Friday, May 31, 2013

Pilihlah Yang Boneh!



Mencari calon yang memenuhi peryaratan sesuai Peraturan Perundangan Kepegawaian untuk diangkat menjadi pejabat strukural di Sumatera Barat tentunya tidak lah sulit karena disini adalah gudangnya orang pintar. Dari dulu daerah kita ini telah memproduksi pemimpin ulung berskala nasional dan internasional, bahkan hingga kini urang awak selalu ada di Kabinet Walaupun Presiden telah berganti-ganti. Kita punya banyak stok apalagi jika hanya untuk pejabat eselon II, “sambuah, beserak cando rambai dihampehkan”. Tetapi memilih mana yang patut, pantas dan pas serta cocok dengan Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah harus diakui bagai mencari barang antik. Sangat langka dan sukar untuk mendapatkanya, apalagi yang mau jujur dan ikhlas untuk menyatakan mimpi manis sewaktu Pilkada dulu. Kita juga harus mengakui bahwa daerah kita ini masih kotor, terbukti dengan meratanya kasus korupsi (sampai ke pengadilan) disetiap Kabupaten/Kota. Kita mengalami krisis pemimpin yang mampu mambangkik batang tarandam Minangkabau!
Yang ada hanya para pemimpn SDM alias Selamatkan Diri Masing-masing dari pemeriksaan Bawasda BPK dan aparat Hukum lainnya, atau yang bak ayam diinjak malam tidak tahu mau berbuat apa kamanga den ko lai. Pemilu (Pilkada) yang menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan pemimpin (Presiden dan Kepala Daerah) akhirnya minyak habih samba tak lamak, pitih abih utang tak lansai dan upah tajawek kabau pincang.
Mungkin pemimpin kita itu bersih sebagaima imagenya sewaktu kampanye dulu tetapi sangat sulit dibantah bahwa saat ini di setiap kantor, setiap kita berurusan, setiap akan mendapakan pelayanan kita masih dimintai biaya, banyak birokrat yang berdompet di saku urang.
Momentum mutasi/promosi Pejabat Struktural seharusnya dijadikan Kepala Daerah untuk merealisasikan janji-janji kampanye dalam menyelenggarakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Untuk itu syarat-syarat seperti kualifikasi dan tingkat pendidikan, kompetensi, usia dan pengalaman menjadi syarat vital dalam mengangkat seorang dalam jabatan, selain itu juga harus dipertimbangkan pemahaman dan penguasaan para calon tersebut mengenai pokok-pokok adat dan karateristik urang awak sehingga komunikasi pembanggunan dengan masyarakat bisa berjalan dengan lancar.
Kita sangat memutuhkan para pejabat Penghulu yang bermartabat, menjadi contoh dan tauladan bagi stafnya dan masyarakat, yang mampu menjada diri dan orang-orang yang dipimpinnya dari perbuatan-perbuatan dosa menurut Agama Islam sehingga ia menjadi pemimpin yang berwibawa dan disegani yang kharismatik, pusek jo kumparan ikan. Kita di Sumatera Barat butuh pemimpin yang mempunyai sifat, siddiq, tablig, amanah dan fathanah agar batang tarandam itu bisa dibangkitkan.
Untuk itu kepada otoritas yang berwenang mengangkat seorang pejabat, sebelum mengambil keputusan hendaknya terlebih dahulu diangin dikisai-kisai, diindang ditampi-tampi supaya dadak tabuang atah manyisiah sehingga yang tinggal hanya nan boneh.

Mencari Pejabat Pemalu



Setiap ada rencana Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Walikota) merombak kabinetnya, selalu saja membuat banyak pejabat eselonering  harap-harap cemas, dan bagi banyak pihak perombakan, reposisi, reshuffle, mutasi promosi atau apapun namanya merupakan hal yang sangat menarik karena banyak kepentingan menyangkut hal itu, terbukti dengan apresiasi Media Cetak yang meng-ekspos berita mulai dari gonjang-ganjing sampai pelantikan dan komentar para politisi di daerah ini.
Kasak-kusuk setiap berembusnya angin mutasi/promosi mengindikasikan bahwa jabatan struktural telah menjadi jabatan politis dan cenderung terjadi perebutan untuk mendapatkan posisi dari jabatan tersebut banyak yang kalimpasingan dan sport jantung menjelang hari pelantikan dan di sisi lain ada yang lobi sana lobi sini, karena proses mutasi/promosi dilakukan secara sangat rahasia. Surat Keputusan Mutasi biasanya di-print out beberapa jam sebelum pelantikan dan para pejabat yang terkena mutasi/promosi hanya menerima undangan acara pelantikan tanpa tahu persis apa jabatan barunya.
Mutasi/promosi merupakan hak prerogatif seorang Kepala Daerah dengan berpedoman kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mendapat pertimbangan dari Baperjakat. Oleh ayat (2) Pasal 17 Undang-undang nomor 45 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian dinyatakan bahwa Pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai kompetensi, prestasi kerja, dan jenjang pangkat yang ditetapkan untuk jabatan itu serta syarat obyektif lainnya tanpa membedakan jenis kelamin, suku agama, ras atau golongan.
Kecendrungan Kepala Daerah memakai syarat objektif lainnya yang mengandung banyak penafsiran, multi-asumsi membuat terjadinya praktek-praktek korupsi (upeti dan sogokan), kolusi, nepotisme dan kompetisi secara tidak sehat dalam meraih jabatan struktural.
Momentum mutasi/promosi seharusnya dijadikan Kepala Daerah untuk meningkatkan kinerja dan kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintahan dalam rangka mewujudkan daerah otonom yang lebih baik dari hari kemarin. Untuk itu Kepala Daerah harus jeli dalam mencari memilih orang yang tepat pada posisi yang tepat, bukan sekedar menganti yang lama dengan yang baru. Salah satu faktor penting adalah bahwa di Ranah Minang saat ini sangat dibutuhkan pejabat yang pemimpin. Pemimin yang laksana Pengulu yang mempunyai rasa malu pada diri sendiri karena rasa malu merupakan syarat utama orang beradat. Malu ketika tidak bisa menjadi tauladan bagi para staf dan masyarakat, malu ketika tidak berkinerja baik, malu ketika berbuat salah walau tidak disengaja.
Saat ini banyak pejabat yang tidak tahu malu, memakai fasilitas dinas untuk kepentingan pribadi, seperti Penghulu busuak hariang penipu masyarakat-penjual anak kemenakan berdompet disaku orang, atau Penghulu ayam gadang berkotek tatapi tidak bertelur. Bahkan yang kecondongan mato urang banyak-pun masih berkelit dengan Presumption Of Innocence.
Untuk itu kepada Pemegang Hak Prerogatif disamping memenuhi persayaratan peraturan pendang-undangan, hendaknya calon pejabat itu harus punya rasa malu. Dan tolak ukur pemimpin di Ranah Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah adalah kesanggupan dan kemampuan menjalankan sifat wajib penghulu yaitu STAF; Siddiq, Tabliq, Amanah dan Fathanah, jika tidak memiliki sifat STAF tersebut lebih baik jangan diangkat jadi pejabat karena niscaya akan malu-maluin.

Adilkah Pemberian Tunjangan Daerah?



Fenomena pemberian Tunjangan Daerah (Tunda) yang dimaksudkan untuk mensejahterahkan pegawai ternyata mulai menuai protes dan mencuat kepermukaan. Di Kabupaten Agam protes muncul dari para guru yang merasa diperlakukan secara tidak adil. Bupati Agam beberapa waktu lalu pada sebuah koran dalam menjawab SMS Warga mengatakan: “Tunjangan Daerah bisa diterima pada bulan Mei ini, dan hal itu sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap staf dan PNS”. Ternyata bentuk perhatian dari kepedulian pemerintah daerah tidak membuat para Pegawai (PNS/PTT) terutama guru puas.
Tunda Agam perlu Ditunda kata Kasra Scorpi dalam Refleksinya di Haluan Kamis 10 Mei 2007 dalam menyikapi aspirasi yang berkembang dikalangan pendidik Kabupaten Agam. Berdasarkan Keputusan Bupati  Agam Nomor 23/2006, kepala sekolah menerima 200.000/bulan, sementara KTU sekolah menerima Rp. 225.000/bulan, sedangkan guru PNS termasuk guru Bantu menerima Rp. 150.000/bulan, pejabat pemegang eselon ada yang menerima Rp. 2 jutaan/bulan dan potong pajak 15%.
Bukan hanya di Agam di daerah-daerah lain pun kejadiannya hampir serupa, memberikan Tunjangan Daerah dengan alasan meningkatkan kesejaterahan pegawai atau lebih halus sebagai tunjangan beban kerja.
Komposisi/Stuktur pemberian Tunjangan Daerah pun hampir sama yaitu seperti Piramida Terbalik, makin tinggi jabatan struktural atau golongan pangat makin besar tunjangan yang diterima, makin rendah pangkat/golongan ruang makin kecil tunjangan yang diterima. Hal inilah yang menjadi pangkal munculnya permasalahan bagi kalangan staf bawah terutama guru yang tiap bulannya hanya menerima gagi dan tunjangan fungsional, tanpa ada uang pernjalanan dinas atau tambahan lainnya.
Sepintas pemberian tunjangan daerah tersebut merupakan kebaikan/kepedulian Kepala Daerah terhadap seluruh staf/PNS yang berada didaerahnya, memperjuangkan sampai akhirnya bisa memberikan tambahan penghasilan. Wah, Walikotanya baik, Bupatinya hebat!. Itu baru Gubernur!
Tetapi bagi yang berpikir kritis pemberian tunjangan daerah merupakan akal-akalan kelompok tertentu agar dapat menangguk di air jernih, kesempatan emas menaikan pengahasilan secara syah, Ekstrim-nya, pemberian tunjangan daerah merupakan konspirasi antara DPRD dengan Bupati/Walikota/Gubernur bersama Pejabat Pemda (Sekda, Kepala Dinas atau pejabat bereselon). Anggota DPRD (legislatif) mendapat penghasilan melalui berbagai tunjangan seperti representasi, keluarga, beras. pph/khusus, paket, panitia musyawarah, komisi, panitia, anggaran, badan kehormatan, perumahan, dan tunjangan komunikasi, sebagian ada yang menganggarkan pembelian Laptop.
Untuk meloloskan anggaran tersebut maka pihak eksekutif menganggarkan tunjangan daerah, yang intinya adalah merupakan kepentingan kelompok (Kepala Daerah dan Pejabat bereselon di daerahnya) tertentu.
Sistim pemberian tunjangan daerah seperti ini memunculkan kecemburuan, dan pertentangan-pertentangan antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya dengan alasan tidak adil. Kelompok yang sangat diuntungkan akan berdalih bahwa keadilan tidak boleh dipandang sama artinya dengan pemerataan, keadilan bukan berarti bahwa tiap-tiap orang menperoleh bagian yang sama. Wajar saja kami mendapat bagian bersar mengingat tanggungjawab kerja dan jabatan yang diraih susah payah dalam waktu lama.
Kelompok yang menerima lebih kecil mengatakan enak di bapak-bapak saja, urusan gaji, honor dan tunjangan besar ke bapak (atas). Nggak enak buat kami urusan pembagian kerja makin kebawah makin berat.
Terdapat dua perbedaan penafsiran mengenai keadilan sebagaimana diajarkan Aristoteles yaitu Keadilan Distributif dan Keadilan Commutatif. Keadilan distributif adalah keadilan yang memberikan kepada tiap-tiap orang jatah menurut jasa nya.
Tidak setiap orang harus mendapat bagian sama banyak bukan persamaan melainkan ke sebandingan.
Setiap warga negara dapat diangkat dalam jabatan setiap pejabat pemerintah (ayat (3) Pasal 43 UU 39/1999 tentang Hak Azasi Manusia), bukan berarti semua orang dapat diangkat menjadi pejabat eselon II tersebut melainkan berarti bahwa jabatan tersebut diberikan kepada mereka berdasarkan syarat-syarat tertentu dan patut mendapatkannya.
Keadilan commutatif adalah keadilan yang memberikan pada setiap orang sama banyaknya dengan  tidak mengingat jasa-jasa perseorangan.
Memang sangat sukar mencari keadilan dimanapun berada diatas dunia ini apalagi jika dilakukan banyak orang, adil bagi si A belum tentu adil bagi si B. sesuatu yang diterima secara gratis pun sering digugat tidak adil, masa Cuma segini.
Bahkan hukum-pun tidak bisa memberikan keadilan itu pada setiap orang, vonis demi keadilan yang dijatuhkan hakim akan diterima berbeda oleh korban dan pelaku.
Melihat fenomena pemberian tunjangan daerah oleh masing-masing pemerintah daerah adalah yang jelas sangat besar perbedaan antara yang diterima pejabat tertinggi dengan staf terendah sehingga jurang pemisah penerimaan penghasilan antara orang yang sama-sama satu kantor itu makin dalam. Jika ditotal, penghasilan resmi dan legal (gaji + tunjangan jabatan ) eselon II sebelumnya berkisar Rp. 4 juta sebulan meningkat 50 persen menjadi 6 juta rupiah, sementara PTT yang sebelumnya Rp. 500 ribu naik 30 persen menjadi 650 ribu rupiah per bulan, tetapi jarak  gaji mereka yang sebelumnya hanya 3,5 juta kini menjadi lebih 5 juta atau lain kata sebulan penghasilan eselon II bisa buat setahun untuk PTT.
Dalam hal ini terlihat lemahnya sensibilitas para pejabat kita terhadap kondisi disekitarnya, terhadap bawahannya seperti itu apalagi terhadap orang yang berada jauh dari kantornya (masyarakat daerahnya). Apakah memang tidak ada lagi rasa kepedulian sesama, atau tidakkah disadari bahwa Anggaran Pendapatan Belanja Daerah itu pada hakikatnya untuk mensejahterahkan semua masyarakat di daerah tersebut. Apakah memang tidak ada lagi rasa kepedulian sesama, atau tidakkah disadari bahwa Anggaran Pendapatan Belanja Daerah itu pada hakikatnya untuk mensejahterahkan semua masyarakat di daerah tersebut.
Karena memang tidak mungkin memberikan rasa adil bagi semua masyarakat, paling tidak dengan itikad baik memberikan keseimbangan dan tidak membuat kesejangan sosial. Bukankah Indonesia yang berkeadilan menurut pembukaan UUD adalah Indonesia yang menjamin terselenggaranya hak-hak setiap warganya dan mampu mencegah terjadinya kesenjangan dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan benegara.
Apakah pantas disaat daerah ini diguncang bencana dan memerlukan banyak bantuan, serta masih banyaknya masyarakat miskin yang belum tertanggulangi, kita ribu-ribut soal komposisi Tunjangan Daerah yang mungkin hanya bisa dinikmati sebagian rakyat daerah ini saja?
Sum mumius, summa iniura, keadilan tertinggi adalah ketidak-adilan yang tertinggi.
Catatan :
Tulisan ini dimuat di Harian Haluan
edisi Senin tanggal 21 Mei 2007, Hal 1

Kita Makin Kesal!

Mendekati Pemilu 1997 ini, suasana di sekitar kita semakin kritis, kita seakan berada di bibir jurang yang dalam, kalau kita menghadap dan melihat jurang itu kita merasa ngeri sekali! Tetapi kalau kita membelakanginya kita seakan tidak apa-apa padahal posisi kita sangat rawan dan berbahaya.
Seringkali, BK dalam berkomentar dicap sinis dan pesimistis, tetapi sungguh hal itu adalah dikarenakan kita belum menemukan bagaimana jalan terbaik untuk memperbaiki keadaan sekarang.
BK pikir, semua salah, semua bersalah, baik pemerintah sekarang (Orba) maupun lama (Orla). Apa yang dilakukan pemerintahan Orde Baru sama saja dengan apa yang telah dilakukan pemerintahan Orde Lama, padahal Orba ketika muncul akhir tahun 60-an sangat mengutuk apa yang pernah dilakukan Orla…. Kekuasaan terpimpin di satu tangan, proyek-proyek mercusuar, rakyat kecil yang diabaikan, manipulasi politik dan ekonomi.
Coba anda tanya orang tua yang hidup di dua orde itu, jawabnya sama saja… dulu hidup susah sekarang juga susah walaupun sekarang jalan telah diaspal dan listrik telah masuk desa. Doeloe kita sepakat bahwa proyek-proyek mercusuar yang dilakukan Bung Karno hanya menghambur-hamburkan uang dan menambah utang luar negeri serta mengorbankan rakyat kecil. Tetapi sekarang proyek-proyek tersebut muncul lagi… dan lagi-lagi rakyat kecil makin tersingkir. Doeloe diawal Orba….kita sepakat bahwa Presiden seumur hidup tidak kita sukai !! tetapi sekarang tampaknya kita terpaksa menerima kenyataan bahwa sistem ketatanegaraan kita menganjurkan begitu, atau lebih halusnya Konstitusi kita memberi peluang untuk itu.
Bahkan kalau boleh sedikit ekstrim, BK melihat keadaan sekarang (Orba) lebih parah dari keadaan zaman Orla. Terlalu banyak produk Orba yang akhirnya membuat kita makin kesal. Konglomerat contohnya, di zaman Orde Lama tidak seberapa tetapi sekarang kelewat banyak dan mereka kebanyakan bukan orang Indonesia asli.
Coba, apa nggak kesal ?… kita masih melihat secara live asap di Bukit Indarung masih membubung tetapi kita sulit bahkan tidak bisa mendapatkan sekarung semen bermerk Semen Padang! Kata dealernya sudah habis! Lantas kemana?... tau-tau perusahan anaknya Pak De menang tender di luar negeri untuk membuat jalan tol.
Perjalanan group Orde Baru yang semakin menyimpang dari cita-cita yang dicetuskan pada akhir 60-an dan berbalik melakukan seperti apa yang dilakukan group Orde Lama dan juga menimbulkan perpecahan sesama anggota personil group Orde Baru. Bagi BK kesalahan hal ini terletak pada manajemen yang kurang baik, dimana Pak Harto sebagai ketua group kadang-kadang salah menempatkan posisi anggota. Akibatnya belakangan orang-orang seperti Ali Sadikin, Kemal Idris, Sarwo Edhie, AH Nasution semakin banyak muncul. Saiful Sulun, Kharis Suhud dan banyak lagi orang yang merasa sangat berjasa mendirikan group Orde Baru tetapi Cuma sedikit menikmati hasilnya…. Ibarat kata habis manis sepah dibuang. Namun sebaliknya banyak orang-orang yang tidak ikut apa-apa waktu pendirian group Orde Baru tetapi sekarang merasa sangat berjasa dan seakan memiliki negeri ini.
Kalau memang Orde Baru meminta hadiah terhadap keberhasilan menumbangkan Orla itu adalah wajar dan itu telah mereka peroleh selama 30 tahun terakhir. Dan bila mereka ingin menunjukkan bahwa Orba lebih hebat dari Orla, itu juga telah mereka dapatkan, bukankah Orla Cuma 20 tahun! Tetapi kalau setelah Pemilu 1997 ini mereka (Orba) masih ingin tetap berkuasa, itu namanya sudah kelewatan!
Cukup! Cukup sampai di sini. Bahaya kalau diteruskan, nggak usah pakai orde-ordean lagi.
Seperti yang BK katakan di awal tulisan ini, semua sama-sama bersalah, mari kita menjauh dari pinggir jurang ini. Kalau kita tetap disini itu berbahaya, siapa tahu kepeleset atau ada yang berniat jelek mendorong kita ke dalam jurang tersebut.

Bukittinggi – Sumatera Barat, 15 September 1996

Sunday, May 5, 2013

Puisi Susno Duadji

Bulan Bintang

Hitungan tarikh memang relatif pendek aku berada di keluarga yang sangat ku cintai ini,

Memang aku baru datang tapi aku bukan pendatang baru, jiwaku sudah terpatri pada BULAN dan BINTANG sejak dahulu kala,,,
sejak aku belum kenal politik,

Ayah dan keluarga ku penganut panatik ideologi BULAN BINTANG, beliau Masyumi sejati,

Tegakan hukum, tegakan kebenaran dan keadilan adalah garis perjuangan partai ku. Karena itulah pokok persoalan yang menyebabkan negeri ini terpuruk dan sulit untuk bangkit,

Bulan Bintang sangat mencintai negeri ini,
Bulan bintang akan sangat marah dan sedih,,,,,, sedih ,
Manakala hukum dipelintir, manakala hukum ditafsirkan demi kepentingan kaum pemegang kekuasaan dan penegak hukum itu sendiri,

Betapa mudah menghukum dan menghancurkan karir seseorang dinegeri yang katanya "berazas" kan hukum ini, mudah ,,,,dan gampang sekali,
Jauh lembih gampang dari pada menghukum pencuri sendal jepit, bahkan lebih mudah dari menghukum pencuri jemuran celana dalam,

Caranya ,,,
Cukup dengan "kekuasaan " dan ,,
"arogansi"
Manakala kedua kesaktian itu sudah bertemu, tamat riwayatnya karir dan kemerdekaan seseorang,
Mudah sekali, bukan ?

Sebagai kader BULAN BINTANG sejati,
Aku tak takut hal itu,
Aku rela dibui,
Bahkan aku rela mati
demi tegaknya hukum, kebenaran dan keadilan sejati,
Aku di bui, bukan aku menyerah.

Bukankah kita sebagai manusia adalah halifah di muka bumi ?
Bukankah Allah Swt sangat benci akan ketidakadilan,
Allah SWT membenci kezoliman.

Ya Allah ,,,
mereka merampas kemerdekaanku dengan dalih "menegakan" hukum,
Ya Allah.,,,
mereka sangat kuat,,,,
Tapi ,,, tapi aku sangat percaya bahwa ALLAH SWT Maha Kuat,,
Ya ALLAH tunjukan kepada mereka yg zolim bahwa ENGKAU Maha Kuat,
Aamiin YA Rabb.
Hanya kepada MU sebaik-baiknya aku meminta pertolongan.

Jakarta,
Hari pertama aku dipenjarakan. (SD)

Thursday, March 7, 2013

Raja Daerah Otonom


Ketika Reformasi bergulir dan era otonomi daerah mulai diberlakukan, jabatan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati/Walikota) menjadi sangat populer. Mengiurkan banyak orang karena bisa mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat daerahnya. Bisa menjadi Raja di Daerah Otonom karena berkuasa atas pengelolaan keuangan daerah ratusan milyar rupiah. Kesempatan tesebut disamdut dengan eforia para tokoh-tokoh sipil dan pensiunan militer dan Polri yang beramai-ramai terjun ke dunia politik untuk berlomba menjadi Gubernur, Bupati atau Walikota.
Di Sumatera Barat, dari 20 Kepala Daerah (1 provinsi + 19 Kabupaten/Kota) kita boleh berbangga karena kita memiliki figur yang lengkap dari pensiunan tentara, pensiunan polisi, pamong senior, dokter, pengusaha, ulama maupun politikus sejati dan kita pun sejenak boleh kagum karena mereka berhasil membius kita dengan slogan-slogan yang bagus laksana iklan di TV. Beragam visi dan misi dibuat sebagai label daerah disertai julukan-julukan seperti Kota Beriman, Serambi Mekkah, Kabupaten Madani, Kota Tercinta dan itu juga diiringi dengan keberhasilan meraih penghargaan, award, piala diberbagai bidang.
Sebagian dari beliau (Kepala Daerah) ada yang bergelar Datuk atau ada yang dijuluki Buya, yang secara adat adalah orang yang dituakan, didahulukan salangkah dan tinggikan sarantiang. Cocok betul dengan daerah kita yang adat Basandi Syara, Syara’ Basandi Kitabullah dimana pemimpin yang cocok adalah selain ahli pemerintahan juga ahli agama dan paham adat istiadat. Manusia-manusia yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang religious, adil dan berakhlak mulia, sederhana di dalam kehidupan pribadi dan keluarganya.
Dengan semua itu kita pun mebayangkan bahwa beliau-beliau yang mempunyai posisi/peran yang sangat urgen dan strategis tersebut akan bisa memperbaiki dan membawa kita menuju cita-cita masyarakat madani/beradap (civil society). Mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan dalam masyarakat yang makin berakhlak dan cerdas. Kepala Daerah yang bisa memberikan pelayanan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya, peduli, berpihak dan tidak membebani rakyat miskin dengan berbagai pemborosan APBD yang di halalkan dengan berbagai aturan.
Kepemimpinan tersebut pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad “ulil amri” ketika memimpin Madinah, tetapi jika merasa terlalu berat mencontoh Muhammad karena beliau seorang Rasulullah, tauladani lah Umar Bin Khatab; harta dan tahta dan mahkota tidak menjadi tujuan hidupnya, kepentingan rakyatlah yang beliau utamakan atau tirulah Bung Hatta yang hidup sederhana walau beliau seorang Proklamator Kemerdekaan RI dan Wakil Presiden.
Bukan beliau-beliau yang sok-sok an menjadi kaum ninik mama, alim ulama, cadiak pandai tetapi memaksa bawahan dan raknyatnya memenuhi kepentingan, serta membuat aturan-aturan yang menguntungkan dirinya sendiri. Yang di daerah pemerintahannya telah terjadi kerusakan etika, campur baur adat istiadat dengan kebiasaan urang barat serta maraknya prilaku amoral. Yang di wilayah kekuasannya praktek suap menyuap dan korupsi terus berkembang biak menjadi hal yang lumrah dan biasa. Dan orang yang kaya dengan uang dari hasil korupsi tetap dihormati karena perbuatan korupsi tersebut bukan lagi dianggap sebagai aib yang memalukan.
Mumpung kini Kepala Daerah masih bisa menjadi Raja di daerahnya, jadilah Raya yang alim, bukan lalim karena Raja Alim Raya disembah, Raja lalim Raja disangah.

Sunday, February 10, 2013

Jangan Pilih Kuciang Aia…..!!!


Entah siapa yang memulai, banyak para pengamat politik mengintrodusir “Calon Anggota Legislatif (Caleg)” sama dengan Kucing, sehingga muncullah istilah-istilah yang memakai kata kucing yang berkaitan dengan masalah Caleg, seperti Kucing dalam Karung. Dan pengibaratan tersebut akan lebih klop jika dikaitkan pula dengan karakteristik Kucing dan Tikus serta Anjing karena ketiga binatang tersebut mempunyai hubungan kehidupan timbal balik yang sangat erat dan biasanya hidup dalam sebuah rumah. Pengibaratan yang bukan lagi sebatas Caleg tetapi lebih dari itu yaitu sebuah Negara (rumah), Anggota Legislatif (kucing), Koruptor (tikus) dan Aparat Keamanan/Hukum (Anjing).
Pada Pemilu 2004 ada iklan yang berbunyi, “Dalam Pemilu sebelumnya kita Memilih Kucing Dalam Karung, maka kali ini Kucingnya tidak ada dalam karung”. Iklan ini adalah untuk mensosialisasikan bahwa Pemilu sekarang kita bisa langsung memilih orangnya untuk menjadi Anggota Legislatif (DPR, DPRD dan DPD), tidak seperti sebelumnya yang hanya memilih partai sedangkan Anggota Legislatif ditentukan oleh Partai.
Jika Iklan pendek tersebut dijadikan sebuah Cerita maka banyak polemik yang bisa dimunculkan agar Iklan pendek tersebut menjadi cerita yang panjang… misalnya, Dulu sewaktu memilih Kucing Dalam Karung kita berspekulatif… kita memilih tetapi tidak tahu apakah kita akan mendapat kucing baik atau kucing jelek. Kita hanya bisa melihat karung saja tanpa tahu persis isinya kecuali bahwa di dalamnya ada beberapa ekor kucing.
Ada berbagai alasan orang untuk menentukan pilihan: ada yang memilih karena karungnya bagus dan bersih, dan berpikir sudah tentu isinya juga bagus dan bersih. Ada yang memilih karena isi karung… kalau karungnya berguncang-guncang hebat pastilah didalamnya terdapat kucing yang kuat dan gesit. Ada juga  yang memilih karena karung itu diam saja, berpikir pastilah kucingnya baik-baik semua, tidak suka ribut-ribut.
Alasan memilih karena suka di atas bisa kita balik untuk alasan orang yang menentukan pilihan karena tidak suka, aku pilih yang ini saja karena yang itu ribut melulu…
Memilih di antara pilihan yang kelihatan jelas akan membuat kita leluasa memakai bermacam kriteria dalam memutuskan pilihan sesuai yang diinginkan… apakah dari kelaminnya, warna belangnya, posturnya, bunyi meongnya, atau keterampilannya, dan untuk apa kucing itu kita pilih. Apakah akan digunakan sebagai pembasmi tikus atau sekedar untuk dielus-elus.
Di sisi lain kita sudah memahami betul bahwa dari dulu hingga kini sangat banyak Tikus berkeliaran di sekitar kita, kelakuan mereka sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari… kadang beras kita dimakan, sambal kita yang dicuri, tong sampah kita diobok-obok, bahkan suara mereka entah itu berkelahi atau bergelut di atas loteng membuat kita susah tidur. Ukuran mereka pun semua type ada mulai dari yang normal, yang sangat kecil bahkan yang seukuran kucing pun ada. Mereka sangat gesit dan pintar… kita lengah sekejap makanan kita sudah tinggal sisa.
Karakter Anjing boleh dikatakan sama dengan Kucing… Cuma dalam tugas Anjing mendapat posisi lebih strategis yaitu melindungi rumah dari ancaman pencuri maupun tamu tak diundang….
Kita ibaratkan dalam Negara saat ini kita sedang menuju jurang kehancuaran.. karena para Tikus (Koruptor) sangat meraja lela. Hampir disetiap sudut mereka ada dan mengincar apa saja yang bisa dimakan.. incaran utama mereka tetap beras (Bulog) tetapi mereka juga memakan kabel-kabel dan Dinding lemari. Sementara Kucing-kucing (Politikus & Pejabat Negara) kita tidak kuasa menghadapi serangan tikus-tikus tersebut. Kucing kita kalah gesit… Lemari (Bank) sudah bobol baru memeong, sementera tikusnya sudah kabur. Kucing kita tak ubahnya “Kucing Tua” yang tidak bisa apa-apa kecuali menuggu dikasih makan atau menunggu empunya lengah dan ikut-ikutan mencuri makan. Kucing kita juga sudah tidak ada wibawa terutama dimata para Tikus… mereka tidak lagi ditakuti, karena jangankan untuk menguber Tikus… menangkap cicak yang jatuhpun tidak sanggup!
Kondisi tersebut bertambah parah ketika para Anjing turut campur urusan Kucing… mereka jadi sering berkelahi soal teritorial dan wewenang dan terus menjadi musuh berbuyutan. Apa jadinya… Tikus pada terbahak-bahak dan tepuk tangan sambil berkata… teruskan permusuhan kalian sementara kami akan teruskan pekerjaan kami.
Kita sebagai pemilik kadang-kadang memang lupa diri, tidak waspada…entah sudah beberapa kali lumbung beras dan lemari kita dibobol Tikus tetapi kita tidak mengambil tindakan tegas. Padahal kalau mau ada caranya, yiatu.. diracun saja! Mungkin timbul masalah, bagamaimana kalau Kucing dan Anjing ikut kena racun? Biarin saja… kalau ada Kucing dan Anjing yang memakan umpan untuk Tikus berarti mereka bukan yang baik. Kucing dan Anjing yang baik tentunya sudah tahu makan dimana, kan makanannya sudah dijatah (Gaji)… kalau coba-coba mencari makanan lain resikonya ya itu, kena Racun Tikus, Mati!
Kesimpulannya… nanti pada Pemilu 2014 akan ada lebih ribuan bahkan puluhan ribu calon Kucing dan kita harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Walaupun secara Ekstrim dikatakan lebih baik memilih kucing dalam karung, walapun spekulatif tetapi masih ada “sedikit” harapan, siapa tahu dalam karung itu ada yang bagus dan kita beruntung memilihnnya, dari pada sekarang terbuka tapi tak satupun yang bisa diharapkan. Orang Minangkabau bilang, dulu ndak tau nan ka dipiliah, antah rancak antah busuak…kini lah dibukak karuangnyo…e.e ruponyo Kuciang Aia sadonyo, lai juo nan lain tapi Kuciang Ijuak pulo.
Kita harus tetap berfikir optimis, bahwa dari sekian ribu calon tentu ada sebagian yang bagus… nah pilihlah yang bagus… dengan memilih yang bagus minimal kita telah ikut menghalangi yang jelek untuk dapat suara. Selain berbuat baik kita juga harus mencegah kemungkaran… setuju! Ayo memilih.

Thursday, February 7, 2013

Java Freedom Movement


Dalam sebah acara Talk Show Televisi, Bang Komar dan Bung Adi diberondong presenter dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Indonesia hari dan esok.

Berikut petikannya:


Presenter (PS): Thank you both have come on our show this ...
BK: Wait, actually I am personally indebted because you took me to the Bung Adi (BA) because it has been so long I did not meet him directly ...
PS: I mean BK ..
BA: Well, face to face since we graduated did not see him again but we both always hold imaginary contacts...
PS: Okay, okay ... now BK first, how Indonesia today according to BK?
BK: Currently, Indonesia is really messed up, peoples and governments alike panic and this is due to the legacy Pak De ...
PS: What is not due to the inability of Habibie?
BK: O instead, if whoever inherited so hard to fix it, so it is not wrong in itself but rather because Habibie, Suharto.
PS: When it comes to inheritance, can not just blame Pak De, Bung Karno also wrong! Since Suharto inherited from Bung Karno.
BK: Soeharto not inherited but win, remember me re-but! And Bung Karno Indonesia as toppled situation is not as bad now, anyways Soeharto had plenty of time to fix it, that for 32 years!
BA: I add ... it is not right that Bung Karno take the blame for his time far away distances, in addition to the Bung Karno pass in an uneven economy in other words, the social gap is not as it is today.
PS: What is the impact of the current situation for the next Indonesia BK?
BK: If the other day that the rebel areas in the Outer Islands of Java, then tomorrow, tomorrow may be happening is the emergence of Gerakan Jawa Merdeka!.
PS: How can that be?
BK: That's what I see in two months Habibie leadership, during this crisis was the most miserable people on the island of Java, now they are really hungry, losing a job, fear squeezed, easily provoked and incitement issues ... anyway particular concern among victims of another financial crisis.
PS: Looks like BK reasons not relevant to the BK Freedom Movement Java say earlier ..
BK: Well, I have not finished, so do not cut it ... in his tenure Habibie seen trying to remove the myth Noto Nogoro. After he (Habibie) itself overturns the myth that President-3 is the Javanese ... then he also shifts the Javanese from important posts. We see in the cabinet ... Mendagri, Menpen, Menaker and many others, are very much different from the percentage composition of the Outer Java Java Habibie future when compared to the Soeharto era. So is the position of the Attorney General and the DPA ... even the armed forces too. So since many Javanese people, whose position shifted then it's possible they changed their minds ... forming a Freedom of Java.
PS: If you think yourself how BA ..
BA: I think the BK say what could have happened, as we-we were outside Java were very upset ... but the name Homeland important positions are always dominated by sono, even the position of the Governor, the Regent and the Mayor of us came from the island of Java. Over the worst of all of it was done by force and not fair, you will remember when the year 1995 in Riau, Riau Ismail Original People Suko who removed and replaced with the Munandar....Munandar age fortunately not long but even so it still Jawa successor Person , is the name of native inhibit career.
PS: I come back to BK ... the military body seems not occurred De-Javanization, as Commander and Chief of its staff is the Java ...
BK: If for the position of Commander and Chief of Staff Habibie was deliberately kept to a mission ..
PS: Bang mean?
BK: For Habibie ... Wiranto and Subagyo (Army Chief of Staff) still need to be maintained in order Dejawanisasi subtle, besides that they are a tool to get people ... sono divided equally between Wiranto and we know Subagyo actually not a gang ... so they left tertus that disputes it ... further widening the two men would also slip moreover they are close to retirement age.
PS: It is also interesting ... but we also need to hear reviews of BA, because of the earlier more silent ...
BA: Yeah, I do not seem deberi chance way, but my capacity equal to BK ... and from the corner of my field, again all nothing more than a legacy of Soeharto. Soeharto for 32 years has made Indonesia the dichotomy as if it only belongs to the Java ... so that Habibie now doing Dejawanisasi I think it's a reasonable person who is not Java, which would have hurt too. During the 32 years of Soeharto membangn kingdom with buddy-buddy and his family, they act without restraint ... Prabowo dilejitkan a General when he was still inexperienced, Treasury drained and then filled with foreign loans to be drained again, worse than all the positions filled by the highest to lowest Suharto people. There is one interesting and very unusual ... a Regent (Bantul) to serve a second time to ask for help from a Ward level that is far below the bureaucratic hierarchy. In a democratic country it is not possible but because Suharto was common as has been revealed in the article entitled BK Engineering History where the employer is forced to subordinate could happen especially the headman had been a family of Suharto himself. So also with the tribes affiliated companies, all established and huge profits just by his grandfather knee capital.
PS: I think the dude is too extreme to comment ...
BA: Extreme? ... up to you to judge me so, obviously what I say it is based on the knowledge I have ... and in fact all that we have seen in the New Order but you just do not dare to say this for fear!
PS: You? ... Meaning you never talk about it at that time?
BA: For us ... me and there is no term BK Off The Record ... but it is only limited to our neighborhood ... ha.ha.ha, not so BK?
BK: Yeah ... we are from the New Order has often peeling this stuff even events now for us is not a surprise because we had previously predicted ... so if one day you hear the Freedom Movement of Java you should not be surprised because we have let.
PS: Okay then ... do you think both of whom will be sitting as the President of the 4 ... BA first-lah?
BA: Problem President to-4? If the President to-5 is clear dong ya. For the President to-3 there are some names that have the same opportunities that Amien, Megawati and Habibie.
PS: But Habibie never say that it is not willing to be nominated again become President.
BA: Ah it's amazing, she used to say so because it is new so the President, suasanany still very chaotic and yet there is delish ... now after two months of Habibie had seemed to feel so the President was indeed delicious. Now it is looking Habibie is preparing forces to be President again. While that might appear as a dark horse is Hamengkubuwono X, Try Sutrisno ..
PS: Opportunities Wiranto himself how ..
BA: I look hard and very thin chances because Wiranto, Prabowo cs enemies are ... unless there is an agreement between them ..
PS: Latest on BK, Megawati and Amien extent opportunities?
BK: The problem here ... Mega it is considered as a kinship with the people ... as long as these rulers played Mega Orba then comes a kind of spiritual and emotional bond between the people and Mega, Mega especially bears the name of Sukarno. If Amien ... I see because he consistently pushes for reform ... voiced Amar Ma'ruf  Nahi Mungkar...Amien unjust and followers too much ... but other than that I see the name Try Sutrisno got a great chance if he can hand wash or disengaged from the Tanjung Priok. But for the details, we'll wait until the special session ... after that we can see clearly who will appear as the person who will receive the key to the next palace ...
 Bukittinggi in West Sumatra, July 22, 1998