Manjua gantang balilih
Mambali gantang balanjuang
Gadang batuka jo nan ketek, nan ketek maimbuah pulo...nan kalamak untuk nyo surang,
Ciluah...., diharago lai samo tapi timbangan dimainkannyo
Takaran gantang diagiahnyo ganja
Sitokar baganti ganti, nan duduak di cc nan itu juo...mangutuak panumpang sa oto
Bak si lupak raok di buruan, cangok makan ka kanyang surang, sia mandakek kanai birunguih kalua saiang panjangnyo ....padohal basamo mangko ka rabah.
Dalam maangkek Dubalang jo Manti..
Walau mamatuih kapandaian, utak jalang karajo sungguah tapi ndak sasalero jo Sipatokah jan diharok ka tapakai...
Bialah binguang utak maampek namuah mairik aua songsang karambia rabah dipanjeknyo tapi pandai mauruik kaki Sipatokah atau santiang manjujai Ratu diangkek juo jadi Dubalang atau Manti.
Sipatokah juo bak kacang lupo jo kulik, kawan lamo disisiah dicimburui, bahkan ditundo kalua kampuang. Balupoan jaso pandayuang katiko lah tibo di subarang, lupo pulo jo jaso tanah dek manih raso tabu. Padohal mereka tu dulunyo banyak sato bajariah, basangkan bakuhampeh manaiakkan Sipatokah ka Balai Janggo.
Sumber : Rajo Sipatokah karya Yus Dt Parpatiah.
Saturday, August 27, 2016
Tuesday, August 9, 2016
Pilih mana, Dikhianati atau Mencintai Musuh ?
Usainya pesta
rakyat yang hinggar binggar ternyata meninggalkan kegalauan pada Rajo
Sipatokah. Dari perjalanan pesta tersebut Rajo Sipatokah banyak menemui
kejadian yang tidak pernah disangka akan terjadi. Dikhianati orang-orang
kepercayaannya dan pada saat yang sama dia jatuh cinta pada orang yang
dijadikan musuh.Pengkhianatan, mengingatnya saja terasa sangat menyakitkan sampai ke sumsum tulang karena apa yang otak kita simpulkan berbeda dengan kenyataannya. Kesetiaan dibalas dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang kita beri kepercayaan, sesuatu yang tidak akan disangka dan inilah terjadi pada kita.
Banyak cerita tentang pengkhianatan, dan mungkin yang paling terkenal adalah cerita tentang pengkhianatan Marcus Brutus. Sehingga banyak kisah pengkhianatan diidentikan Brutus, karakternya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya, bahkan mempercayainya. Karakter ini hampir selalu muncul dalam pergulatan hidup, bahkan politik.
Brutus adalah kemenakan laki-laki dari Kaisar Romawi Julius Caesar. Marcus Junius Brutus bergabung dengan Senat di Roma setelah awal karirnya sangat sukses sebagai seorang rentenir. Ia adalah orang yang sangat dipercaya Julius Caesar. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati.
Sebaliknya, sebagian dari kita mungkin cukup sering mengalami peristiwa
nyaris mati, tapi bukan betarti dengan begitu kita jadi terbiasa. Dan
ketika kita kembali harus berhadapan dengan kematian, yang sangat
berbeda dari yang sebelumnya. Jika sebelumnya kita bisa melarikan diri
dari orang yang kita takuti, atau…kita bisa melawan orang yang Kita
benci. Bahkan, mungkin kita sangat siap menghadapi “pengancam
keselamatan” itu atau musuh sekalipun.
Tetapi, bila kita jatuh cinta dan akhirnya benar-benar mencintai orang yang akan membunuh atau musuh itu, dan kita tak punya pilihan lain. Bagaimana kita bisa melarikan diri?, bagaimana kita bisa melawan?, karena jika melakukannya…melarikan diri atau melawannya berarti meninggalkannya atau bahkan mencelakakan orang yang kita cintai?
Bukankah cinta itu bisa membuat gila, dan ketika nyawa kita satu-satunya yang harus diberikan untuk orang yang benar-benar kita cintai, apakah mungkin kita tidak memberikannya?
Bagi Rajo Sipatokah keduanya merupakan kejadian yang sangat berat dan menguras banyak energinya. Kalau bukan seorang Sipatokah maka tak seorang Raja pun dapat melalui kedua peristiwa tersebut. Bahkan banyak kita tidak menginginkan kedua hal itu terjadi diri kita.
Tetapi karena ini pilihan, jika itu yang harus terjadi apakah yang akan anda pilih ? Dikhianati atau Mencintai Musuh?
Tetapi, bila kita jatuh cinta dan akhirnya benar-benar mencintai orang yang akan membunuh atau musuh itu, dan kita tak punya pilihan lain. Bagaimana kita bisa melarikan diri?, bagaimana kita bisa melawan?, karena jika melakukannya…melarikan diri atau melawannya berarti meninggalkannya atau bahkan mencelakakan orang yang kita cintai?
Bukankah cinta itu bisa membuat gila, dan ketika nyawa kita satu-satunya yang harus diberikan untuk orang yang benar-benar kita cintai, apakah mungkin kita tidak memberikannya?
Bagi Rajo Sipatokah keduanya merupakan kejadian yang sangat berat dan menguras banyak energinya. Kalau bukan seorang Sipatokah maka tak seorang Raja pun dapat melalui kedua peristiwa tersebut. Bahkan banyak kita tidak menginginkan kedua hal itu terjadi diri kita.
Tetapi karena ini pilihan, jika itu yang harus terjadi apakah yang akan anda pilih ? Dikhianati atau Mencintai Musuh?
Saturday, June 25, 2016
Perdana Menteri Pilihan Sipatokah
Rajo Sipatokah tidak henti-hentinya membuat “gaduh”, kali ini dia kembali membuat khalayak ramai terkejut alang kepalang ketika menunjuk Sutan Malenggang menjadi Perdana Menteri yang baru menggantikan Malin Tuangku, Perdana Menteri yang lengser keprabon. Sutan Malenggang yang ditunjuk Rajo Sipatokah menjadi Perdana Menteri bukanlah orang dalam istana melainkan orang luar istana yang jauh dari perkiraan banyak orang.
Pengangkatan Malenggang sebagai Perdana Menteri membuat banyak pihak yang ikut berkomentar. Sebab sejak awal nama Sutan Malenggang tidak pernah terpikirkan oleh khalayak ramai bakal dipilih sebagai Perdana Menteri menggantikan Malin Tuangku. Banyak masyarakat beranggapan bahwa yang bakal menjadi Perdana Menteri berikutnya adalah orang dalam istana yaitu Sutan Dilangik atau Tuangku Mudo. Kedua orang ini terlihat sangat ngotot mengincar kursi Perdana Menteri.
Dari sekian banyak tabib yang ada di kerajaan, hanya satu tabib yang meramalkan bahwa Perdana Menterui pengganti akan berasal dari luar istana. Ramalan tabib tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri mundur. Dan bagi kebanyakan orang ramalan tabib tersebut dianggap nyeleneh dan mengada-ngada. Tetapi kenyataannya, saat ini ramalan tabib tersebutlah menjadi satu-satunya ramalan yang tepat sasaran.
Penunjukan orang luar istana inilah yang menimbulkan pertanyaan, apakah kelebihannya dari calon dari dalam istana?, apakah orang luar itu bisa memahami kondisi dan suasana dalam istana? atau calon dari dalam istana tersebut tersangkut suatu perkara sehingga tidak layak ditunjuk?. Mayoritas masyarakat mendukung keputusan Rajo Sipatokah menunjuk orang luar menjadi Perdana Menteri. Karena mereka yakin, itu adalah solusi dari persaingan yang semakin panas antara Sutan Dilangik dengan Tuangku Mudo. Kalau salah satu dari mereka yang diangkat menjadi Perdana Menteri maka bisa terjadi pergolakan dalam istana antara kelompok Sutan Dilangik dengan kelompok Tuangku Mudo.
Selain itu, masyarakat juga yakin semua abdi dalem akan patuh dan taat terhadap keputusan Sipatokah yang terkenal karna matanya selalu merah dan tidak pandai tertawa. Tidak akan ada yang akan membantah, paling cuma, “mambulalang dalam kalam” atau “mangecek2 di bulakang” karena Sipatokah mempunyai jaringan intelijen yang kuat. Barang siapa yang menggugat keputusan Rajo Sipatokah akan diberikan hukuman buang.
Namun ada juga yang khawatir dengan keputusan Rajo Sipatokah tersebut. Dan yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah karena Malenggang bukan orang dalam sehingga nantinya sulit mengkonsolidasikan para Abdi Dalem. Apalagi para abdi dalem telah terkelompok karena adanya persaingan memperebutkan kursi Perdana Menteri tersebut.
Salah satu kelompok yang disebut sebagai kelompok garis keras dalam lingkungan istana adalah kelompok yang dipimpin Sutan Dilangik. Kelompok ini sangat kecewa dengan gagalnya Sutan Dilangik menjadi Perdana Menteri karena ini merupakan kegagalan kedua kalinya bagi Sutan Dilangik menjadi Pejabat Tinggi di lingkungan Istana. Apalagi pada suatu kesempatan Rajo Sipatokah pernah terucap akan menunjuk Sutan Dilangik sebagai Perdana Menteri jika berhasil menguasai daerah tundukan baru.
Tetapi keberadaan kelompok ini tidak disukai banyak masyarakat karena sering menggunakan cara-cara tidak fair dalam mencapai tujuannya.
Entah apa yang akan dilakukan Sutan Dilangik menyikapi kegagalannya menjadi Perdana Menteri dan apa pula posisi baru yang akan diberikan Rajo Sipatokah untuk Sutan Dilangik, mari kita tunggu cerita selanjutnya!
Dari sekian banyak tabib yang ada di kerajaan, hanya satu tabib yang meramalkan bahwa Perdana Menterui pengganti akan berasal dari luar istana. Ramalan tabib tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri mundur. Dan bagi kebanyakan orang ramalan tabib tersebut dianggap nyeleneh dan mengada-ngada. Tetapi kenyataannya, saat ini ramalan tabib tersebutlah menjadi satu-satunya ramalan yang tepat sasaran.
Penunjukan orang luar istana inilah yang menimbulkan pertanyaan, apakah kelebihannya dari calon dari dalam istana?, apakah orang luar itu bisa memahami kondisi dan suasana dalam istana? atau calon dari dalam istana tersebut tersangkut suatu perkara sehingga tidak layak ditunjuk?. Mayoritas masyarakat mendukung keputusan Rajo Sipatokah menunjuk orang luar menjadi Perdana Menteri. Karena mereka yakin, itu adalah solusi dari persaingan yang semakin panas antara Sutan Dilangik dengan Tuangku Mudo. Kalau salah satu dari mereka yang diangkat menjadi Perdana Menteri maka bisa terjadi pergolakan dalam istana antara kelompok Sutan Dilangik dengan kelompok Tuangku Mudo.
Selain itu, masyarakat juga yakin semua abdi dalem akan patuh dan taat terhadap keputusan Sipatokah yang terkenal karna matanya selalu merah dan tidak pandai tertawa. Tidak akan ada yang akan membantah, paling cuma, “mambulalang dalam kalam” atau “mangecek2 di bulakang” karena Sipatokah mempunyai jaringan intelijen yang kuat. Barang siapa yang menggugat keputusan Rajo Sipatokah akan diberikan hukuman buang.
Namun ada juga yang khawatir dengan keputusan Rajo Sipatokah tersebut. Dan yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah karena Malenggang bukan orang dalam sehingga nantinya sulit mengkonsolidasikan para Abdi Dalem. Apalagi para abdi dalem telah terkelompok karena adanya persaingan memperebutkan kursi Perdana Menteri tersebut.
Salah satu kelompok yang disebut sebagai kelompok garis keras dalam lingkungan istana adalah kelompok yang dipimpin Sutan Dilangik. Kelompok ini sangat kecewa dengan gagalnya Sutan Dilangik menjadi Perdana Menteri karena ini merupakan kegagalan kedua kalinya bagi Sutan Dilangik menjadi Pejabat Tinggi di lingkungan Istana. Apalagi pada suatu kesempatan Rajo Sipatokah pernah terucap akan menunjuk Sutan Dilangik sebagai Perdana Menteri jika berhasil menguasai daerah tundukan baru.
Tetapi keberadaan kelompok ini tidak disukai banyak masyarakat karena sering menggunakan cara-cara tidak fair dalam mencapai tujuannya.
Entah apa yang akan dilakukan Sutan Dilangik menyikapi kegagalannya menjadi Perdana Menteri dan apa pula posisi baru yang akan diberikan Rajo Sipatokah untuk Sutan Dilangik, mari kita tunggu cerita selanjutnya!
Saturday, May 28, 2016
Sipatokah Mencari Perdana Menteri
Gaduh-gaduh akibat kentut Rajo Sipatokah tempo hari ternyata berbuntut panjang. Pro kontra kentut Raja membuat suhu politik memanas. Bukan hanya di luar istana, pro kontra juga merambah ke dalam Istana, melibatkan Abdi Dalem, Dayang-dayang, Hubalang dan para petinggi Istana.
Jumlah yang pro (yang menganggap Kentut Raja Sewangi Parfum Paris) kalah jauh dengan jumlah yang kontra. Kondisi ini membuat suasana Istana tidak kondusif dan membuat Perdana Menteri memilih Lengser keprabon karena tidak berdaya mengatasi kondisi tersebut.
Lengsernya Perdana Menteri ternyata tidak mampu menurunkan suhu panas dalam Istana. Walaupun Rajo Sipatokah berkali-kali mengatakan bahwa kondisi dalam istana sangat kondusif, tetapi khalayak ramai tahu bahwa kondisi istana bagai api dalam sekam.
Para Abdi Dalem yang kontra dengan bau kentut Raja dikeluarkan dari Istana dan ditugaskan menjadi penggarap lahan pertanian dan peternakan kerajaan. Mereka tidak diperbolehkan lagi menginjak lingkungan Istana.
Di kalangan petinggi istana juga terjadi persaingan merebut hati Rajo Sipatokah supaya diangkat menjadi Perdana Menteri. Rajo Sipatokah sesusai tradisi kerajaan telah mengumumkan bahwa Perdana Menteri yang baru akan dilantik setelah 3 kali purnama yaitu pada saat musim panen pertanian. Waktu 3 kali purnama tersebut merupakan kesempatan bagi Raja untuk melakukan pemilaian terhadap para petinggi istana yang memenuhi syarat menjadi Perdana Menteri.
Dari beberapa petinggi istana, ada dua orang yang sangat ngotot menjadi Perdana Menteri. Kedua orang ini oleh Rajo Sipatokah mendapat perhatian khusus. Tingkah polah kedua pejabat ini kadang membuat Sipatokah sering tersenyum geli. Kedua orang ini merupakan tokoh sentral pro Kentut Raja Sewangi Parfum Paris.
Yang satu sangat jago mengkampanyekan pencitraan Rajo Sipatokah di media massa, yang satu lagi jago melakukan pencitraan di depan khalayak. Tetapi kedua orang ini saling menjelekan maupun terhadap para kompetitor lainnya.
Sipatokah sangat paham perangai maupun gelagat kedua orang ini. Khalayak ramai sangat menunggu siapakah gerangan yang akan dipilih Sipatokah menjadi Perdana Menteri. Ketika ada salah seorang Kepala Suku bertanya siapa diantara kedua orang itu yang akan dipilih menjadi Perdana Menteri?
Sambil tersenyum cimeeh, Raja Sipatokah menjawab, "hehe...tunggu tanggal mainnya !"
Lengsernya Perdana Menteri ternyata tidak mampu menurunkan suhu panas dalam Istana. Walaupun Rajo Sipatokah berkali-kali mengatakan bahwa kondisi dalam istana sangat kondusif, tetapi khalayak ramai tahu bahwa kondisi istana bagai api dalam sekam.
Para Abdi Dalem yang kontra dengan bau kentut Raja dikeluarkan dari Istana dan ditugaskan menjadi penggarap lahan pertanian dan peternakan kerajaan. Mereka tidak diperbolehkan lagi menginjak lingkungan Istana.
Di kalangan petinggi istana juga terjadi persaingan merebut hati Rajo Sipatokah supaya diangkat menjadi Perdana Menteri. Rajo Sipatokah sesusai tradisi kerajaan telah mengumumkan bahwa Perdana Menteri yang baru akan dilantik setelah 3 kali purnama yaitu pada saat musim panen pertanian. Waktu 3 kali purnama tersebut merupakan kesempatan bagi Raja untuk melakukan pemilaian terhadap para petinggi istana yang memenuhi syarat menjadi Perdana Menteri.
Dari beberapa petinggi istana, ada dua orang yang sangat ngotot menjadi Perdana Menteri. Kedua orang ini oleh Rajo Sipatokah mendapat perhatian khusus. Tingkah polah kedua pejabat ini kadang membuat Sipatokah sering tersenyum geli. Kedua orang ini merupakan tokoh sentral pro Kentut Raja Sewangi Parfum Paris.
Yang satu sangat jago mengkampanyekan pencitraan Rajo Sipatokah di media massa, yang satu lagi jago melakukan pencitraan di depan khalayak. Tetapi kedua orang ini saling menjelekan maupun terhadap para kompetitor lainnya.
Sipatokah sangat paham perangai maupun gelagat kedua orang ini. Khalayak ramai sangat menunggu siapakah gerangan yang akan dipilih Sipatokah menjadi Perdana Menteri. Ketika ada salah seorang Kepala Suku bertanya siapa diantara kedua orang itu yang akan dipilih menjadi Perdana Menteri?
Sambil tersenyum cimeeh, Raja Sipatokah menjawab, "hehe...tunggu tanggal mainnya !"
Tubikontinyu....
Lubuk Basung, 28 Mei 2016
Saturday, April 2, 2016
Kentut dan Wangi Parfum Paris
Belakangan Rajo Sipatokah sering terkentut. Hal itu tentu saja membuat para Abdi Dalem merasa tidak nyaman.
Para Tabib Istana pun berusaha memberikan ramuan supaya Rajo Sipatokah tidak kentut lagi. Tetapi ramuan para Tabib tidak mempan, kentut Rajo Sipatokah tetap saja berlaput-laput.
Lama kelamaan karena kebiasaan kentut tersebut, rakyat menjuluki Rajo Sipatokah dsngan sebutan Raja Kentut.
Julukan tersebut tentu saja membuat berang para Petinggi Istana dan Hulubalang Rajo Sipatokah. Setiap ada rakyat yang mempergunjingkan kentut, para Hulubalang langsung mendatangi rakyat.
"Apa kalian yakin kalau yang kentut itu Tuanku Baginda Rajo Sipatokah ?", tanya Hulubalang.
"Iya, kami sangat yakin seyakin-yakinnya !!", jawab rakyat.
"Kenapa kalian yakin ? Sedangkan kentut itu tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi cuma bisa didengar dan dicium. Bisa jadi bukan Tuanku Baginda tetapi orang yang disamping beliau" Hulubalang berusaha menyakinkan rakyat bahwa bukan Raja yang kentut.
"Tidak mungkin ada orang lain berani kentut dekat Raja, kalau pun ada yang kebelet pasti akan ditahannya sekuat tenaga!! " sambung rakyat.
Karena tidak berhasil meyakinkan publik bahwa Raja bukan sering kentut. Istana mempersiapkan Tim Penanggulangan Kentut yang terdiri dari para relawan dan tim sukses Rajo Sipatokah. Mereka akan bertugas mencaunter isu Raja Kentut.
Dalam sebuah pertemuan yang dhadiri Tim Penanggulangan Kentut dan hatters serta rakyat yang tidak suka kebiasaan kentut Rajo Sipatokah.
"Sekarang kami bertanya pada saudara-saudara semua, Kentut itu baik atau buruk ?" Tanya ketua Tim memulai diskusi.
"Sekarang begini saja Ketua, tidak usah kita terlalu mendramatisir keadaan. Kami tahu arah pertanyaan Ketua...kalau kami menjawab "baik"...maka Ketua akan mengatakan "Karena kentut itu baik maka itu sebabnya Raja sering kentut...membagi-bagi kebaikan. Jika kami jawab "buruk" maka Ketua akan mwngatakan "Karena kentut itu buruk maka itu sebabnya Raja sering kentut...membuang keburukan ", ujar seorang rakyat.
"Ketua,....siapapun tahu bahwa siapa yang Kentut itu sulit dideteksi...tapi kalau boleh kami berpesan kepada pihak Istana dan para pendukung Raja,..janganlah terlalu over loyalis...mati2an membela Raja, lebay...!! Apapun yang dilakukan Raja selalu dipuja-puji bahkan kentut Raja pun dibilang baik dan wangi seperti parfum paris !!. Itu sama saja membiarkan Raja berada dalam kebiasaan yang membuat orang sekelilingnya tidak nyaman"..tukas rakyat yang lain.
Lubuk Basung, 1 April 2016
Wednesday, March 9, 2016
Siti Manggopoh, dan Jenderal Nasution pun Kagum padanya.
“Ya.
Saya sangat menyesal karena tidak semua tentara Belanda di benteng Manggopoh
dibantai. Saya menyesal karena hanya 53 yang terbunuh. Saya menyesal karena ada
dua orang yang lolos dan mengadu kepada kalian sehingga Nagari kami
diporak-poranda!”
Itulah
yang diucapkan Siti Manggopoh ketika diinterogasi tentara Belanda, apakah dia
menyesali perbuatannya menyerang markas pasukan Belanda di Manggopoh sehingga
kemudian dicari-cari, ditahan dan diancam dengan hukuman gantung. Siti
Manggopoh memimpin Perang Belasting di Nagari Manggopoh yang terletak di
wilayah barat Kabupaten Agam, 100 KM dari Kota Padang dan 60 KM dari Bukittinggi
(Siti Manggopoh dan Perang Belasting-Berdikarionline).
Siti
Manggopoh atau Mandeh Siti memang tidak setenar Raden Ajeng Kartini yang telah
diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena surat-suratnya diterbitkan menjadi
buku berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) oleh
Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda yang menjadi
sahabat penanya. Tetapi kisahnya menjadi buah bibir turun temurun dan setiap tahun
peristiwa Perang Manggopoh selalu diperingati Pemerintah Kabupaten Agam serta
ada sebuah patung di Simpang Gudang Manggopoh Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten
Agam menggambarkan Siti Manggopoh sebagai sosok pemimpin bagak (pemberani).
Sewaktu
menjadi menjadi Inspektur pada peringatan peristiwa Manggopoh di halaman Kantor
Camat Lubuk Basung pada tahun 2015 yang lalu,
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dalam sambutannya menyampaikan, peristiwa
perang Manggopoh merupakan bentuk perlawanan orang Minang atas perilaku
penjajah yang terjadi pada tahun 1908 itu. “Peristiwa Manggopoh ini kita
peringati karena keberanian pejuang untuk melawan Belanda. Selain di Manggopoh
juga ada di Perang Kamang. Peristiwa itu bukan aksi biasa apalagi dipimpin
seorang perempuan yang dikenal dengan panggilan Siti Manggopoh,” Pada kesempatan tersebut masyarakat Agam,
khususnya mengusulkan Siti Manggopoh dijadikan
Pahlawan Nasional, karena atas jasa-jasanya dalam mempertahankan hak atas
tanah leluhurnya.
Pengusulan Siti Manggopoh menjadi pahlawan nasional telah
berulang kali dilakukan, dan pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Agam kembali
mengusulkan tiga pejuang perang belasteng 1908 (Perang Kamang dan Perang
Manggopoh) untuk dijadikan Pahlawan Nasional yaitu Siti Manggopoh, Abdul
Manan dan Datuk Radjo Penghulu. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Agam akan
melengkapi dokumen serta mengadakan Seminar Nasional guna memenuhi persyaratan
pengusulan tersebut. Pada tanggal 11 November 2008,
dalam rangka se-abad kebangkitan nasional, Masyarakat Sejarawan Indonesia
cabang Sumatera Barat juga pernah mengadakan seminar Internasional yang
bertemakan Perlawanan Anti-Belasting dan Gerakan Kemajuan di Sumatera Barat
1908-2008 di View Parai Resort Bukittinggi, Kab. Agam.
Terlepas
dari persyaratan administrasi dan prosedural, Siti Manggopoh memenuhi semua
unsur yang dipersyaratkan Pasal 26 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009
tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan.
Gelar
Pahlawan Nasional diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan
yang semasa hidupnya; pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau
perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut,
mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan
bangsa; tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; melakukan pengabdian
dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas
yang diembannya; pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat
menunjang pembangunan bangsa dan negara; pernah menghasilkan karya besar yang
bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat
dan martabat bangsa; memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
dan martabat bangsa; memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
Kisah heroik Siti Manggopoh bermula ketika Pemerintah
Kolonial Belanda pada tanggal 21 Februari 1908 mengeluarkan aturan tentang
penerapan pajak langsung atau yang dikenal dengan istilah Belasting di Sumatera
Barat yang mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 1908. Belasting tersebut terdiri
dari hoofd
belasting (pajak kepala), inkomsten belasting (pajak pemasukan suatu
barang/cukai), hedendisten (pajak rodi), landrente (pajak tanah), wins
belasting (pajak kemenangan/keuntungan), meubels belasting (pajak rumah
tangga), slach belasting (pajak penyembelihan), tabak belasting (pajak
tembakau), dan adat huizen belasting (pajak rumah adat). Penerapan Pajak-pajak tersebut
sontak menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat. Penolakan terhadap
kebijakan pemerintah Belanda itu merebak diberbagai wilayah di Sumatera Barat.
Belanda diangap telah melanggar kesepakatan yang dibuat 65 tahun silam yang
tertuang dalam Plakat Panjang. Perlawanan terhadap penerapan pajak mulai
memakan korban dengan terjadinya serangkaian perang yang kemudian dikenal
dengan istilah perang pajak. Diantara perlawanan tersebut yang paling ternama
adalah Perang Kamang dan Perang Manggopoh.
Siti
Manggopoh yang waktu itu berusia sekitar 28 tahun melakukan perlawanan terhadap
penindasan yang dilakukan Tentara Kolonial Belanda. Pada tanggal 16 Juni 1908,
tengah malam buta Siti Manggopoh memimpin 16 orang rekannya melakukan penyerbuan
ke markas pasukan kavaleri Belanda di Ketinggian, wilayah antara Bukit Bunian
Berpuncak Tujuh, jaraknya dua kilo meter dari Pasar Manggopoh. 53 dari 55 pasukan
Belanda berhasil dibunuh oleh Siti Manggopoh bersama rekan-rekannya hanya dengan
bersenjatan ruduih (golok) dan keris.
Atas
kejadian tersebut, keesokan harinya bala bantuan tentara belanda didatangkan
dari luar Lubuk Basung untuk mencari Siti Manggopoh. Setelah 17 hari dilakukan pencarian, akhirnya Siti Manggopoh
dan suaminya menyerahkan diri kepada Belanda karena bumi hangus yang dilakukan
terhadap Nagari Manggopoh. Belanda memasukkan Siti Manggopoh dan Suaminya Rasyid
ke penjara secara terpisah. Siti Manggopoh dan Suaminya mendekam dipenjara
selama 14 bulan di penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman dan 12 bulan
di Padang. Selanjutnya, Rasyid divonis hukuman dibuang ke Menado dan meninggal
di Tondano.
Setelah
Republik ini merdeka pada tahun 1945, Siti Manggopoh dan kisahnya sempat
terlupakan. Baru pada tahun 1957, orang
mulai mengingat akan perjuangan heroik Siti Manggopoh. Pemerintah Sumatera
Tengah yang beribukota di Bukittinggi mengirim satu tim ke Lubuk Basung dan
memberikan bantuan ala kadarnya. Siti Manggopoh merasa senang. Bantuan yang ia
terima dijadikannya sebagai modal untuk membuka warung kecil di depan rumahnya.
Pada tahun 1960, Kepala Staf
Angkatan Darat Jend. Nasution mendengar cerita heroik perjuangan Siti Manggopoh.
Ia sangat terharu sekali atas keperkasaan Siti Manggopoh. Akhirnya ia
memutuskan untuk datang ke Manggopoh untuk menemui Siti Manggopoh. Ia
mengalungkan selendang kepada Siti Manggopoh sebagai lambang kegigihan dan
keberaniannya melawan penjajahan. Masyarakat Manggopoh jadi haru ketika Jend.
Nasution membopong dan mencium wajah tua keriput itu. Pada tahun 1964, Menteri
Sosial mengeluarkan Sk tertanggal 17 November 1964 No. Pal. 1379/64/P.K yang
isinya menyatakan bahwa Siti Manggopoh berhak menerima tunjangan atas jasa
kepahlawanannya sebesar Rp 850,-. Tetapi kabarnya hanya sekali saja Siti
Manggopoh menerima tunjangan tersebut.
Gelar Pahlawan Nasional memang seharusnya (kembali)
diberikan terhadap Siti Manggopoh, karena perjuangannya telah diakui Pemerintah
melalui Jenderal Besar AH. Nasution pada tahun 1964 dan dengan SK Menteri
Sosial tahun 1964 yang sekaligus memberikan tunjangan atas kepahlawanannya.
*dari berbagai sumber.
Lubuk Basung, 9 Maret 2016
Thursday, February 11, 2016
Catatan Pllkada Agam : Pertandingan Final
Pertandingan Final itu telah usai, Peluit panjang tanda berakhirnya permainan telah dibunyikan wasit, ball possesions menunjukkan angka 47% - 53%, Tidak ada lagi tambahan waktu, apalagi adu pinalti !
Sebagian penonton telah meninggalkan stadion, pulang...dan umumnya itu suporter Tim yang kalah.
Sekarang tinggal menunggu waktu penyerahan Piala dan bonus bagi Sang Juara !
Anehnya, biarpun pertandingan telah game over, masih terdengar gemuruh suara dari para suporter. Bukan hanya dari suporter dan tim yang kalah, tetapi juga dari suporter dan tim yang telah dinyatakan menang.
Suporter dan Tim yang kalah....biasa lah, meratap....menuding pertandingan tidak berjalan normal, Wasit tidak fair, hakim garis tidak becus.
Suporter dan Tim yang menang pun....anehnya berlaku seperti kelompok yang kalah pula. Meratap !..Saling unjuk jasa, bahkan juga saling tuding...seharusnya kita lebih mendominasi permainan. Lebih parahnya, mereka ikut meratap melihat yg kalah meratapi kekalahan.
Sudah lah,...yang kalah biarkan meratap,...biarkan saja. Yang menang, bersorak lah, bergembira lah.
Seharusnya setelah pertandingan usai, saling bersalaman dan bertukar baju kaos....!
#catatanpilkada
Serangan Balik!
Usainya Pilkada tak membuat suhu Kabupaten Agam mereda walaupun pemenang telah dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Agam periode 2016 – 2021. Hari ini dari berita di koran, ada 2 peristiwa yang membuat panasnya Pilkada Agam kemarin masih terasa hingga kini.
Pertama, pengunduran diri Syafirman, SH dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Agam. Syafirman mengundurkan diri menjelang usia pensiun sebagai Aparatur Sipil Negara (PNS). Kedua, Ketua DPRD Agam Marga Indra Putra melaporkan Wakil Ketua DPRD Agam Suherman ke Badan Kehormatan (BK).
PNS dan masyarakat Agam khususnya di Lubuk Basung bertanya-tanya ada apa gerangan Syafirman sampai minta mundur? bukankah sampai waktu pensiun itu Bupati juga tidak akan memberhentikan/mutasi Sekda maupun PNS lainnya karena ada aturan yang melarangnya.
Setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Agam terpilih, suasana dipermukaan terlihat biasa-biasa tetapi di media sosial Facebook terjadi pem-buly-an terhadap beberapa pejabat yang dianggap tidak mendukung pasangan pemenang Pilkada. Dari situ publik jadi tahu bahwa ada pertarungan diantara para pejabat di Kabupaten Agam selama Pilkada kemarin, ada praktek dukung-mendukung.
Apa yang kita baca dari pengunduran diri Syafirman atau yang akrab disapa Pak Cap atau Uncu Cap ? berbagai pandangan dan komentar dapat kita lihat dari status2 yang ada di FB maupun media cetak.
Bagi saya, pengunduran Syafirman yang merupakan salah seorang pemangku Jabatan Sekda terlama di republik ini, 8 tahun! Ini bukan pengunduran biasa!!. Pak Syafirman merupakan pejabat yang sangat loyal terhadap atasannya, tidak pernah menolak atau membantah perintah atasan. Beliau juga dikenal sangat sabar, dari raut wajahnya tergambar bahwa beliau “bersih” dan bahu serta gestur beliau selalu menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang tinggi hati. Artinya, beliau sangat kuat terhadap tekanan! Artinya beliau mundur bukan karena tekanan.
Saya melihat, pengunduran diri yang dilakukan beliau merupakan sebuah “serangan balik” dan pukulan telak terhadap pihak2 tertentu. Bisa jadi mereka yang mengharap sesuatu menjadi buluih.
Lubuk Basung 23 Februari 2016
Sebagian penonton telah meninggalkan stadion, pulang...dan umumnya itu suporter Tim yang kalah.
Sekarang tinggal menunggu waktu penyerahan Piala dan bonus bagi Sang Juara !
Anehnya, biarpun pertandingan telah game over, masih terdengar gemuruh suara dari para suporter. Bukan hanya dari suporter dan tim yang kalah, tetapi juga dari suporter dan tim yang telah dinyatakan menang.
Suporter dan Tim yang kalah....biasa lah, meratap....menuding pertandingan tidak berjalan normal, Wasit tidak fair, hakim garis tidak becus.
Suporter dan Tim yang menang pun....anehnya berlaku seperti kelompok yang kalah pula. Meratap !..Saling unjuk jasa, bahkan juga saling tuding...seharusnya kita lebih mendominasi permainan. Lebih parahnya, mereka ikut meratap melihat yg kalah meratapi kekalahan.
Sudah lah,...yang kalah biarkan meratap,...biarkan saja. Yang menang, bersorak lah, bergembira lah.
Seharusnya setelah pertandingan usai, saling bersalaman dan bertukar baju kaos....!
#catatanpilkada
Serangan Balik!
Usainya Pilkada tak membuat suhu Kabupaten Agam mereda walaupun pemenang telah dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Agam periode 2016 – 2021. Hari ini dari berita di koran, ada 2 peristiwa yang membuat panasnya Pilkada Agam kemarin masih terasa hingga kini.
Pertama, pengunduran diri Syafirman, SH dari jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Agam. Syafirman mengundurkan diri menjelang usia pensiun sebagai Aparatur Sipil Negara (PNS). Kedua, Ketua DPRD Agam Marga Indra Putra melaporkan Wakil Ketua DPRD Agam Suherman ke Badan Kehormatan (BK).
PNS dan masyarakat Agam khususnya di Lubuk Basung bertanya-tanya ada apa gerangan Syafirman sampai minta mundur? bukankah sampai waktu pensiun itu Bupati juga tidak akan memberhentikan/mutasi Sekda maupun PNS lainnya karena ada aturan yang melarangnya.
Setelah pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Agam terpilih, suasana dipermukaan terlihat biasa-biasa tetapi di media sosial Facebook terjadi pem-buly-an terhadap beberapa pejabat yang dianggap tidak mendukung pasangan pemenang Pilkada. Dari situ publik jadi tahu bahwa ada pertarungan diantara para pejabat di Kabupaten Agam selama Pilkada kemarin, ada praktek dukung-mendukung.
Apa yang kita baca dari pengunduran diri Syafirman atau yang akrab disapa Pak Cap atau Uncu Cap ? berbagai pandangan dan komentar dapat kita lihat dari status2 yang ada di FB maupun media cetak.
Bagi saya, pengunduran Syafirman yang merupakan salah seorang pemangku Jabatan Sekda terlama di republik ini, 8 tahun! Ini bukan pengunduran biasa!!. Pak Syafirman merupakan pejabat yang sangat loyal terhadap atasannya, tidak pernah menolak atau membantah perintah atasan. Beliau juga dikenal sangat sabar, dari raut wajahnya tergambar bahwa beliau “bersih” dan bahu serta gestur beliau selalu menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang tinggi hati. Artinya, beliau sangat kuat terhadap tekanan! Artinya beliau mundur bukan karena tekanan.
Saya melihat, pengunduran diri yang dilakukan beliau merupakan sebuah “serangan balik” dan pukulan telak terhadap pihak2 tertentu. Bisa jadi mereka yang mengharap sesuatu menjadi buluih.
Lubuk Basung 23 Februari 2016
Wednesday, February 10, 2016
Beda Ahok dengan Akuan
Pada awal 2000 an saya pernah bekerja pada perusahaan milik "orang China" dan disana saya kenal dan bergaul dg orang China. Nama mereka hampir semuanya diawali dengan huruf A. Ada Atan, Asu, Ahong, dan yang cukup akrab namanya Akuan.
Akuan ini orangnya suka sekali berjudi, togel, taruhan bola...sama dengan banyak China lainnya. Katanya sih biar cepat kaya. Dan itu "biasa" asal tidak menyakiti orang lain. Dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain.
Akuan suka bersahabat, sama halnya dengan orang kita bersahabat. Jika sudah akrab maka kita juga akan diajak berkunjung kerumahnya. Dan dia pun akan berkunjung kerumah kita. Tidak ada beda dengan cara orang kita bersahabat.
Pernah suatu waktu saya dikasih ikan, ketika saya tanya dapat dari mana. Rupanya ikan itu dia curi dari kolam ikan perusahaan yang sangat dilarang untuk dipancing oleh karyawan.
Walau berbeda Tuhan, mereka sangat menghargai dan menghormati cara kita beragama. Kalau sudah akrab, mereka tidak sungkan mengingatkan kita untuk shalat, atau berbuka ketika bulan puasa. Bahkan cenderung orang kita yang kurang menghargai mereka "beribadah".
Ketika diajak bicara tentang negara atau kebangsaan, mereka memang tidak tertarik...kesan yang terlihat adalah, untuk apa bicara nasionalisme toh tidak ada tempat buat kami "mengabdi" buat Indonesia.
Itulah kira2 gambaran Akuan yang saya kenal yang saat ini jadi wirausaha karena perusahaan tempat kami bekerja dulu sudah tutup, tetapi Ciliandra Fangiono salah seorang anak pemilik perusahaan itu saat ini masuk 20 besar daftar orang terkaya di Indonesia.
Bagaimana dengan Ahok ?
Saya tidak kenal secara langsung apalagi akrab dengan Ahok seperti halnya dengan Akuan.
Saya kenal Ahok lewat buku dan "internet" sebagai orang China pertama yang jadi Bupati di Negeri ini. Pertama tau orang ini, pertanyaan yang muncul adalah, apa sih hebatnya orang ini sehinga bisa jadi Bupati ?
Setelah mengikuti perjalanannya, saya percaya dia orang yang suka berterus terang, jujur dan anti korupsi. Mungkin itu yang membuatnya dipilih banyak rakyat sehingga akhirnya menjadi Anggota DPR, Wakil Gubernur DKI walau partainya ganti terus. Dan kini dia jadi Gubernur.
Apakah Ahok seorang yang sangat cinta tanah air atau punya nasionalisme, entahlah...saya tidak bisa mengukurnya.
Satu yang istimewa pada Ahok adalah ke-terus terang-an nya yang sangat benci pada Suap, Korupsi !! Dan itu disampaikan kepada anakbuahnya di depan publik berkali-kali.
Berkali-kali dia mengatakan, jangan terima suap, jangan korupsi !! Kalau masih terima suap atau korupsi saya pecat kalian !!
Saya tidak punya keuntungan apapun dengan Ahok, apakah kelak dia terpilih lagi jadi Gubernur atau tidak bahkan jadi apapun dia.
Saya hanya berkhayal saja, di ranah yang istilah Korupsi Berjamaah itu bermula....Bupati/Walikota dan Gubernur kita mau berterus terang seperti orang yang punya "akuan" bahwa dia anti korupsi dan berkata dihadapan para bawahannnya dan di depan publik jangan terima suap, jangan terima gratifikasi, jangan korupsi !!
Akuan ini orangnya suka sekali berjudi, togel, taruhan bola...sama dengan banyak China lainnya. Katanya sih biar cepat kaya. Dan itu "biasa" asal tidak menyakiti orang lain. Dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain.
Akuan suka bersahabat, sama halnya dengan orang kita bersahabat. Jika sudah akrab maka kita juga akan diajak berkunjung kerumahnya. Dan dia pun akan berkunjung kerumah kita. Tidak ada beda dengan cara orang kita bersahabat.
Pernah suatu waktu saya dikasih ikan, ketika saya tanya dapat dari mana. Rupanya ikan itu dia curi dari kolam ikan perusahaan yang sangat dilarang untuk dipancing oleh karyawan.
Walau berbeda Tuhan, mereka sangat menghargai dan menghormati cara kita beragama. Kalau sudah akrab, mereka tidak sungkan mengingatkan kita untuk shalat, atau berbuka ketika bulan puasa. Bahkan cenderung orang kita yang kurang menghargai mereka "beribadah".
Ketika diajak bicara tentang negara atau kebangsaan, mereka memang tidak tertarik...kesan yang terlihat adalah, untuk apa bicara nasionalisme toh tidak ada tempat buat kami "mengabdi" buat Indonesia.
Itulah kira2 gambaran Akuan yang saya kenal yang saat ini jadi wirausaha karena perusahaan tempat kami bekerja dulu sudah tutup, tetapi Ciliandra Fangiono salah seorang anak pemilik perusahaan itu saat ini masuk 20 besar daftar orang terkaya di Indonesia.
Bagaimana dengan Ahok ?
Saya tidak kenal secara langsung apalagi akrab dengan Ahok seperti halnya dengan Akuan.
Saya kenal Ahok lewat buku dan "internet" sebagai orang China pertama yang jadi Bupati di Negeri ini. Pertama tau orang ini, pertanyaan yang muncul adalah, apa sih hebatnya orang ini sehinga bisa jadi Bupati ?
Setelah mengikuti perjalanannya, saya percaya dia orang yang suka berterus terang, jujur dan anti korupsi. Mungkin itu yang membuatnya dipilih banyak rakyat sehingga akhirnya menjadi Anggota DPR, Wakil Gubernur DKI walau partainya ganti terus. Dan kini dia jadi Gubernur.
Apakah Ahok seorang yang sangat cinta tanah air atau punya nasionalisme, entahlah...saya tidak bisa mengukurnya.
Satu yang istimewa pada Ahok adalah ke-terus terang-an nya yang sangat benci pada Suap, Korupsi !! Dan itu disampaikan kepada anakbuahnya di depan publik berkali-kali.
Berkali-kali dia mengatakan, jangan terima suap, jangan korupsi !! Kalau masih terima suap atau korupsi saya pecat kalian !!
Saya tidak punya keuntungan apapun dengan Ahok, apakah kelak dia terpilih lagi jadi Gubernur atau tidak bahkan jadi apapun dia.
Saya hanya berkhayal saja, di ranah yang istilah Korupsi Berjamaah itu bermula....Bupati/Walikota dan Gubernur kita mau berterus terang seperti orang yang punya "akuan" bahwa dia anti korupsi dan berkata dihadapan para bawahannnya dan di depan publik jangan terima suap, jangan terima gratifikasi, jangan korupsi !!
Selamat imlek Akuan !!
Selamat menjadi Kepala Daerah para pemenang !!!
Selamat menjadi Kepala Daerah para pemenang !!!
Lubuk Basung, 9 Februari 2016
Friday, February 5, 2016
Cerita Asal Usul Danau Maninjau.
Alkisah, di sebuah daerah di Sumatera Barat ada sebuah gunung berapi yang
amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang
luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur
dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang
ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami
berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang
bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk
sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara
tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang,
Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling
bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani.
Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak
sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua
orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian
yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena
mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping
itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang
akrab mereka panggil Engku.
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang
putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab
besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh
orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung
ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan
berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak
istri dan putranya ikut serta bersamanya.
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung
ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan
Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun
mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati
berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.
“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”
“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”
“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”
“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut.
Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia
juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.
“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”
“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar
merasa bahagia karena cintahnya bersambut.
Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya,
keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir
akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga
mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa
senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan
mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke
rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di
sawah.
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang
melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh
penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu
ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara
tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada
panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian
dalam acara tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah
lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai.
Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari
dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk
saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia
akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan
lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena
gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu
mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si
Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan
langsung menyerang Kukuban.
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran
melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya
mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik.
Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus
andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari
serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras
kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa
menangkisnya dengan kedua tangannya.
“Aduh, sakit...! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah
sambil menjerit kesakitan.
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu
lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut.
Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah
dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu
akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika
cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang
bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran
tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat,
melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih
mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?”
sambung Kaciak.
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang
sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita,
kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap
Datuk Limbatang.
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa
senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan
rajin,” sambut si Kudun.
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar
suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,”
seru Kukuban dengan wajah memerah.
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak
pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya
yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang
perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan
sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana
panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan
itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,”
sambut Kukuban.
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata
Datuk Limbatang.
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan
Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke
lantai.
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu
pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali
Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran.
Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata
mencoreng mukaku di tengah keramaian?”
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa
itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan
keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah.
Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya
Datuk Limbatang.
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya
mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena
hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah
adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban
dengan ketus.
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga
suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya
berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan
mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya,
Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu,
Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan
jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal
yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga
menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat
biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah
yang sedang mereka hadapi.
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan
dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan
dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga
menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat
duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati
lukamu itu!” ujar Giran.
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya.
Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati
lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan
dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa
warga lainnya.
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak
menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani
yang terkena duri,” kata Giran.
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!”
bentak Kukuban.
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa
ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan.
Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi
kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh
Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu
oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah
telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat
memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus
dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung
Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau
dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup
dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk
berbicara.
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang
apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar
bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini.
Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang
Sembilan menjadi ikan!”
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah.
Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan
peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak
bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar.
Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu
tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun
menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan
menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan
diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga
gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun
menjelma menjadi ikan.
* * *
Diceritakan oleh Samsuni
Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatera Barat,
Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan
lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu
kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara
nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama
nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang,
Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.
Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral
yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan
moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat
dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah
melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran
bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang
lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam
ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu :
siapa tak tahu kesalahan sendiri,
lambat laun hidupnya keji
kalau suka berdendam kesumat,
alamat hidup akan melarat
Subscribe to:
Posts (Atom)





