintang film memegang peran utama dalam film yang disutradarai oleh wartawan Raden Arifin berjudul “Asmara Moerni” pada tahun 1941. Dia berpasangan dengan aktris Djoewariah. Akibat jadi bintang film itu, Gani dikritik dari segala penjuru. Masa iya seorang tokoh pergerakan nasional, dokter, dan intelektual mau terjun ke dunia sandiwara, dunia wayang Stambul? Itu tidak pantas, kata pengritiknya. Akan tetapi, Gani cuek saja. Baliho yang dipasang di bioskop Kramat, Batavia memperlihatkan close-up Gani dan Djoewariah. Gani dengan rambut keriting, disisir belah tengah, hidung mancung memang “cakep” alias handsome. Petualangan pertama menjadi bintang film ternyata adalah yang terakhir.
Namun di bidang lain, setelah proklamasi kemerdekaan, dr. A.K. Gani yang berpraktik di Palembang tampil sebagai gubernur militer Sumatra Selatan. Tentara membutuhkan senjata dan amunisi, tekstil, dan lain-lain. Gani lalu melakukan perdagangan barter dengan Singapura. Karet, kopi, dan produk lain diselundupkannya keluar. Ketika Kolonel Simbolon dari Palembang bersama perwira lain datang di Jakarta awal 1946, saya lihat mereka berpakaian seragam terbuat dari bahan wol inggris, berbeda dengan pakaian tentara di Yogya yang mengalami krisis tekstil. Dokter Gani dengan bangga berkata kepada koresponden luar negeri bahwa dia adalah The greatest smuggler of Southeast Asia, penyelundup terbesar dari Asia Tenggara.
Dokter Gani jadi anggota delegasi dalam perundingan dengan Belanda di Linggajati (1946) dan ketika Belanda melancarkan aksi militer pertama 21 Juli 1947, utusan Belanda yang datang memberitahukan ke rumah Perdana Menteri RI di Pegangsaan Timur 56 diterima oleh Menteri Perekonomian dr. A.K. Gani. Ia sungguh seorang colourful doctor. Praktik dokternya di Palembang ramai. Pasien-pasiennya suka minta injeksi spesial kepadanya agar lekas sembuh, dikenal sebagai “suntikan maut”.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/04/0902.htm