Anakku yang ketiga, Lahir di Lubuk Basung pada tanggal 16 September 2004
Saturday, November 10, 2012
Seberapa Pantas Hukuman Mati?
Pro-kontra Hukuman mati yang terjadi saat ini juga pernah
heboh-heboh pada tahun 2003. Waktu Arief
Budiman membuat tulisan pada Koran Kompas, Senin 17 Februari 2003 dengan
judul “Hukuman Mati Masih Perlukah?.
Ada kekawatiran BK akan munculnya Opini yang keliru dan salah
terhadap Vonis Hukuman Mati. Dalam tulisannya Tokoh Golput tersebut memaparkan
secara gamblang bertapa tidak berperikemanusian dan tidak manusiawinya hukuman
mati dengan alasan-alasan yang kita setujui dan sukar untuk dibantah
kenyataannya.
Apakah pendapat anda atau bagaimana perasaan anda ketika
sedang berjalan di suatu daerah kemudian melihat orang yang dihukum seperti di
Afrika… sekujur tubuhnya dikubur dan kepalanya dipimpuki batu oleh orang
banyak? atau anda
menyaksikan berita mengenai Sumiarsih yang sudah tua, sudah 14 tahun dipenjara
yang wajahnya Innoconce yang grasinya ditolak Presiden dan akan menjalani
Eksekusi Hukuman Mati dihadapan Regu Tembak? Jawabanya hukuman tersebut kejam sekali! Rasanya sulit mencari orang atau
manusia yang berlainan pendapat dengan isi tulisan Bung Arief Budiman tersebut.
Nah, disinilah kekawatiran BK terhadap Opini keliru dan salah
tersebut. Peristiwa Hukum tidak bisa
dilihat secara sepotong-potong apalagi melihatnya dari sisi luar hukum.
Pada pasal pertama Kitab Undang-Undang Hukum Pidana kita
ditegaskan bahwa, suatu Peristiwa tak dapat dikenai pidana selain atas kekuatan peraturan
perundang-undangan pidana yang mendahuluinya. Pasal tersebut
merupakan jaminan yang sangat penting bagi Keamanan Hukum, yaitu melindungi
orang-orang dari perbuatan semena-mena dari penguasa (Negara) dalam hal ini
para Hakim. Peristiwa pidana adalah suatu tindakan (berbuat atau lalai berbuat)
yang bertentangan dengan hukum positif (yang bersifat tanpa hak) yang
menimbulkan akibat hukum yang dilarang. Dalam Hukum Positif kita masih ada kejahatan yang bisa dikenai sanksi
hukuman mati yaitu kejahatan terhadap Negara, pembunuhan berencana dan
kejahatan psikotropika.
Suatu pebuatan hanya dapat dipidanakan kepada pelaku jika
pada kejadian tersebut ia menghendaki (paling tidak mengetahui) akibat yang
disebabkan oleh perbuatannya. Si Anu menembakan pistol ke arah si Badu sehingga
mengenai dada dan nyawa si Badu melayang. Karena mengakibatkan kematian si Badu
maka perbuatan (kesengajaan) si Anu itu disebut pidana dan untuk itu si Anu
seharusnya diganjar Hukuman. Tetapi sebelum palu diketok pantaskah si Anu dihukum?
Ada beberapa pengecualian sehingga seorang tidak pantas
dijatuhi hukuman yaitu menjalankan undang-undang, menjalankan perintah jabatan,
pembelaan darurat (noodweer), keadaan darurat, di bawah umur gila/tidak waras.
Dari uraian di atas bisa saja si Anu tidak dikenai hukuman
misalnya dikarenakan nyawanya terancam oleh si Badu dan benar-benar tidak ada
cara lain untuk mempertahankan nyawanya selain menembakan pistol kearah si
Badu. Bisa juga si Badu dibebaskan dari tuntutan hukum karena masih dibawah umur
atau karena tidak waras.
Kembali ke persoalan hukuman mati, yang jadi pertanyaan
bukanlah masih perlu atau tidaknya, melainkan kenapa harus dihukum mati?
Pertama sekali kita harus mengetahui alasan pembenaran
terhadap hukuman karena bagaimanapun juga hukuman itu akan terasa kejam/tidak
adil walau itu “vonis bebas” karena
telah terjadi pengadilan terhadap orang yang tidak bersalah.
Ada beberapa salasan pembenaran dijatuhkan hukuman
diantaranya:
1. Karena orang berbuat kesalahan/kejahatan
2. Supaya orang jangan berbuat kesalahan/kejahatan
3. Memperbaiki orang yang berbuat kesalahan /kejahatan
Dikaitkan dengan Sumiarsih dapat dilihat : pertama, Sumiarsih
dihukum karena Sumiarsih telah berbuat kesalahan/kejahatan. Hukuman mati
dijatuhkan kepada Sumiarsih mutlak dari suatu perbuatanya yaitu “membunuh” balasan dari kejahatan yang
dilakukannya. Sebaliknya, kalau Sumiarsih tidak berbuat melakukan
kesalahan/kejahatan maka tidak ada hukuman untuknya.
Kedua Sumiarsih dijatuhi Hukuman agar orang lain jangan
melakukan kesalahan/kejahatan sebagaimana telah dilakukan oleh Sumiarsih. Hal
ini juga untuk mencegah orang lain melakukan kesalahan/kejahatan terhadap orang
lain sekaligus untuk menciptakan rasa aman bagi masyarakat dari perbuatan
perbuatan sejenis. Dapatkah anda membayangkan jika orang yang telah membunuh
tidak dikenai hukuman, tidak dipenjara atau bebas berkeliaran disekitar kita,
tentu akan muncul rasa ketakutan dan was-was
Ketiga, Sumiarsih dijatuhi hukuman dan dipenjara adalah agar
bisa memperbaiki sikap dan perbuatanya yang tidak baik, menyadari
kesalahan/kejahatan yang telah di lakukannya.
Hal yang lebih sederhana untuk mencari alasan pembenaran
hukuman adalah dengan apa yang kita lakukan terhadap keluarga kita, terhadap
anak-anak sendiri yang berebut mainan. Kenapa anak kecil yang belum tahu mana
yang benar dan salah yang tidak bisa membedakan mana yang pantas dan tidak
tetapi kita berikan hukuman, mengurangi jatah jajannya, tidak boleh menonton
tivi atau hukuman lainnya? Jawabanya adalah tidak jauh berbeda dengan alasan
pembenaran hukuman yang di atas yaitu untuk kepentingan umum memberi rasa aman
bagi lingkungan. Mendidik perilaku seorang menjadi lebih baik dan tidak
mengulangi kesalahan/kejahatan yang telah dilakukannya.
Jadi melihat hukuman adalah tidak tepat jika hanya dilakukan
ketika hukuman itu (akan) dijatuhkan apalagi kita melihat dari sudut sosiolog
dan dilakukan tidak secara fair. Bung Arief hanya melihat dari sudut Sumiarsih
(pelaku kejahatan)?. Bagaimana dengan keluarga korban? Atau bahkan tetangganya
Sumiarsih sendiri yang ketakutan setelah terjadinnya peristiwa pembunuhan
tersebut, jangan-jangan kita juga akan
dibunuhnya.
Begitu juga komentar sinis terhadap ucapan Menteri Kehakiman
dan HAM Yusril Ihza Mahendra. Tampak sekali Tokoh Golpot tersebut tidak
membedakan Bung Yusril sebagai seorang pejabat Negara yang harus menegakkan
aturan-aturan Negara (hukum positif) dengan Bung Yusril sebagai seorang
manusia. Dimanakah kepastian hukum jika orang yang telah divonis tetapi tidak
kunjung dilaksanakan, padahal telah melalui proses yang sangat panjang.
Negara kita telah menetapkan rambu-rambu hukum yang cukup
jelas dimana banyak kesempatan buat seseorang untuk membuktikan dirinya tidak
bersalah, salah ssatu dengan adanya Azas Presumption Of Innocence, Praduga Tak
bersalah; seorang itu dianggap tidak bersalah sebelum adanya keputusan hakim
yang bersifat tetap. Jika pada pengadilan tingkat pertama telah dinyatakan
bersalah masih ada 3 (tiga) upaya yang bisa dilakukan untuk membuktikan bahwa
vonis tersebut adalah keliru yaitu Bandig, Kasasi dan Peninjauan Kembali.
Hukum Pidana juga bukan hubungan antara seorang dengan
seseorang yang lain tetapi menyangkut hubungan seorang dengan Negara. Dalam hal
ini Negara berhak dan berkewajiban menegakkan peraturan undang-undang pidana
yang telah dibuat. Dimana jika terjadi suatu tindak pidana walaupun tanpa
adanya laporan ataupun pengaduan dari masyarakat maupun si korban, maka Negara
melalui aparatnya (Polisi/Jaksa) berkewajiban untuk mengusutnya. Lain halnya
dalam hukuman perdata yang menyangkut hubungan antara seseorang dengan orang
lain, jika salah satu diantaranya orang yang bermasalah tidak mengajukan
gugatan maka tidak akan ada pengadilan atau bisa saja sidang yang sedang
digelar dihentikan jika kedua belah pihak yang bertikai damai.
Bahwa banyak orang melakukan tindak kriminal disebabkan oleh
kemiskinan sebagaimana dikatakan Bung Arief adalah kenyataan saat ini. Tetapi
menghapuskan hukuman mati dalam keadaan Negara Indonesia saat ini adalah hal
yang sangat konyol. Sebagaimana tergambar dalam jajak pendapat Kompas mengenai
hukuman mati, sebagian besar responden memilih setuju hukuman mati untuk kasus
pembunuhan, pemerkosaan, terorisme,
pengedar/pemilik narkoba, dan korupsi. Dari jajak pendapat tersebut juga
tergambar bahwa kejahatan yang sering terjadi di Indonesia bukan semata karena
tekanan ekonomi. Kejahatan-kejahatan tersebut bukan hanya mengakibatkan
kerugian meteril tetapi mampu membuat Negara dalam keadaan kolaps.
Akhirnya kepada Bung Arief Budiman, kita patut berterimakasih
atas ke-sensitif-annya dalam melihat hukuman mati dan tulisan ini bukan
dimaksud untuk menantang beliau, dan juga bukannya tidak bersimpati kepada
Sumiarsih (dan terpidana mati lainnya) tetapi adalah untuk menjelaskan seberapa
pantas hukuman itu dijatuhkan.
Friday, November 9, 2012
FC. Nnyeleneh Gus Dur
Ibaratkan
permainan sepak bola pemerintahan di bawah kepemimpinan Gus Dur laksana sebuah
Tim Nasional yang berjuang untuk lolos
ke tahun 2004. Bagaimanakah peluang klub yang bernama Football Collection
Nyeleneh Gus Dur tersebut? Jawabannya, sangat tipis bahkan bisa terjungkal
sebelum sampai ketahun tersebut. FC. Nyeleneh Gus Dur butuh keajaiban untuk
lolos dari babak kualifikasi.
Hal ini
disebabkan sejak awal pembentukan Tim ini sudah tidak fair, Gus Dur diangkat
sebagai Alenatore karena Mega dianggap tidak berpengalaman walaupun FC.
Bulls-nya menjadi scudetto dalam liga domestik. Di samping itu pengangkatan Gus
Dur sebagai pengganti carateker pelatih Habibie juga untuk mengakhiri dominasi
FC. Beringin di Liga Indonesia selama 32
tahun dengan cara tidak fair yaitu terlibat kasus suap dengan mengatur skor
pertandingan.
Gus Dur yang
sebelumnya sudah terkenal kontroversial dianggap mampu untuk mengatasi krisis
prestasi, walaupun FCKB yang didukung para Nahdiyin tidak mempunyai prestasi bagus
dalam Liga tahun 1999 bahkan masuk zona Champion pun tidak. Pilihan terhadap
Gus Dur ini berdasarkan ide dari Alenatore FC. SUN Sir. Amin Rais dan didukung
oleh Alenatore FC. Ka’bah Hamzah Haz.
Serta Alenatore FC. Starmoon Mr. Yusril.
Ternyata sifat
kontroversial Gus Dur tidak berubah setelah memegang pucuk pimpinan Tim
Nasional yang bernama FC. Nyeleneh.
Dalam perekrutan pemain Gus Dur sangat ceroboh. Banyak pemain yang belum
pantas masuk tim nasional direkrut dan juga banyak pemain yang tidak dimainkan
pada posisi ideal. Pemain yang mempunyai naluri menyerang (bomber) ditempatkan
pada posisi center back sehingga pemain tersebut ikut-ikutan menyerang sehingga
pertahanan menjadi longgar.
Juga sifat Gus
Dur yang sangat suka gonta-ganti pemain mengakibatkan tidak adanya kekompakan
dalam FC. Nyeleneh. Dimulai dengan mengganti 3 (tiga) starter sekaligus yaitu
Laksamana, Kwik dan Jusuf Kala padahal ketiga pemain tersebut mempunyai
semangat bertanding yang cukup bagus. Dan kesalahan terbesar Gus Dur dalam melakukan
rotasi pemain adalah ketika mencoret Yusril dari teamnya dan memasukan Lopa
yang notabene telah lanjut usia. Banyak suporter dan pengamat menyayangkan
sikap Gus Dur tersebut. Gus Dur beralasan Yusril terlalu suka berimprovisasi
dan tidak mau bermain sesuai skema, Yusril sering tidak sependapat dengan
strategi yang diterapkan Gus Dur. Juga kesalahan besar dengan memasang Rizal R
sebagai Striker karena dia tidak mempunyai kecepatan dan insting yang bagus,
apalagi kepalanya kurang bagus untuk memanfaatkan bola-bola atas.
Gus Dur juga
dianggap terlibat dalam pengaturan skor ketika turnamen Bulog Cup, adalah
diluar dugaan pengamat manapun kesebelasan FC. Suwondo mampu menjuarai Bulog
Cup dengan membobol gawang lawan sebesar 35 gol dan hanya kebobolan oleh Gus
Dur yang ikut bermain sebesar 5 gol. Itupun berkat umpan matang yang disodorkan
Farika. Padahal semua orang tahu FC. Suwondo hanya kesebelasan tukang pijit
antar kampung dimana Gus Dur merupakan salah satu anggota Fans Clubnya.
Hal lain yang
menjadi sorotan para pengamat adalah sifat Gus Dur yang suka mengeluarkan press
release yang memancing keributan antar suporter. Memang semua orang mangakui
banyak suporter fanatik sejak Gus Dur menjadi alenatore tetapi itu tidak
mendukung tim secara keseluruhan tetapi lebih kepada sosok Gus Dur semata.
Tindakan-tindakan suporter Gus Dur ini sudah menjurus kearah sikap ala Hooligans
asal Liverpool Inggris dan Tifosi Romanisti Italia serta suporter asal Turki.
Di luar lapangan
Gus Dur juga begitu, diisukan ada affair dengan Aryati dan sering ke luar kota
sehingga program latihan Timnas tidak berjalan dengan baik. Bahkan ketika ada
kerusuhan yang melibatkan suporter fanatiknya, Gus Dur malah pergi rileks ke
Luar kota.
Dan ketika dalam
rapat evaluasi Gus Dur diberi Rekomendasi oleh para pengamat agar memperbaiki
kinerja timnya secara keseluruhan, Gus Dur berkelit dengan alasan yang tidak
masuk diakal dan seiring dengan itu Suporter Gus Dur mengamuk menghancurkan
markas FC. Beringin. Para Suporter Fanatik Gus Dur belakangan memang sering
bentrok dengan para suporter lain,tidak peduli apakah itu dikandang mereka atau
dikandang lawan. Tetapi sebetulnya para Suporter Gus Dur tersebut patut
dikasihani setelah terlibat bentrok di Kalimantan.
Gus Dur tidak
mempunyai hubungan baik dengan pihak keamanan dimana Gus Dur mengganti
penanggung jawab keamanan secara sepihak dengan alasan tidak bisa menangkap
para perusuh. Padahal semua orang tahu Gus Dur sendiri sempat mengadakan
pertemuan dengan pemimpin perusuh sebelum gembong perusuh tersebut menghilang.
Yang paling membahayakan
posisi Gus Dur sebagai Alenatore sekaligus FC. Nyelenehnya adalah hubungan yang
tidak baik dengan para pengamat. Gus Dur tidak satupun menerima saran-saran dan
kritik-krtitik yang disampaika para pengamat. Ketika para pengamat mengusulkan
dua nama sebagai calon ketua komisi wasit, Gus Dur menolaknya. Padahal dua nama
tersebut telah di seleksi dan diteliti betul-betul oleh para pengamat diantara
calon-calon lainya. Bahkan karena kurang sreknya atas sikap para pengamat, Gus
Dur sempat mengeluarkan statemen bahwa para pengamat tersebut adalah kelompok
kesebelasan dibawah umur.
Dan saat ini
ketika para pengamat kembali mengadakan evaluasi atas kinerja FC. Nyeleneh Gus
Dur dan kemungkinan besar akan keluar rekomendasi kedua maka nasib Gus Dur
benar-banar di ujung tanduk. Gus Dur dengan FC. Nyelenehnya praktis hanya bisa
menerapkan taktik Catenaccio akibat
kurang tajamnya para ujung tombak dan kerasnya serangan kesebelasan lawan.
FC. Nyeleneh dan Gus Dur besar kemungkinan
tidak akan mencapai tahun 2004. Bahkan Gus Dur sendiri bisa-bisa diberi
sanksi tidak diperbolehkan lagi berkecimpung dalam dunia sepakbola untuk seumur hidup.
Sebagai
pengganti Gus Dur sebagai alenatore besar kemungkinan adalah Mega, dan Mega telah dianggap bisa karena telah 2
tahun menjadi asisten Alenatore Timnas.
Perawang Riau, 28
April 2001
Semoga Lekas Berakhir
Matahari mulai
temaran… mencari tempat peraduannya, namun di sekitar Rumah Bung Adi (BA) masih
saja terdengar suara senapan mesin kaliber SS-1 terus menyalak tiada henti… dan
ledakan bom bersahut-sahut meluluhlantahkan bangunan-bangunan yang ada.
“kali ini, berapa nyawa lagi?”, desis BA
sambil membetulkan ikatan kain sarung yang hampir terlepas, sementara itu istri
BA terus saja bergulat dengan do’a-do’anya di hamparan sajadah… memohon agar
tragedi pahit ini lekas berakhir.
“Hanya demi mempertahankan kata-kata
persatuan dan kesatuan… demi sebuah lagu dari Sabang sampai Merauke… nyawa
manusia tidak lagi berarti” lagi-lagi BA berbicara sendiri seolah-olah ikut
meramaikan suara pertempuran yang sedang terjadi. Dan ketika suara-suara
senapan mesin itu tidak berhenti juga, BA kembali mengumpat,” Kalera… dasar serdadu… dari Tantama sampai
Jenderal otaknya sama.. bunuh.. bunuh”.
“Undahlah Bang… jangan terus mengumpat, mari
kita memohon kepada yang maha kuasa agar derita ini berakhir” ujar istri BA
dari kamar tempat dia melakukan prosesi do’a-do’anya.
Karena tidak
tahan untuk terus mengumpat sendirian… BA segara melakukan kontak imajiner
dengan BK untuk berbagi cerita….
BA: Maaf BK, karena saya telah mengganggu topo
broto BK… tetapi ini sangat urgent dan butuh advis dari BK.
BK: Tidak
apa-apa, lha wong BK juga terus memantau perkembangan Indonesia secara
keseluruhan dan Aceh lewat berbagai sumber berita.
BA: Begini… situasi Aceh semakin tidak kondusif
walau Pak Harto telah digantikan oleh Habibie, dan Habibie digantikan oleh Gus
Dur… bahkan saat ini di Jakarta elit-elit politik semakin sibuk cakar-cakaran
untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.
BK: Itu kan
bagian dari dinamika bangsa ini yang terus saja bergejolak dari zaman Bung
Karno sampai hari ini ketika seorang Kiai yang khost memimpin,… dan sebenarnya
ini sudah BK deteksi pada awal tahun 1996! (Baca tulisan: Rekayasa Sejarah Part
2, Bang Komar Datang 19011996)… bahkan ketika saat ini berkembang isu Madura
Merdeka atau Jawa Timur Merdeka… sedikitpun BK tidak merasa kaget karena kita
sudah membahasnya pada tahun 1998 (baca tulisan: Gerakan Jawa Merdeka
22071998)… pada saat tersebut sebenarnya BK sudah mewanti-wanti bahwa akan ada
peristiwa seperti kejadian hari ini.
BA: Tetapi begini lo BK… kenapa disaat dunia
semakin modern dan beradab serta negara-negara di dunia mulai meninggalkan
budaya-budaya kekerasan, budaya fasis… eh di Indonesia malah semakin tumbuh
subur praktek-praktek kekerasan kemudian selalu menggunakan pola-pola
pendekatan militeristik untuk menyelesaikannya.
BK: Begini Bung…
Peran militer dalam pergulatan sejarah negeri ini sangatlah dominan, memang ada
keinginan untuk mengontrolnya tetapi apa yang diterima… mereka lantas
menodongkan moncong meriam ke Istana! Kalau sudah begitu siapa yang berani?.
Militer seperti yang BA ketahui sangat identik dengan kekerasan, teroganisir
dengan baik, terkomando dan mohon maaf… nggak ada istilah demokrasi dalam dunia
militer… jika sudah merupakan Perintah Atasan! Maka tidak ada alasan apapun
untuk tidak melaksanakannya. BA tentu masih ingat Kasus Tanjung Priok, Kasus
Dili, Kasus Sampang Madura, dan terakhir Kasus Tri Sakti… membuktikan bahwa
jika sudah ada kata-kata,.. “ini Perintah! Kopral!”… maka takkan ada jawaban
lain kecuali,” Siap, Laksanakan!”. Jadi ketika ada upaya-upaya melengserkan
militer dari percaturan politik sipil, mereka akan langsung bereaksi.
BA: Reaksi itu berupa apa BK.
BK: Ya.. itu,
kerusuhan-kerusuhan diberbagai tempat dengan mengusung Isu Jawanisasi, Islam
non Islam, anti komunitas serta yang terjadi di Aceh ini… Separatis! Dan mereka
yang katanya perisai negara dengan serta merta akan menjadi pihak yang terdepan
untuk diminta bantuannya, tetapi bantuan itu tentu ada pamrihnya.
BA: Contonya..
BK: Loloskan UU
PKB (Penanggulangan Keadaan Bahaya), memperpanjang kedudukan TNI/POLRI dalam
parlemen, militer tidak mau jadi alat penguasa serta hak-hak previled lainnya.
BA: Lantas bagaimana relevansinya dengan situasi
mutakhir di Nangro Kami?
BK: Saya sepakat
dengan pemikiran BA bahwa militer mempunyai andil yang sangat banyak dalam
pergolakan di Aceh dan sejarah membuktikan pendekatan militeristik bukannya menyelesaikan
masalah tetapi malah menimbulkan masalah-masalah baru dan itu akan terus
terjadi bila tidak ditempuh penyelesaian yang konfrehensif… sejarah mencatat
ada lebih dari 4 Operasi Militer yang pernah digelar di Aceh sejak Belanda
berkuasa sampai sekarang dan jumlah nyawa yang melayang sudah tidak terhitung,
ibu-ibu yang menjadi janda, anak-anak yang menjadi Yatim Piatu… sungguh ini
suatu tragedi yang memilukan. Tetapi BK sebagai calon Raja V akan berusaha
terus untuk mencari solusi dalam mengatasi semua masalah yang terjadi di
Indonesia termasuk di Tanah Rencong ini.
BA: Terimakasih BK, walaupun nantinya solusi
yang BK dapat tidak cukup siknifikan namun yang terpenting bisa mengobati hati
kami yang terluka ini, dan akhirnya saya mengucapkan terimakasih atas waktunya
dan BK silahkan melanjutkan Topo Brotonya.
BK: Terimakasih
juga atas pertemuannya, BK berjanji akan terus mencermati sedalem-dalemnya
perkembangan yang terjadi di Aceh.
(BA menghela
nafas panjang bertanda puas atas percakapan imajiner dengan BK… dan ketika
melihat ke kamar, kelihatan istri BA tertidur pulas sambil tersenyum dibibirnya
yang indah… mungkinkah dia bermimpi tentang Aceh masa depan yang mirip Bandar
Seri Begawan Brunai…….)
Banda Aceh, 30
April 2001
Thursday, November 8, 2012
Pelajaran dari “GAMPO”!
Belakangan Gempa sudah menjadi momok
yang sangat menakutkan bagi masyarakat kita, goyang sedikit semua pada
berhamburan keluar rumah, ke luar gedung menghindar agar tidak tertimpa
bagunan. Fenomena ini disebabkan bahwa kita tidak mempercayai bangunan-bangunan
yang ada sekarang, padahal semua itu di rancang oleh para arsitektur yang telah
bersekolah tinggi dengan menggunakan bahan beton, semen dan besi. Bagaimana
tidak, jangankan rumah penduduk, Rumah Bagonjong Kantor Gubernur Sumatra Barat
yang dibangun dengan biaya besar itu terancam ambruk, membuat semua pegawai
termasuk Gubernur dan Wakil Gubernur tidak lagi nyaman di dalamnya.
Mengingat daerah kita yang rawan Gempa,
inyiak moyang urang awak telah mengantisipasinya dengan membuat bangunan berupa
Rumah Gadang yang dilukiskan dengan kata-kata Rumah Gadang sambilan ruang,
salanjo kudo manari, sapakiak budak maimbau, sajariah kubin malayang, gonjong
rabuang mambasuik, parabuangannyo si ulu gerang, jariahnyo puyuah balari, tiang
panjang maharajo lelo.
Walaupun tegaknya tidak vertikal dan
terlihat mudah roboh, Rumah Gadang sangat tahan terhadap guncangan gempa maupun
terpaan angin puting beliung. Para insinyur bangunan-bangunan Minang tempo
doeloe telah merancang bangunan sesuai dengan kondisi alam, bukan sekedar
pemanfaatan apa yang ada pada waktu itu, tetapi sesuai dangan teori urang awak
“bakarano bakajadian”, tidak mempergunakan paku bukan karena sekedar karena
belum ada paku waktu itu tetapi karena dengan menggunakan “pasak” yang
berfungsi sebagai engsel bangunan menjadi fleksibel ketika gempa mengguncang.
Sayangnya karya monumental tersebut
hanya kita sikapi sebagai sebuah warisan seni bukan sebagai wasiat, kita hanya
membuat Rumah Gadang untuk museum sejarah tempat bernostalgia. Kita hanya
meniru-niru “gonjong”nya pada bagunan-bangunan kantor, halte bus dan gerbang
pagar. Kita tidak pernah mau untuk menggali dan mengkaji, baa kok bagonjong?
Baa kok tiangnyo indak ditanam ka dalam tanah?
Salah satu pesan penting dari permukaan
dinding depan Rumah Gadang penuh dengan ukiran-ukiran yaitu “Alam Takambang
Jadi Guru”. Untuk jika akhirnya Kantor Gubernur kita memang benar-benar ambruk,
hendaknya dimaknai bukan sebagai runtuhnya sebuah bangunan gedung, tatapi
sebagai sebuah peringatan bahwa kita telah salah menjalankan “wasiat”.
Kita bangga menjadi orang Minangkabau,
karena adat budaya dan alamnya sangat indah tiada duanya di dunia ini sehingga
banyak di kunjungi banyak turis. Tetapi kita meniggalkan semua apa yang dikagumi
orang lain itu, kita tidak lagi seperti orang Minang, bertutur, berpakaian,
bergaul, bermasyarakat, daerah kita tidak lagi mencerminkan Ranah Minang. Tak
ada lagi Rumah Gadang Bagonjong Limo kecuali di “Kebun Bintang” Bukittinggi dan
di Minang Village Padang Panjang. Tak ada lagi pasar tradisional, tak ada lagi
amai-amai yang manggaleh karena semua berubah jadi Mall dengan pelayan
gadis-gadis muda yang cantik. Kita tidak sadar telah terbuai dengan mimpi hidup
di masa depan, kita merasa malu dengan semua pernak-pernik Tradisional Kuno
Minangkabau.
Tidak cukup kuatkah gempa kemarin
membuat kita sadar untuk kembali ke khittah Minangkabau?.
Wednesday, November 7, 2012
APBD Hotel Berbintang
Pembahasan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) merupakan agenda tahunan yang penting, dan pada akhir
tahun ini beberapa Pemda telah sibuk-sibuk menyusun dan melaksanakan
agenda pembahasan Rancangan APBD karena meenurut aturannya APBD seharusnya
ditetapkan paling lambat satu bulan sebelum tahun anggaran berjalan.
Karena APBD pada hakekatnya merupakan
alat untuk mewujudkan kesejahteraan seluruh rakyat, oleh karena itu dalam
setiap proses penyusunan dan penetapannya, rakyat berhak untuk terlibat ikut
campur agar tercipta anggaran sebagai manifestasi dari prinsip-prinsip
kedaulatan rakyat dan keadilan sosial.
Hingga saat ini masih banyak diantara
kita yang salah dalam memahami APBD, indikasinya adalah kesadaran kita sebagai
rakyat akan haknya atas anggaran masih sangat rendah, kita menganggap APBD
sebagai wewenangnya DPRD dengan Pemda. Di sisi lain kesadaran Pemda dan DPRD akan kewajibannya atas anggaran juga
sangat rendah yang menganggap APBD hanya untuk Kepala Daerah dan Aparatur Pemda
serta para Anggota DPRD. Kontrol terhadap anggaran pun belum berjalan dengan
baik, APBD dianggap sebagai Dokumen Rahasia Negara sehingga pembahasannya pun
dilakukan secara rahasia, dilakukan secara tertutup dengan hanya melibatkan
“segelintir orang” di hotel-hotel berbintang.
Mungkin karena pengaruh “kemewahan
hotel” struktur dan bentuk APBD yang berjalan selama ini lebih memakmurkan
Pejabat/Pegawai Pemda dari pada pro kesejahteraan rakyat. Sebanyak 60% dari
Uang APBD dipergunakan untuk belanja pegawai dan hanya 40% untuk belanja
publik. Uang Rakyat tersebut lebih banyak dihabiskan untuk perjalanan dinas,
pembelian mobil dinas, biaya makan minum, honorarium dan tunjangan daerah, alat
tulis kantor serta ongkos kegiatan rapat dan Diklat yang dilaksanakan di
Hotel-hotel berbintang.
Ketika para Kepala Daerah Gubernur:
Bupati/Walikota atau anggota Legislatif dan Pengurus Parpol, masih mengatakan
akan selalu memperjuangkan program-program yang prorakyat, mengatasi
pengangguran, menuntaskan kemiskinan, pendidikan gratis atau akan
mensejahterakan rakyat, sementara anggaran untuk itu sangat kecil. Itu pantas
kita tanyakan, bagaimana caranya?
Biaya rapat di Hotel Berbintang jelas
sangat besar, di samping itu bisa disebut pemborosan karena setiap Pemda telah
mempunyai gedung kantor yang dilengkapi dengan fasilitas tempat rapat.
Dan yang patut kita renungkan, jika rapat penyusunan APBD dilakukan di Hotel Berbintang apakah mungkin dokumen penting tersebut bisa merepresentasikan kebutuhan dan aspirasi rakyat. Atau, ketika para panitia anggaran tersebut dimanjakan dengan suasana kemewahan, masih sempatkah mereka memikirkan rakyat miskin yang hidup di gubuk berlantaikan tanah?.
Dan yang patut kita renungkan, jika rapat penyusunan APBD dilakukan di Hotel Berbintang apakah mungkin dokumen penting tersebut bisa merepresentasikan kebutuhan dan aspirasi rakyat. Atau, ketika para panitia anggaran tersebut dimanjakan dengan suasana kemewahan, masih sempatkah mereka memikirkan rakyat miskin yang hidup di gubuk berlantaikan tanah?.
Tuesday, November 6, 2012
Rindu Minangkabau
Mau dibawa kemana atau mau dijadikan apa
Sumatra Barat 20 Tahun ke depan? Mungkin itu pertanyaan pokok ditengah-tengah
lokakarya penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Sumatra
Barat yang sedang berlangsung. Secara ekstrim tak perlu RPJP! Karena saat ini
Sumatra Barat sudah hebat di segala bidang! Para Bupati dan Walikota kita sangat
banyak yang berprestasi, Anugrah ini, Satya Lencana itu, Piala dan pigam silih
berganti dibawa dari Istana Presiden di Jakarta. Bahkan banyak daerah punya
visi dan misi yang sangat rancak, Kota Beriman, Kabupaten Madani. Pembangunan
sudah sangat pesat, jalan-jalan sudah diaspal, by pas, dua jalur bahkan tak
lama lagi kita akan mempunyai jalan layang di kelok 9.
Tetapi jikok diinok-inokan bana,
kemajuan Sumatra Barat yang ada saat ini hanyalah pembangunan fisik belaka.
Kita membangun Sumatra Barat dengan citra Minangkabau tanpa membangkitkan roh
Minangkabau yang telah lama hilang. Kita rindu pada Minangkabau tetapi tidak
tahu cara mengobati rasa taragak tersebut. Kita hanya membuat gonjong-gonjong
pada bangunan kantor, gerbang batas daerah, halte dan banguna wisata. Kita
memasang marawa merah-kuning-hitam hanya sebagai umbul-umbul. Banyak dari kita yang
Batagak Pangulu ketika akan ada alek demokrasi. Kita berbahasa minang ketika
kehabisan kosa kata Bahasa Indonesia dalam berbicara. Bahkan kita memberi nama
Minangkabau pada Bandar Udara Internasional sebagai tanda Minangkabau itu di
Sumatra Barat.
Kita terjebak pada visi dan misi yang
sangat jauh ke depan sehingga kita lupa awal tempat kita berpijak. Kita terlalu
ingin cepat berhasil padahal kita butuh proses. Kita memasang plang daerah
sebagai kota Beriman tetapi sangat banyak kejadian dan perbuatan maksiat di
dalamnya. Kita bangga menyebut diri sebagai Kabupaten Madani tetapi di setiap
sudut banyak kedai koa dan domino yang ramai ketika kumandang azan terdengar.
Mesjid dan surau kita banyak tetapi lengang, anak-anak sekolah kita berpakaian
muslim tetapi kelakuan mereka….?
Oleh karena itu, yang kita butuhkan saat
ini dan nantinya adalah character building sebagai Urang Minang yang beradat,
kita tak perlu ikut gaya orang lain. Karena itulah yang membuat orang lain
kenal Sumatra Barat, doeloe ada Hatta, Agus Salim, Syahrir, Hamka dan banyak
lagi yang lain, yang punya reputasi bukan hanya Nasional tetapi juga Internasional.
Kita dikenal sebagai gudangnya orang pintar, jujur dan religius. Daerah kita
dikenal sangat aman dan nyaman sebagai tujuan menimba ilmu bagi yang muda dan
berlibur bagi orang yang berduit. Untuk itu kita harus kembali menggali,
menghidupkan dan menbangkitkan Minangkabau sesungguhnya. Kesimpulan RPJP kita
seharusnya adalah Mambangkik Batang Tarandam.
Catatan :
Tulisan ini dimuat di Harian Haluan
edisi Seninn tanggal 30 Juli 2007, Hal 1
Saturday, October 13, 2012
Beberapa Catatan Pendek
Podo Wae!
Dulu, BK pernah diwawancarai
Si-En-En di kampong halaman, dan BK pernah keluarkan pernyataan “ bahwa untuk
tahu politik tidak harus baca Koran atau nonton televise karena kedua media
massa itu tak lepas dari intervensi penguasa saat itu. Namun satu hal yang
jelas, hidup ini bagai roda… berputar dan berputar… ada kalanya di atas,
kemudian di bawah dan kembali lagi ke atas”.
Jadi saat ini adalah pengulangan
dari sejarah masa silam… begitu juga dengan Orde Baru. Kemarin, esok dan suatu
saat nanti juga akan muncul lagi orde seperti orde yang kemarin telah tumbang.
… Saat ini harga beras
Rp.4.000/kg… masyarakat berteriak, Mahaaal!!
Memang begitulah nasib rakyat
kita, selalu susah! Dari dudlu hingga kini, dari zaman kompeni, zaman Bung
Karno, Zaman Pak Harto, Era Habibie… sampai zaman beribu tahun mendatang. Tahun
1955 walau harga beras “Cuma” Rp.2/kg tetap saja rakyat tidak mampu membelinya.
Jadi yang terpenting bukan
menurunkan harga, tetapi adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan
daya beli. Walau harga beras diturunkan sampai Rp.cepek/kg… kalau memang rakyat
tidak punya duit… ya tetap saja mahal namanya!
Air Bersih, Medan-Sumut, 12
September 1998
Wiranto
Ada satu kecemasan dalam diri BK
saat ini melihat gelagat bahwa Mahasiswa kembali berunjuk rasa menuntut Habibie
mundur. Kalau hal ini terus terjadi dan Mahasiswa benar-benar bersikeras
meminta Habibie turun maka yang akan naik adalah Wiranto.
Jadi baiknya menurut BK adalah
tunggu saja sampai Pemilu!.
Air Bersih, Medan-Sumut, 13
September 1998
I Don’t Belived
Salah masalah mendasar yang
ditanggung pemerintahan Habibie adalah rakyat tidak percaya lagi pada
Pemerintah. Semua ini adalah akibat Rezim ORBA yang terlalu banyak mengumbar
janji tetapi tidak pernah ditepati.
Pada saat ini rakyat sudah jenuh
mendengar janji. Bahkan mendengar Siaran Pers Pemerintah kita merasa kesal…
tidak percaya. Padahal mungkin saja apa yang dikatakan itu benar, tetapi kita
terlanjur sudah trauma. Bahkan kita saat ini cenderung jadi mudah curiga.
Kadang niat baik atau rencana itu
memang perlu dipublikasikan tetapi itulah… rakyat sudah tidak percaya lagi
omongan pemerintah. Andi M. Ghalib mengatakan akan mengusut tuntas harta Pak
Harto… tetapi mana buktinya dan kapan lagi?
… malah sekarang timbul lagi rasa
curiga.
Jangan-jangan Pemilu bukan tahun
depan tetapi 3 atau 5 tahun lagi…!
Air Bersih, Medan-Sumut, 15
September 1998
Anda ingat tokoh Megaloman?
Anda ingat Mega Jackson?
Anda tentu juga belum lupa akan
kata Megabintang, Mega Sinetron?
Sekarang perhatikan judul di
atas, Megawati!
BK artikan Wanita Super karena
biasanya kata Mega yang dilekatkan pada kata lainnya adalah untuk melukiskan
bahwa sesuatu yang ditempeli Mega itu benar-benar luar biasa!
Rasanya juga, tidak salah Bung
Karno member anak perempuannya itu nama Megawati karena pada saat ini Megawati
telah membuktikan bahwa dia pantas menyandang nama itu. Walaupun sepanjang Orde
Baru dia dikurung, dikerjain, dihimpit, dipinggirkan dan ditutupi (selain
berarti sangat luar biasa, Mega juga berarti Awan) dia terus membubung ke
Angkasa. Bahkan saat ini Mega nyaris tidak terjangkau oleh mereka yang dulunya
suka mengusik-ngusiknya.
Besok, Mega akan “baralek gadang”
di Bali dimana banyak orang yang akan datang dan juga banyak yang tidak datang.
Banyak yang datang karena diundang dan memang ingin datang. Banyak yang tidak
bisa datang karena tidak diundang dan sebenarnya ingin datang.
Megawati,
Yang dulu salah sekarang benar,
itu ditanganmu… yang dulu tidak bisa apa-apa sekarang bisa berbuat apa saja,
itu juga ada padamu. Dunia telah berbalik, itu ada padamu.
Semoga kau tidak membuat
kesalahan berulang karena kau cukup berpengalaman, semoga.
Jl. Buton, Padang-Sumbar, 7
Oktober 1998
Dari kumpulan tulisan Kamaruddin
dalam Buku : Bang Komar –
Prediksi, Khayalan,
Pikiran dan Doa-doa.
Semua Bisa saja Terjadi
Sampit rusuh!, ratusan bangkai
manusia tergeletak bersimbah darah… ribuan rakyat terbirit-birit meninggalkan
tanah Kalimantan.
Rasanya hampir sempurna musibah
yang kita alami… Aceh yang terus bergejolak, Medan dilanda bencana tanah
longsor, Sumbar dihantam Galodo, Jambi direndam Bajir, Bengkulu diguncang
gempa, Kalimantan perang etnis, Sulawesi juga dilanda bencana, Maluku terus
perang Agama, Jawa…
Pokoknya hampir setiap jengkal tanah
air Indonesia mengalami bencana. Jika ada yang merasa belum kena…
bersiap-siaplah! Jika anda berada di pulau Bali… siap-siaplah mungkin besok
anda dan seluruh yang berada di pulau Bali akan digulung ombak!
Apa itu mungkin?
Apa sih yang tidak mungkin yang
bisa terjadi di Indonesia saat ini. Apa pun bisa terjadi dan itu tidak pernah
kita duga sebelumnya. BK juga tidak menduga dan hamper tidak percaya kampong
BK… Gumarang-Palembayan akan didatangi pengungsi walau Cuma dari desa tetangga
yang kena Galodo. Padahal menurut sejarah orang tua-tua… belum pernah ada hujan
sederas hari itu hingga mengakibatkan Galodo di desa tetangga itu.
Begitu juga dengan isu, “Anak
Zarima (Ratu Ekstasi) itu hasil kerjaan Amien Rais”. Siapa sih yang menduga aka
nada isu seperti itu dan siapa sih yang akan percaya? Kalau isunya,”Anak Zarima
itu hasil kerjaan si Urdeng atau Aminullah”, mungkin masih ada orang yang
percaya.
Dengan keadaan Indonesia seperti
ini, kita jangan cepat-cepat percaya dengan apa yang kita lihat, baca atau
dengan apa yang kita dengar…
Malam Natal beberapa kota
diguncang Bom. Pemerintah termasuk Gus Dur menuding ada pihak yang
mengorganisir… tuduhan diarahkan pada orang-orang Orde Baru termasuk Tommy
Soeharto.
Apakah hal yang mustahil jika
parade ledakan Bom tersebut sebenarnya diorganisir pemerintah agar timbul kesan
saat ini pemerintah memang sering di-usil-in orang.
Begitu juga dengan isu yang
menyudutkan Amien Rais. Secara umum orang tentu menilai itu pasti ulah
orang-orang yang tidak suka dan berniat menjatuhkan Amien Rais. Padahal juga
bukan suatu hal yang mustahil bahwa itu sengaja ditiupkan oleh orang-orang
Amien Rais sendiri untuk menciptakan opini bahwa ada orang yang berniat jahat
pada Amien Rais.
Sangat banyak hal yang pantas
kita curigai sebagai seatu yang sekadar “menyenang-nyenangkan hati” kita saja
dan hal itu seharusnya kita tertawakan karena lucu dan konyol!
Para aparat pemerintah
bersemangat untuk segera menangkap Tommy Soeharto tetapi rencana dan tempat
yang mau digebrek sudah diekspose ke public! Apa hal itu tidak konyol, kalau
kita (polisi) ngomong sama pencuri: Lu
tunggu disana ya… entar kami dating untuk nagkep lu!
Ya… begitulah Bangsa kita hingga
saat ini. Walau telah 4 orang duduk di Kursi yang di mejanya ada papan nama
Presiden RI… tidak ada satupun yang berhasil. Bung Karno mencoba menumbuhkan
sikap nasionalisme pada rakyat tetapi tidak cocok karena waktu itu rakyat lebih
butuh penyangga perut. Soeharto datang dan membangun ekonomi, member rakyat
makan, membangun jalan dan sekolah… tetapi ternyata dana tersebut berasal dari
utang luar negeri, sementara uang kas Negara dipakai untuk membangun ekonomi
keluarganya.
Habibie masuk menggantikan
Soeharto dengan misi “Reformasi” tetapi yang muncul malah paham primodialisme
sehingga daerah-daerah menyempal dari NKRI. Gus Dur yang dimajukan mencoba
dengan gagasan “Demokrasi” dimana beda pendapat dan persepsi itu suatu hal yang
lumrah, tetapi apa yang terjadi? Yusril Ihza Mahendra saja di-PHK jadi Menteri
karena beda pendapat. Bahkan saking semangatnya dengan Demokrasi… Gus Dur beda
pendapat dengan MUI soal Aji No Moto.
Jadi Prediksi BK sebelumnya
adalah benar (baca tulisan mengenai : Habibie
dan Pemilu, 15071998) Saat ini kita (Indonesia) telah terhempas bagaikan tapai
jatuh ke aspal panas… sulit sekali untuk pulih dan mungkin butuh 10 sampai 20
tahun.
Perawang-Riau, 28 Februari 2001
Dari kumpulan tulisan Kamaruddin
dalam Buku : Bang Komar –
Prediksi, Khayalan,
Pikiran dan Doa-doa.
Subscribe to:
Posts (Atom)










