Wednesday, January 31, 2018

Tataruang si Bunian Proyek e-KTP

Dalam Sidang Korupsi e-KTP dengan Terdakwa Setya Novanto, Senin 29/1/2018 kemarin Gamawan Fauzi terlihat sangat gamang, padahal status beliau hanyalah saksi. Diantara keyakinan (sesuai perspektif beliau) bahwa tidak melakukan korupsi, Gamawan membela diri dengan bersumpah Demi Allah dan mengatakan dirinya adalah anak seorang Ulama.
Ketika Hakim bertanya apakah Gamawan pernah menerima aliran dana korupsi e-KTP? Gamawan Fauzi membantah bahkan siap dihukum mati jika memang terbukti menerima uang.
Kegamangan Gamawan Fauzi terlihat ketika beliau melakukan pembelaan diri dengan apa yang beliau ungkapkan tersebut bukanlah alasan atau alat bukti yang dapat melepaskan dari tuduhan perbuatan Korupsi. Dan bukan hanya kali ini Gamawan Fauzi melontarkan argumentasi diluar hukum. Ketika hadir sebagai saksi dalam sidang untuk terdakwa Andi Narogong tanggal 9 Oktober 2017, beliau mengatakan bersedia dikutuk dan siap dihukum dunia akhirat.
Terseret-seretnya Gamawan Fauzi dalam kasus e-KTT tentu membuat kita sangat prihatin. Karir panjang dan track record beliau sebagai Pemimpin yang Bersih diuji lagi di masa tuanya.
Penerima Bintang Mahaputra Utama, Penghargaan Sipil yang Tertinggi tahun 2009 ini melalui perjalanan karir yang mulus dan terus menanjak. Setelah tamat kuliah Hukum di Unibersitas Andalas, beliau menjadi volunteer di LBH Padang, kemudian menjadi PNS di Pemprop Sumbar. Mulai dari Staf, Kepala Seksi hingga Kepala Biro Humas.
Tidak berhenti disitu, Gamawan Fauzi mengikuti Pemilihan Bupati Solok periode 1995-2009. Gamawan yang waktu itu masih berusia 38 tahun berhasil meraih 28 suara dari 42 anggota DPRD Kab. Solok, mengalahkan dua kompetitornya.
Dengan keberhasilannya menjadi Bupati, Gamawan juga dianggap berhasil menerobos pakem di Orde Baru bahwa Bupati itu harus berlatar belakang militer. Setelah dilantik, Gamawan melakukan apa yang disebut sebut saat ini yaitu Reformasi Birokrasi dan revolusi mental di lingkungan pemerintahan Kabupaten Solok.
Gamawan tampil sebagai pribadi yang merakyat dan anti-KKN. Menciptakan pelayanan yang ramah terhadap masyarakat, meningkatkan penhasilan tambahan bagi Pegawai. Membuat terobosan birokrasi dengan mendelegasian wewenang pemerintahan ke nagari atau desa dalam urusan konservasi lingkungan hidup. Membuat sistem perizinan menjadi satu pintu, transparansi dengan standar yang jelas. Tarif perizinan diterbitkan secara terbuka termasuk penunjuk jangka waktunya. Atas komitmentnya tersebut dia dianugerahi Bung Hatta Award.
Dua periode menjadi Bupati Solok, karier Gamawan semakin meroket setelah ia berhasil memenangi Pilgub Sumatera Barat tahun 2005. Padahal Gamawan yang berpasangan dengan Marlis Rahman hampir saja tidak mendapat kendaraan untuk maju sebagai kontestan Pilgub Sumbar. Untung "Masih ada Kapal ke Padang", disaat terakhir Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang pada Pemilu 2004 tidak mendapat suara signifikan di Sumatera Barat menjadi kendaraan bagi Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman.
Menjelang Pilpres 2009, Gamawan Fauzi yang pada waktu itu menjabat Gubernur Sumatera Barat periode 2005 – 2010 mengambil “Langkah Politik Praktis” dengan menjadi Deklarator pasangan Capres SBY-Budiono. Beberapa pihak termasuk penulis menyayangkan langkah Gamawan yang memasuki ranah politik praktis dan tidak mengambil posisi netral karena figur beliau lebih dikenal sebagai Pamong ketimbang Politikus apalagi beliau bukan kader atau pengurus Partai Politik.
Langkah Politik Gamawan tersebut kemudian memang berbuah kursi Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Indonesia Bersatu. Tetapi itu tetap disesalkan karena tanpa menjadi deklarator pasangan Capres SBY-Budiono, kursi Menteri memang layak untuk Gamawan yang sudah sangat banyak berprestasi. Artinya siapapun yang pemenang Pilpres 2009 mau tidak mau akan melirik Gamawan untuk dijadikan menteri. Apalagi sudah menjadi "kebiasaan" Gubernur Sumbar diakhir jabatannya akan naik kelas jadi Menteri. Hal yang telah terjadi sebelumnya pada Harun Zain, Azwar Anas dan Hasan Basri Durin.
Pekerjaan berat sebagai Menteri sepertinya akan bisa diselesaikan dengan baik oleh Gamawan. Menyusun grand design otonomi daerah, mewujudkan aparatur pemerintahan yang bersih korupsi, pembenahan pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) yang sarat permasalahan dan pungutan liar.
Pada akhir tahun 2011, SBY menyampaikan Pidato bahwa mulai tahun 2011 Kartu Tanda Penduduk akan dibuat secara Elektronik (e-KTP). Sebagai Mendagri, Gamawan adalah pelaksana utama program e-KTP di Indonesia. Dan pada awalnya "proyek" e-KTP senilai Rp.5,9 triliyun itu sepertinya aman-aman saja. Tetapi seiring berakhirnya rezim SBY dan nyanyian mantan Bendahara Partai Demokrat Nazaruddin membuat proyek e-KTP mulai memasuki ranah hukum.
Pada tahun 2016, Nazaruddin menyebut nama Gamawan Fauzi sebagai salah satu penerima gratifikasi proyek e-KTP usai dirinya diperiksa KPK sebagai saksi pada 27 September 2016. Sebulan kemudian Gamawan diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi e-KTP.
Saat itu Gamawan membantah segala tudingan Nazaruddin. Ia menyebut bahwa proyek e-KTP di bawah kepemimpinannya selama 2009-2014 lalu dilakukan secara transparan. Bahkan, dalam menjalankan proyek itu, ia menyebut telah melibatkan KPK dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan.
Dalam BAP, Nazaruddin menyebut bahwa Gamawan dua kali menerima uang e-KTP. Total yang diterima Gamawan, menurut Nazar, 4,5 juta dollar AS. Nazaruddin tetap berkeyakinan bahwa Gamawan ikut menerima uang walau Gamawan telah membantah bahkan bersedia dikutuk jika menerima uang itu. Menurut Nazaruddin, saat itu adik kandung Gamawan Fauzi, Azmin Aulia, ingin membeli ruko miliknya. Namun, yang membayar ruko ternyata salah satu pengusaha dalam proyek e-KTP, yakni Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra, Paulus Tanos. Pun dalam dakwaan dan tuntutan terhadap dua mantan Pejabat Ditjen Dukcapil Kemendagri Irman dan Sugiharto, Gamawan disebut menerima aliran dana USD 4,5 juta dan Rp 50 juta terkait proyek tersebut.
Gamawan mengaku tidak mengetahui adanya dugaan mark up dalam proyek e-KTP karena atas permintaannya Auditor BPKP dua kali mengaudit proyek tersebut. Selain itu BPK juga telah memeriksa sebanyak tiga kali dan tidak ada yang menyatakan ada KKN.
Sekarang kasus korupsi e-KTP semakin terbuka dan diduga melibatkan banyak pihak. Belasan orang yang disebut-sebut menerima uang proyek e-KTP telah mengembalikannya. Dan yang paling menghebohkan adalah dugaan keterlibatan Ketua DPR Setya Novanto yang telah jadi terdakwa.
Apakah Gamawan juga terlibat dan akan tersangka korupsi e-KTP?
Sepertinya kita masih menunggu kelanjutan drama kolosal ini.  Diantara kenyakinan banyak orang bahwa memang telah terjadi korupsi pada proyek e-KTP, banyak juga yang berpendapat ini adalah politisasi menjelang Pemilu dan Pilpres 2019. Ada pula yang sentimentil berpendapat bahwa tokoh-tokoh sumbar sengaja dihabisi pasca Pilpres yang lalu. Setelah Irman Gusman dan Patrialis Akbar maka target selanjutnya adalah Gamawan Fauzi.
Mudah-mudahan ini hanya ujian semata yang mengharuskan Gamawan Fauzi bolak-balik ke KPK dan menghadiri sidang sebagai saksi kasus korupsi e-KTP. Ujian sebagaimana dulu ketika masih menjadi Bupati Solok tersesat di hutan selama 5 hari ketika sedang melakukan survey alternatif Solok - Padang, yang konon kabarnya karena tataruang (tertarung, tersandung) si Bunian (makhluk ghaib) penghuni Hutan Raya Bukik Sambuang. 
Kini Gamawan Fauzi diuji karena tersandung di proyek e-KTP, membuatnya harus bolak-balik menghadiri Sidang. Membuat beliau kembali seperti Tataruang si Bunian di Proyek e-KTP, makhluk yang tidak terlihat tetapi diyakini ada.
Sebagaimana lagu ciptaan Agus Taher yang pernah beliau nyanyikan;
"Gontai langkah tangah rimbo pasawangan
Makin jauah makin dalam maramang badan
Raso bakubua banisan tido di jurang dalam

Si bunian bukik sambuang nan tataruang
Mangko kalam makin hilang jalan pulang
Oi urang den sayang
Saru juo tiok sumbayang"


Tuesday, January 30, 2018

Rinuak Maninjau Pun Merantau

Sekitar 6 bulan lalu dalam cerita Puti Ransani Turun dari Kayangan, saya turut mengungkapkan bahwa Rinuak di Danau Maninjau menghilang entah kemana. Sama seperti berita di media cetak maupun online pada pertengah tahun 2017 itu, tidak ada yang tahu atau dapat memperkirakan kemana perginya Rinuak Maninjau. Rinuak tidak mengikuti Pensi yang hijrah ke sungai-sungai disekitar Danau. Menghilangnya Rinuak seakan menjadi misteri disamping banyak yang menduga telah punah.
Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menemukan cerita kemana menghilangnya Rinuak. Entah betul, entah tidak, Wallahualam !
Ceritanya, dalam perjalanan dari Bukittinggi menuju Lubuk Basung saya berhenti di Objek Wisata Muko-Muko. Rasa penat dan cuaca cerah sore itu memaksaku berhenti untuk menikmati suasana objek wisata itu. Sudah lebih 6 bulan saya tidak singgah disitu, padahal sebelumnya itu adalah rest area favorit saya ketika menempuh rute Bukitinggi - Lubuk Basung.
Ketika memasuki sebuah kedai, mata saya langsung terpaku pada kuliner khas Maninjau, Palai Rinuak !
"Lah kalua rinuak baliak yo Tek?" tanya saya kepada si empunya kedai sambil mengambil sebungkus palai rinuak.
"Iyo nak, tapi itu Rinuak dari Danau Singkarak !" jawabannya hampir saja membuat tersedak.
"Mungkin Rinuak wak lah pindah ka Danau Singkarak, karna rasa dan ukurannya persis seperti yang disini", sambung beliau.
"Syukurlah tek, ternyata Rinuak waj ndak punah doh. Babali ka Singkarak atau urang situ yang manjua kamari? bara lo harago sekilo ?" saya menanggapi dengan rasa heran.
"Ado agennyo yang manjua kamari, lah dikemas dalam kaleng cat ukuran sekilo yang diberi es. harganyo 100 ribu rupiah, kalo beli dipasar sekitar 120 ribu sekilo", jawabnya.
Selanjutnya saya mengatakan bahwa itulah ironi saat ini, orang Maninjau membeli Rinuak kepada orang Singkarak. Padahal dulunya Rinuak hanya ada di Danau Maninjau, tidak ada ditempat lain di dunia ini termasuk di Danau Singkarak.
Semenjak Danau Maninjau dipenuhi Keramba perlahan-lahan airnya mulai tercemar. Makin lama pencemaran itu makin parah, kematian massal ikan di Danau Maninjau bukan lagi disebabkan belerang peninggalan Gunung Tinjau (asal Danau Maninjau) tetapi karena endapan sisa makan ikan yang telah menumpuk di dasar danau. Ketika badai atau angin kencang datang endapan itu membuat air danau keruh dan kematian ikan-ikan dalam keramba.
Jika sebelumnya interval kematian massal itu sangat lama, belakangan tiap tahun bahkan 2 kali setahun.
Cerita saya ditanggapi Etek itu dengan mengatakan bahwa Keramba membuat perekonomian selingkar Danau menjadi meningkat. Walau tidak banyak yang menjadi juragan Karamba, tetapi lahan-lahan menjadi sangat berharga untuk disewakan. Kedai-kedai jadi ramai dan lahan pekerjaan tersedia. Sumber penghasilan terbuka lebar, kesejateraan masyarakat meningkat, banyak rumah bagus berdiri di selingkar danau.
Memang disaat terjadi "bencana" kematian ikan massal perekonomian juga seperti lumpuh. Apalagi kalau semua keramba dihabiskan, mungkin Maninjau akan seperti awal tahun 80an setelah terjadinya Galodo.
Saya mengatakan bahwa dalam kurun waktu 20 tahun kondisi Danau sangat jauh berbeda. Pada akhir tahun 80an air danau sangat jernih, kita sangat mudah melihat ikan bermain-main dipinggir danau. Kalau kepingin makan ikan tinggal ambil pancing, seperti ikan dalam kolam dirumah sendiri.
Sekarang, air berubah hijau, buram, keruh dan bau. Ikan-ikan pun sangat jauh berkurang. Lihat saja di muko-muko ini, biasanya hampir tiap hari selalu ramai oleh pemancing tetapi sekarang, dihari liburpun hanya beberapa orang saja.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan dari 34 spesies ikan asli Danau Maninjau, yang masih bertahan hidup hingga saat ini tinggal 14 spesies, sedangkan 20 jenis lagi sudah mengalami kepunahan.
Masih berdasarkan hasil penelitian LIPI juga disampaikan, untuk memulihkan air danau Maninjau seperti semula butuh puluhan tahun dan tidak ada keramba seperti saat ini.
"Kami paham itu, memang keramba harus dibatasi tetapi kalau dihentikan total sepertinya masyarakat akan menolak", tanggap etek itu. Dan kepunahan ikan-ikan asli danau bukan hanya karena pencemaran tetapi juga penggunaan alat tangkap seperti pukat, itu membuat anak-anak atau bibit ikan ikut terjaring, ungkap etek itu lebih lanjut. Wah etek ini sangat peduli danau, pikir saya dalam hati.
Iya, daya tampung Danau kita ini terbatas dan kalau pengurangan jumlah keramba tidak secara signifikan maka proses pemulihan Danau akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi. Mungkin butuh waktu setengah Abad !
Senyum miris etek itu mengakhiri dialog kami. Tetapi saya tetap berimajinasi, bagaimana caranya Rinuak berangkat merantau ke Danau Singkarak. Apakah lewat tangan manusia yang mengambil dan membawanya dari Meninjau terus melepaskannya di Danau Singkarak? Atau melalui terowongan misterius atau saluran yang menghubungkan Danau Maninjau dengan Danau Singkarak? dan itu adalah urusan para peneliti-peneliti untuk menjawabnya.
Yang pasti Rinuak telah Pulang Kampuang dan dalam waktu singkat dia telah berobah menjadi lebih mahal !
Ah, harga menjadi tak masalah ketika menikmati rasanya yang sangat dahsyat enaknya ! hehe
#SaveRinuak

Lubuk Basung, 29 Januari 2017

Thursday, January 25, 2018

Mahar Politik

Sekedar berbagi cerita tentang Mahar Politik atau Uang Politik atau apapun istilahnya, ada beberapa peristiwa yang saya alami terkait dengan itu.
Suatu waktu saya dikunjungi seorang kawan. Kedatangannya cukup mengagetkan saya karena ia datang bersama seorang yang saya kenal sebagai salah satu Bakal Calon Wakil Kepala Daerah.
Singkat cerita, kawan itu sengaja membawa orang itu untuk "bercerita" atas permasalahan yang dialaminya. Bahwa ia mendaftar dan mengikuti proses sebagai Bakal Calon Kepala Daerah pada sebuah Parpol. Sampai pada akhirnya terjadi Deal bahwa ia akan mendapatkan Rekomendasi sebagai Calon dengan  mahar Rp.250 juta.
Tetapi ketika ia telah menyiapkan dan akan menyerahkan uang tersebut, tiba-tiba disampaikan bahwa ia tidak jadi direkomendasikan menjadi Calon. Calon yang akhirnya mendapatkan rekomendasi dari Parpol itu adalah orang yang secara finansial sangat kuat. Itu kejadian di era Pilkada pada zaman Reformasi.
Dilain waktu pada zaman ketika Pemilihan Gubernur, Bupati/Walikota dipilih oleh DPRD saya juga mendapat informasi bahwa ada Uang Mahar untuk suara anggota DPRD itu. Meskipun siapa yang akan jadi pemenang serta komposisi suara telah diatur oleh Pusat. Dan besaran uang mahar masih sangat kecil, tidak sampai jutaan, apalagi puluhan milyar seperti gosip saat ini.
Tahun 1990, pengakuan seorang anggota DPRD Kota ketika akan dilakukan pemilihan Walikota ia mendapat amplop yang isinya uang Rp.250 ribu. Tahun 2000, seorang Anggota DPRD Kabupaten mengaku diberi amplop yang berisi uang Rp.600.000 menjelang pemilihan Bupati.
Tahun 2003, menjelang pemilihan Gubernur seorang pengusaha mengaku terang-terangan siap dan sanggup mengeluarkan uang sebesar Rp.100 milyar untuk membayar perahu menuju kursi Gubernur yang dipilih DPRD.
Tetapi pengusaha itu tidak jadi ikut Pilgub karena ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan dalam kasus kredit fiktif. Proses Pilgub di Propinsi itu sediri dituding sebagai ajang perang uang. Satu suara dibanderol Rp. 1 milyar. Kekalahan Calon lain yang juga Petahana diduga karena maharnya kalah besar dengan pesaingnya.
Ceritanya, sebelum pemilihan telah diantarkan uang masing-masing Rp. 1 milyar kepada beberapa anggota DPRD. Ia telah mengeluarkan uang lebih dari Rp.20 milyar untuk membayar separo lebih anggota DPRD. Tetapi oleh pesaingnya juga memberikan uang jauh lebih besar dari Rp. 1 milyar. Malam hari setelah pemilihan uang yang semilyar tersebut ditagih kembali oleh
Calon yang kalah.
Disaat heboh-heboh uang mahar La Nyala dengan Prabowo muncul lagi wacana mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah kepada DPRD. Pengembalian ini diantaranya bertujuan mengurangi Uang Politik yang dikeluarkan dalam Pemilihan Kepala Daerah yang mencapai puluhan bahkan ratusan milyar untuk daerah pemilihan di pulau Jawa. 
Saya meyakini cara ini tidak efektif mengurangi uang politik karena dulunya juga telah terjadi transaksi politik dengan uang. Meskipun pemilihan dilakukan di DPRD perang tarif akan terus terjadi, yang paling banyak uangnya akan mendapatkan jalan mulus menuju Jabatan Kepala Daerah. Hampir tidak ada proses Pengambilan Keputusan (termasuk Pemilihan Kepala/Wakil Kepala Daerah) oleh DPRD yang bersih dari gosip transaksi. Untuk persetujuan hal-hal rutin saja seperti pembuatan Perda atau Persetujuan APBD masih dibumbui transaksi uang. Banyak kasus yang diungkap KPK terkait pengambilan Keputusan di DPRD, contoh terbaru yang terjadi di Jambi.
Pemilihan oleh DPRD membuat peluang keterpilihan Calon yang memiliki banyak uang semakin besar karena hak suara pemilih yang akan dibeli tidak sebanyak pemilihan langsung oleh rakyat. Pemilih (pemilik hak suara) akan mudah dikendalikan.
Disisi lain Calon-Calon Pemimpin bukan kader Parpol yang tidak memiliki kekuatan finansial akan sulit masuk sebagai Calon Kepala Daerah.
Kita tentu masih ingat pada tahun 2005, seorang Gamawan Fauzi nyaris tidak mendapatkan dukungan Parpol untuk maju sebagai Calon Gubernur Sumbar. Gamawan Fauzi waktu itu bukan seorang kader Parpol dan bukan pula milyader. Untung saja masih ada Kapal bermerek PDIP dan PBB yang belum memiliki penumpang menuju ke Padang, Gamawan akhirnya berangkat juga walau dengan kapal kecil (PDIP dan PBB pada Pemilu 2004 tidak mendapat suara signifikan di Sumbar). Proses pencalonan Gamawan yang last minute itu terkenal dengan istilah Masih ada kapal kepadang.
Disisi lain kita tidak bisa menutup mata bahwa Parpol gagal menciptakan kadernya sebagai calon pemimpin yang memiliki kualitas dan elektabilitas mumpuni. Pada akhirnya Parpol terpaksa merekrut orang luar untuk dicalonkan, Ahok, Anies Baswedan, Sudirman Said, Ridwan Kamil, Dedy Mizwar dan banyak lagi lainnya adalah contoh calon bukan dari kader Parpol.
Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah ke DPRD patut dicurigai sebagai upaya Parpol melarikan diri dari tanggungjawab. Parpol mengelak dari aturan bahwa tidak boleh ada Mahar Politik dengan dalih apapun. Biaya saksi, honor, upah, uang makan atau apapun namanya tidak tepat dijadikan alasan untuk membuat kesimpulan Pemilihan Kepala Daerah langsung oleh rakyat membutuhkan biaya yang banyak. Kalau semua kegiatan politik diukur dengan uang, maka berpolitik akan dianggap sebagai lapangan pekerjaan untuk mencari nafkah dan kekayaan.
Seharusnya Politik tidak sekedar mengejar kekuasaan apalagi uang, tetapi ada niat tulus dan keikhlasan tanpa keterpaksaan yang dicampur dengan transaksi atau imbalan.
Seperti kata Intelektual muda Yudi Latief, hakikat politik yang sebenarnya adalah membuat warga negaranya berbahagia. Tujuan berpolitik, menurutnya, bukanlah semata meraih kekuasaan, tapi memastikan kekuasaan digunakan untuk kebajikan dan kebahagian bagi warga negara.
Lubuk Basung, 23 Januari 2018


Sunday, November 19, 2017

Dunia Panggung Sandiwara

Beberapa waktu lalu saya menyaksikan sebuah film yang berjudul Phone Booth yang dibintangi actor Collin Farrel. Itu adalah kedua kalinya saya menyaksikan film tersebut setelah pada awal tahun 2000an ketika film tersebut baru beredar.
Dari sinopsis "resmi" yang beredar film ini menceritakan tentang seorang lelaki bernama Stu Shepard (Collin Farrel) yang disandera seorang sniper dalam ruangan Telepon Umum.
Dari dialog2 yang disajikan, saya melihat bahwa ada hal sangat menarik yang bisa diambil dari Film yang disutradarai oleh Joel Schumacher dan ditulis oleh Larry Cohen itu.
Dalam film itu sosok Stu adalah Seorang publisher yang ambisius, mempunyai hubungan yang cukup luas tapi sayang ia mempunyai karakter yang buruk, Arogan, Suka obral janji, menipu, meremehkan orang, dengan uang segalanya bisa ia beli termasuk menyuap.
Peran Stu Shepard sangat mewakili kondisi saat ini, dimana banyak Tokoh Publik yang berpenampilan seperti seorang Hero tetapi sesungguhnya adalah Bandit. Berperan sebagai Protagonis tetapi sesungguhnya dia seorang yang Atagonis. Berkesan sebagai seorang yang ramah dan lemah lembut tetapi sesungguhnya dia seorang yang sangat Arogan dan kasar.
Stu merasa nyaman dengan kondisi itu karena merasa tidak ada yang mengetahui kebohongan yang ia lakoni. Hingga pada suatu saat seorang Sniper menyaderanya.
Sniper itu menceritakan bahwa ini bukan pertama kali dia menyandera seseorang. Dan korban-korban sebelumnya dia bunuh karena tidak mau mengikuti kemauannya.
Bagi Stu, sesungguhnya bukan hanya ancaman peluru dari senjata sniper saja yang dia takuti. Tetapi juga rahasia kebohongannya yang diketahui si sniper secara detail.
Stu dipaksa mengakui semua kebohongan yang telah ia lakukan. Mengakui didepan publik termasuk didepan isterinya dan orang-orang yang dia bohongi. Mulanya Stu tidak mau dan lebih memilih ditembak daripada harus melakukan itu. Tetapi si sniper mengatakan bahwa sebelum membunuh Stu terlebih dahulu dia akan membunuh orang orang yang disayangi Stu.
Akhirnya Stu terpaksa melakukan keinginan Sniper itu. Menceritakan semua yang dia kerjakan selama ini adalah bohong dan hanya rekayasa, pencitraan dan manipulasi. Membuat pengakuan bahwa dia bukanlah seseorang Hero yang patut untuk diharapkan karena sesungguhnya dia adalah Bandit, pembohong!!
Pada ending Film tersebut, Stu selamat karena telah membuat pengakuan itu dan diberi maaf oleh orang-orang yang dibohonginya. Tetapi Sniper yang melakukan penyanderaan itu juga lolos dari pencarian aparat kepolisian karena memanipulasi orang lain yang dijadikan korban seolah olah itu dirinya.
Apakah itu sebuah cerita yang sederhana atau membosankan? silakan tonton.
Bagi saya cerita itu sangat menarik karena ada "pesan" hebat yang disampaikan. Pesan bahwa kebohongan itu suatu saat bisa terbongkar dengan cara yang tidak pernah diduga.
Peran Antagonis pada sosok Sniper dalam Film itu mempunyai pengaruh yang luar biasa. Dia memang menjadi sosok penjahat, tetapi dia juga menjadi sosok hero karena membongkar "kejahatan" yang dilakukan sosok Protagonis. Peran Utama bukan hanya pada sosok Protgagonis, sosok Antagonis juga menjadi Bintang Utama dalam film Phone Booth tersebut.
Dengan cara mengetahui secara detail kebohongan-kebohongan yang dilakukan seseorang, dia mampu memaksa orang itu untuk tobat dan membuat pengakuan serta meminta maaf. Dan dia melakukan itu tanpa motif uang seperti pemeras. Kartu truf yang dia pegang tidak digunakan untuk menangguk keuntungan
Untuk membongkar kebohongan yang dilakukan seperti Stu itu memang diperlukan Tokoh Antagonis seperti dalam film itu. Yang bukan sekedar mengancam dengan senjata tajam tetapi juga dengan bukti yang komprehensif. Mengetahui secara detail dan menyeluruh apa saja kebohongan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan.
Karena orang seperti Stu tidak akan takut dengan Undang-undang walau berisi ancaman hukuman penjara puluhan tahun. Mereka tidak akan takut dengan pengalaman orang lain yang pernah dihukum
Saangat sulit untuk merubah image seseorang yang sudah menjadi brand kebaikan (super hero) menjadi seorang bandit sebagaimana sesungguhnya. Bandit seperti itu adalah sangat licin seperti belut, sering lolos walau sudah dalam genggaman. Perlu trik khusus untuk membuatknya tidak berkutik.
Jika hidup di Dunia ini hanya panggung sandiwara, silakan pilih peran apa yang kita sukai. Apakah akan menjadi pemeran Protagonis atau Antagonis. Apakah akan berlakon sebagai Hero atau Bandit. Apakah akan menjadi pemeran utama atau hanya sekedar figuran, pemeran pembantu.
Beraktinglah secara total, jangan hanya senyum di bibir tetapi kepalan tangannya menunjukkan kemarahan. Raut muka menunjukan kesedihan terapi bahu tetap terangkat menunjukan orang happy. Apa yang diucapkan berlainan dengan gesturnya. Berlako seperti orang sakit tetapi terlihat seperti orang sehat wal afiat.
Semua orang akan melihat panggung, memperhatikan sandiwara itu dan akhirnya akan menilai apakah anda aktor yang bagus atau tidak. Sekian.


Lubuk Basung, 19 Nopember 2017

Saturday, September 30, 2017

Biasa Luar Biasa

Tanpa disadari di Dunia Sosial Media kita seringkali mempertontonkan rendahnya kualitas diri kita sendiri kepada publik. Mempertunjukan wacana yang dangkal, berpikir pragmatis, mudah terbawa arus dan terperangkap pada loyalitas dan rivalitas abadi pesta demokrasi.
Terpesona pada hal-hal yang sesungguhnya biasa-biasa saja tetapi menganggapnya "luar biasa". Begitu mudah memuji dan memuja seseorang yang hanya melakukan hal-hal remeh yang sudah seharusnya ia lakukan. Tanpa mau berpikir bahwa subtansi kehebatan itu seharusnya diukur pada pencapaian prioritas tanggungjawab yang diembannya.
Kita menganggap Luar Biasa ketika ada pejabat berseragam ikut mengali pusara. Kita menganggap hebat ada pejabat yang "menyalurkan" bantuan bencana. Padahal itu bukan subtansi kehebatan karena itu memang sudah tugasnya.
Kita menganggap luar biasa ketika ada pejabat dekat dengan rakyatnya. Dekat dalam bentuk suka berselfie atau bersalaman. Terpesona pada perfomance dan tutur bahasa seseorang dihadapan media padahal omongannya tanpa gagasan dan prinsip alias kosong melompong.
Bahkan secara formal pun kita seakan telah kehilangan nalar dan merendahkan level diri kita. Melebih-lebihkan hal biasa menjadi seakan-akan luar biasa.
Contohnya, Predikat laporan keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang didapat disambut antusias bahkan untuk mendapatkan predikat Wajar itu ada yang melakukan tindak pidana korupsi (Kemendes). Padahal itu "cuma" predikat wajar! bukan predikat Luar Biasa Bagus atau Sangat Baik!
Kita menganggap Hebat pejabat yang bersih, tidak korupsi! Padahal, tidak korupsi itu adalah hal yang seharusnya dilakukan semua pejabat.
Atau, lihatlah pula iklan pertandingan Liga Sepakbola kita di televisi, semua diberi label "Big Match" bahkan ada yang Super Big Match. Padahal itu hanya pertandingan tim papan bawah dan bukan pula pertandingan antar klub "musuh berbuyutan".
Padahal yang pantas disebut Big Match itu adalah ketika Real Madrid bertanding melawan Barcelona di Spanyol, Juventus vs AC Milan di Italia, Manchester United vs Liverpool di Inggris.  Karena jauh hari sebelum pertandingan kesebelasan tersebut media sudah membahasnya, dan ketika pertandingan berlangsung stadion penuh sesak oleh penonton.
Tidak ada salahnya berbangga dengan pencapaian kita. Tetapi seharusnya kita membuat standar yang tinggi untuk sebuah prestasi. Standar yang tinggi merupakan kekuatan untuk ikut bersaing pada level yang lebih tinggi.
Tidak semua "gerak gerik" dipoles dengan pencitraan, diberi label hebat dan diekspose di media dengan judul "Luar Biasa" yang disertai pujian. Karena semakin dinyaring-nyaringkan kehebatan itu maka semakin menandakan isinya kosong. Karena yang nyaring bunyinya adalah Tong Kosong !.
Mungkin kita mendapat juara 1 tetapi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) kelas kita cuma 6,5. Sementara ditempat lain KKM nya sudah di atas 9.
Atau dalam istilah lainnya, kita hanya jadi juara di kandang kambing. Jadi, tidaklah tepat kalau kita bersorak sorai dengan "prestasi" yang biasa. Tidak lah hebat namanya jika sesuatu itu memang sudah seharusnya. Tidak lah luar biasa jika itu sudah biasa.
Kita paham bahwa kita memang masih berada di zona berkembang, belum berada di zona (Negara) maju. Oleh karenanya kita harus mematok target berada di rangking “Papan Atas” untuk kita capai dan kelak disanalah kita berbangga ria.

Lubuk Basung, 1 Oktober 2017

Wednesday, September 20, 2017

Keberanian Menunggu Ajal

Beberapa waktu lalu saya kehilangan orang dekat. Beliau adalah Guru saya di Sekolah Dasar, yang mengajarkan saya membaca, menulis dan berhitung. Beliau seusia Indonesia Merdeka.
Sebelum meninggal, beliau sangat jarang sakit. Bahkan Kartu Kuning (kartu asuransi kesehatan untuk PNS) tidak pernah beliau pergunakan.
Itu saya ketahui ketika membezuk beliau ketika dirawat di rumah sakit. Beliau bercerita ini pertama kali Ibuk dirawat. Ibu belum pernah mempergunakan Kartu Kuning.
Waktu itu beliau direncanakan akan dioperasi tetapi harus menunggu beberapa hari karena ada beberapa kondisi tubuh beliau harus distabilkan sesuai persyaratan seseorang harus dioperasi.
Kondisi itu ternyata membuat beliau resah. Beliau tidak betah menunggu lama untuk dioperasi.
Ketika mendapatkan kunjungam dokter, beliau langsung menyampaikan,; "Pak Dokter apa lagi yang ditunggu? Operasi saja sekarang!"
Seminggu setelah membezuk itu saya mendapat kabar bahwa beliau meninggal. Diantara kesedihan saya ada syukur karena sempat membezuk beliau.
Sangat banyak orang Bagak bahkan berteriak-teriak Saya tidak taku mati! ketika sedang bertemgkar dengan lawannya.
Tetapi saya melihat Beliau-lah orang yang benar-benar tidak takut mati. Ah, atau lebih tepatnya Beliau adalah orang yang telah siap untuk mati, telah siap ketika ajal itu datang.
Keberanian beliau, kesiapan beliau untuk mati tidak pernah secara dikatakan dengan bahasa lisan. Tetapi apa yang beliau lakukan membuktikan bahwa beliau benar-benar siap. Mungkin saja karena usia beliau yang telah melebihi angka 70.
Beliau mempersiapkan Kain Kafan dan kelengkapan jenazah lainnya. Ya, Beliau siapkan semua itu untuk jenazah beliau nantinya. Bukan karena khawatir nanti ketika meninggal tidak ada ahli waris atau sanak saudara yang akan menyediakan perlengkapan itu. Bukan.
Anak-anak Beliau sangat mapan secara ekonomi. Dan beliau sendiri adalah orang yang dihormati dilingkungannya sehingga bawaan orang yang takziah akan melebihi kebutuhan untuk satu jenazah.
Keberanian beliau menunggu ajal bukan pula sebagai bentuk orang yang pasrah apalagi berputus asa hingga terpakaa menunggu ajal. Beliau tetap melakukan aktifitas seperti orang yang akan berumur panjang. Berkebun, menanam tanaman tetap bersemangat beliau lakukan. Tidak peduli apakah buah dari tanaman yang beliau tanam itu akan dapat beliau nikmati.
Terimakasih Ibu Guru, sampai akhir hayat masih memberikan Ilmu yang luar biasa.
Lubuk Basung, 19 September 2017

Saturday, August 19, 2017

Ayo Merdeka

"Mati Bulando karano pangkaik, mati Cino karano harato, mati Kaliang karano salero...mati Melayu karano angan-angan"
Konon Asbabun Nuzul pepatah ini karena dizaman Penjajahan dulu sudah sangat kasat mata perbedaan antara orang Belanda, China, India dan Indonesia. Ini hanya sebagian, bukan keseluruhan tetapi perangai ini mampu membuat ciri khas yang membedakan. Orang-orang Belanda dalam mengejar Jabatan atau Pangkat rela melakukan apa saja. Menfitnah, menghasut dan mengadu domba. Orang China juga begitu, mereka melakukan hal-hal tidak jujur dalam mengumpulkan harta. Dalam berdagang mereka kerap berbohong dan menipu serta menjadi rentenir. Lain pula Keling atau India, mereka terkenal sangat doyan kuliner bahkan cenderung rakus. Tetapi kalau perut mereka sudah kenyang maka mereka pun akan tenang, tidak macam-macam atau berbuat ulah.
Dan yang miris itu Bangsa kita, Pribumi...orang kita sibuk berangan-angan. Memboroskan energi dan mental untuk memimpikan sesuatu tanpa disertai usaha untuk mendapatkan apa yang diangan-angankan itu. Mereka hanya mengandalkan "nasib baik" untuk memperoleh sesuatu.
Mereka tidak ikut berjuang melawan penjajah seperti kebanyakan orang. Bergerilya di hutan menyandang bambu runcing atau senjata sederhana. 
Mereka sibuk berangan-angan; Kalo den punyo badia geren, den tembak Bulando kalera tu. Kalo den kayo, den pabini anak Cino nan putiah barasiah tu. Kalo den bapitih banyak, den bae makan lamak tiok hari!!.
Itu dulu, sebelum Soekarno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia. 
Sekarang, Negara kita telah merdeka, telah terlepas dari bangsa penjajah selama 72 tahun. Pertanyaannya, apakah kita telah benar-benar merdeka?
Kalau dilihat dari unsur Merdekanya suatu negara yaitu adanya Rakyat, Wilayah, Pemerintahan yang berdaulat dan Pengakuan secara de facto dan de jure dari negara lain maka secara formal kita bisa berkata; Iya, kita telah Merdeka!
Tetapi kalau mau berkata secara lugas, kita masih merasakan belum benar-benar Merdeka. Banyak hal yang sesungguhnya masih seperti di zaman penjajahan. Kelakuan para elit di eksekutif maupun di legislatif bagaikan tabiat para bangsa kolonial. Memaksakan kehendak dan menggunakan kekuasaan dengan mempertakut rakyat. Tiap sebentar mengkampanyekan bahwa mereka lah Pemegang Prerogatif dan kalian harus ikut aturan yang dia buat bahkan harus mengistimewakan mereka.
Sekali lagi, Ini hanya sebagian, bukan keseluruhan.
Mereka bertindak laksana penjajah sehingga banyak diantara kita merasakan hidup seakan masih dizaman belum merdeka. Di hantui kecemasan dan rasa takut terhadap para elit itu.
Tetapi sesungguhnya para elit itu juga berada dalam penjajahan. Mereka tidak mampu melepaskan diri dari ketakutan yang tumbuh dalam hati mereka. Takut kehilangan Pangkat dan Jababatan, takut kehilangan popularitas. Takut terhadap kritikan dan badnews.
Dan ketakutan itu mereka tutupi dengan berbuat seperti Bulando dan Cino dizaman penjajahan dulu. Menganggap rakyat pribumi sebagai ekstrimis, menganggap pengkritik sebagai perusak, menganggap badnews sebagi hoax. Mereka dengan gampang melakukan blaming, menyalahkan rakyat sebagai pemalas, menyalahkan pengkritik yang tidak konstruktif, menyalahkan medsos yang dipenuhi akun palsu.
Mereka juga tidak bisa bersikap adil bahkan fair karena banyak hutang yang belum dilunasi. Hutang janji kampanye yang belum ditepati, hutang budi yang belum dibalas, hutang materi yang belum lunas. Akibatnya perlakuan terhadap rakyat tidak sama karena hutang budi itu. Pada kelompok yang ini mereka sangat keras terhadap kelompok yang lain terlihat "sangat bersahabat".
Merdeka marilah kita merdeka, bebaskan diri kungkungan rasa takut karena akan kehilangan pangkat, jabatan, makanan enak. Merdeka dari rasa segan akan ditagih hutang budi, janji dan materi. Merdeka dari pengaruh dan tekanan.
Seperti kata Bung Karno; Merdeka itu Berdikari, berdiri di kaki sendiri!
Merdeka mengendalikan diri ! Dirgahayu bangsaku!
Lubuk Basung, 16 Agustus 2017.

Friday, August 11, 2017

Puti Ransani Turun dari Khayangan

Setelah ratusan tahun berada di khayangan Puti Ransani merasa rindu ingin kembali ke Kampung kelahirannya di Maninjau. Banyak hal yang membuat ingin segera pulang. 
Ada rasa gelisah melihat kondisi Danau Maninjau yang semakin rusak walau keindahannya tetap mempesona.
Maninjau memang selalu indah ketika dilihat dari Bukik Sakura atau dari Embun Pagi. Tetapi ketika didekati rupa nan berseri indah itu hilang, Danau Maninjau laksana gadis yang murung dalam sepi dan terus terasa semakin sepi. Gemercik airnya seakan mendendangkan kesedihan. Sedih karena ditinggalkan pergi oleh yang selama ini menemani. Semua pergi satu persatu semenjak kedatangan puluhan ribu Keramba Apung.
Anak-anak Danau sudah enggan berenang dan mandi di danau. Turis pun tak lagi betah memghabiskan waktu di Pinggiran Danau. Hampir setiap tahun ribuan ikan mati, bangkainya mengapung di permukaan air danau. Udara yang tadinya segar berubah menjadi busuk menyengat hidung. Orang-orang menutup hidung ketika melintas dan bergegas ingin segera menjauhi danau. Kaca-kaca mobil tertutup rapat sambil berlari kencang.
Bukan hanya itu, Rinuak dan Pensi pun mulai meninggalkan Danau. Rinuak mulai pergi menghilang entah kemana. Pensi mulai mencari kehidupan baru di bandar di pinggiran danau bahkan ada yang sampai ke anak-anak sungai Batang Antokan.
Jangan-jangan karena bau busuk itu, si Bunian pun mungkin telah pergi meninggalkan Istana megahnya di barisan bukit keliling Danau Maninjau. Tidak pernah ada lagi cerita tentang terdengarnya bunyi "Aguang" dari hutan di bukit itu tandanya Bunian Baralek Gadang.
Dan, mungkin pula Bujang Sambilan juga telah pergi, tidak kuat lagi menghuni Danau karena airnya tidak lagi bersih.
Ah,... tetapi bukan itu yang utama membuat Puti Ransani ingin segera pulang. Dia ingin mencari cintanya yang dulu hilang, kasiah tak sampai. Mencari Si Giran tunangannya, anak tungga babeleang Mamak Kanduangnya Datuak Limbatang.
Cinta Puti Ransani yang yatim piatu kepada Si Giran tak sampai ke pelaminan karena terhalang restu kakak-kakak kandungnya, Bujang Sambilan. Puti Ransani dan Si Giran difitnah telah melanggar adat.
Keduanya bersumpah di tepi kawah Gunung Tinjau bahwa mereka tidak melakukan apa yang dituduhkan Bujang Sambilan. Setelah itu Puti Ransani dan Si Giran melompat kedalam kawah tetapi tubuh keduanya malah melayang, lalu dibalut awan dan membubung ke angkasa.
Meninggalkan Gunung Tinjau yang kemudian meletus dan akhirnya berubah menjadi kawah besar dan kelak menjadi Danau Maninjau yang dihuni sembilan ekor Ikan Rayo jelmaan Bujang Sambilan.
Pada hari yang sangat cerah Puti Ransani turun dari khayangan. Tempat yang pertama dia tuju adalah rumah mamaknya Datuk Limbatang.
Kedatangannya disambut haru oleh Datuk Limbatang.
"Uda Giran dima kini Tek?"; tanya Puti Ransani kepada isteri mamaknya.
"Etek tidak tau Sani, sejak kejadian kalian dipuncak Gunuang dulu.... Si Giran tidak pernah lagi kembali pulang!". Jawab isteri mamaknya dengan suara bergetar.
"Di sebelah barat danau ini ada kampung bernama Sigiran, pergilah kesana, mungkin disana ada petunjuk keberadaan Si Giran!"; sambung Datuk Limbatang.
Puti Ransani lalu mohon pamit akan pergi ke Sigiran. Tetapi sebelum Puti Ransani melangkahkan kaki meningalkan rumah Datuk Limbatang terjadi kehebohan. Banyak orang berkumpul dan bertanya kepada Datuk Limbatang siapa perempuan yang baru saja datang itu.
"Puti Ransani kemenakan kandungku, tunangan anakku Sigiran!"; jawab Datuk Limbatang.
"Bukankah si Sani telah meninggal ketika melompat ke dalam kawah bersama Si Giran!"; ujar seorang dengan nada heran.
"Tidak, saya tidak meninggal... saya diterbangkan ke khayangan, sekarang saya turun mencari Uda Giran!"; Puti Ransani berkata sambil berdiri ditengah kerumunan orang.
***
Ketika kemarin heboh-heboh ada benda aneh jatuh dari langit dan mendarat di Sungai Batang - Maninjau, mungkin ada yang berimajinasi macam-macam.... Alien, serpihan pesawat atau apalah. Saya entah kenapa berimajnasi itu "kendaraan" Puti Ransani yang turun dari khayangan.... mencari Uda Giran nya. Mencari cintanya yang tak kesampaian. Hehehe
Lubuk Basung, 19 Juli 2017

Status Facebook

Cerita Reuni : Pulang
Ketika sedang berkumpul (reuni) dengan kawan semasa sekolah, saya menanyakan motivasinya yang setiap tahun pulang kampung. Bahkan bukan sekali setahun, bukan setiap hari raya tetapi kadang sampai 2 - 3 kali setahun. Padahal jarak tempuhnya lebih dari 30 jam !
"Mancaliak rang gaek", jawabnya. Dan selanjutnya dia bercerita;
"Ibuku sudah semakin tua, 79 tahun umur beliau. Tiga tahun belakangan kondisi beliau "makin coyoh" semakin renta. Setiap melihat beliau ada rasa khawatir apakah tahun depan, hari raya tahun depan masih bisa bertemu beliau.
Saya sudah kehilangan Ayah, rasanya sangat menyedihkan. Sampai saat ini ketika berada di pusara Ayah, selalu ada rasa sedih karena tidak sempat menyenangkan hati beliau.
Saya tidak ingin itu terjadi lagi terhadap Ibu. Perjalanan pulang 30 jam itu terasa sangat jauh, sangat jauh dan lama. Saya ingin segera bertemu Ibu. Momen ketika beliau tersenyum menunggu didepan pintu itu yang membuat rindu. Terlihat beliau sangat senang melihat saya pulang"
"Ya, pulanglah selagi bisa pulang dan temui ibu, peluk dan senangkan hati beliau, ciumi kaki beliau sembari memohon maaf!" Kata kawan yang lain menanggapi.
"Saya merindukan kesempatan itu tapi sudah tidak bisa karena ibu saya telah tiada!!. Kesempatan itu tidak bisa diukur dengan uang, tidak bisa !
Mungkin biaya untuk pulang bertemu ibu itu bisa lebih dari 5 atau 10 juta dan kita berpikir lebih baik uang itu dikirim saja untuk beliau. Jika itu yang kita lakukan maka bukan hanya sedih kehilangan tetapi juga sesal yang kita rasakan dipusara beliau nantinya"
***

Lubuk Basung, 1 Juli 2017

Konon Ceritanya Kita Bersaudara
Menyikapi kondisi kekinian, tergerak juga hati untuk berciloteh.
Sepertinya kita terjebak pada kondisi yang Ndak Berkelincitan, Bertea-tea, Ndak Sandereh!! Saling benci tak berkesudahan. Padahal kita sering menonton bahwa Muhammad Ali, Mike Tyson dan para Petinju lainnya ketika saling memukul untuk mengalahkan atau menjatuhkan lawannya setelah pertandingan usai dan lawannya sudah kalah bahkan K.O sekalipun mereka selalu merangkul dan memeluk l
awannya. 
Tetapi kita sepertinya tidak, yang disudut sana membenci yang di sebelah sini. Kelompok itu membenci kelompok lainnya. Saling membenci dan saling menghujat.
Padahal, konon ceritanya, kita semua sesama manusia yang ada di Planet Bumi ini Badunsanak. Berdunsanak dengan Raja Salman yang kaya raya dari Arab, berdunsanak dengan Bangsa Jerman yang Juara Dunia Sepakbola. Juga berdunsanak dengan Ahok yang China. Apalagi dengan Rizieq Shihab atau Syafii Maarif, kita berdunsanak. Berdunsanak karena di Arab, di China ataupun di Pariaman air laut itu konon sama rasanya, asin !
Konon ceritanya, kita badunsanak karena Inyiak Moyang kita adalah sama yaitu Iskandar Zulkarnain. Satu garis keturunan !
Beliau mempunyai tiga orang anak yaitu; yang Gadang bernama Mararajo Alif moyangnya Raja Arab, yang tengah adalah Inyiak-nya si Ahok yang bernama Pangeran Zi Pang. Dan yang si Bungsu bernama Maharajo Dirajo yang merupakan Inyiak Urang Awak, inyiak dari Buya Syafii Maarif, inyiak Denai juga dan inyiak awak sadonyo.
Oleh karenanya, yang membedakan itu hanya Suku, Agama, warna kulit. Sementara Otak, Lagak, Selera dan Perangai kita "salin-basalin" Ada Habibie, yang ber-Otak Jerman, ada urang awak yang berlagak orang Arab, ada urang awak yang berperangai seperti orang China. Bahkan ada yang melebihi perangai buruk bangsa lain, seperti ungkapan; "ateh lo dari Bulando mintak tanah". Begitu sebaliknya.
Sudahlah, jangan diperturutkan juga sakit hati itu, nanti benar-benar sakit. Hahaha !

Lubuk Basung, 10 Mei 2017

Thursday, April 6, 2017

Cerita : Uda, I Love You Too !! (part 2)

Malamnya, mereka berkesempatan duduk berdua dan bercerita di teras rumah yang menghadap ke arah danau Maninjau. Keindahan Maninjau bukan hanya di siang hari. Malam hari Maninjau juga sangat mempesona. Bagai memandang hiasan cahaya yang melingkar mengelilingi danau.
Dari teras rumah itu Danau terlihat sangat dekat, dan seperti duduk di tepi danau, lampu-lampu keramba terlihat berkerlap kerlip cahaya laksana bintang yang bersenandung menemani Danau Maninjau. Tenang, sepi....damai…tidak ada riak....diam...seakan danau-pun beristirahat melepas penat. Tapi tidak dengan 2 anak manusia itu.
“Aida !” suara Irwan seperti mendesah dan berbisik.
“Ya Uda!” Jawab Aida pelan. “Ada yang ingin kusampaikan, tidak tahu apakah ini ada gunanya atau tidak”
“Apakah sama dengan yang ingin uda sampaikan di bandara ?” Aida berdebar menunggu.
Ingatan Irwan dan Aida kembali melayang mengingat pertemuan terakhir di bandara itu. Ketika sama-sama terpaku. Saling berpandangan seakan saling berusaha untuk menyampaikan sesuatu. Tetapi hanya bisa dilakukan lewat tatapan. Dan akhirnya mereka berpisah.
“Ya Aida, namun lebih banyak dari itu, ada lagi yang lain...yang aku rasakan sejak siang tadi”.
“Sampaikan lah uda !”
“Tidak tau persis apa sebab awalnya…tapi ada yang tarasa beda ketika pertama kali melihatmu, ada getar dihati, kemudian tubuh ini seperti menuruti kata hati, entah itu persepsi yang salah atau tidak.  Ada rasa takut dan malu untuk mengungkapkannya, ada pula keinginan untuk menyampaikannya, tetapi waktu kita terlalu singkat...”
“Uda, aku tahu semua itu...dari tatapan itu...ada sesuatu disana..dan bahasa tubuh uda,...”
“Ya, entah ini persepsi yang salah, ada jawaban pula dari bahasa tubuh dan perhatian darimu, dari itu aku mulai berani berharap walau masih dalam hati, ketika masa itu akan berakhir, ingin sekali mengungkapkannya...I Love You!”
Ndeeeh Udaaa, merinding mendengarnya…ndak tau mesti bagaimana.  Ini tidak boleh ada uda, tidak mungkin...terlarang. Please Uda, buang jauh jauah rasa itu…!”, Aida gemetar. Hatinya berkecamuk dan matanya berlinang.
Terlarang dan tidak mungkin memang! Tapi tidak akan aku buang, melainkan akan disimpan jauh-jauh dalam hati karena baru kali ini merasakannya tapi ini pula yang terjadi” Irwan mengalihkan pandangannya ke arah danau, menatap jauh.
“Biarlah ini menjadi kenangan ketika nanti kembali ke Gorontalo. Mungkin aku akan cerita ke ayah bahwa keinginan beliau untuk bermenantukan gadis Minang hampir saja terlaksana” Lanjut Irwan.
Simpanlah kalau Uda ingin menyimpannya. Akupun tidak kuat menahan hati sejak siang tadi, pikiranku berkecamuk, mengapa begini. Sejak berpisah itu, ada rasa rindu ingin bertemu lagi tetapi tidak menyangka akan secepat ini dan seperti ini.  Entahlah uda...sesak dada ini terasa”, Aida berhentik sejenak, menarik nafas panjang.
“Mudah-mudahan uda mendapat mendapatkan si Upiak (Gadis Minang) sesuai harapan Ayah”
“Aida, suruh lah Udamu itu istirahat, besok pagi-pagi Mak Datuak menyuruh kerumahnya di Sungai Batang. Pulang dari situ, ajak lah Udamu keliling danau!” terdengar suara Nursidah setengah berteriak dari dalam rumah.
Aida dan Irwan saling berpandangan, kemudian Irwan melihat jam ditangannya, pukul 10 malam.
“Istirahat lah Uda, besok kita kerumah Mamak !”
***
Pagi-pagi, dengan memakai motor yang biasa dipakai Aida kerja di Kantor Pemerintah Daerah mereka pergi ke rumah Mamak Menan yang berjarak sekitar 3 km dari rumah Aida.
Irwan membawa motor itu dan Aida berbonceng di belakang. Beberpa kali Irwan tergagap karena jalan yang berliku dan menurun tajam. Beberapa kali pula Aida beteriak kecil, “Awas Udaa!!” sambil berpegangan pada bahu Irwan.  Hampir saja Irwan hilang konsentrasi, bukan karna jalan itu tetapi karena sentuhan Aida. Darahnya berdesir. Aida cepat menyadari dan segera menurunkan tangannya dari bahu Irwan. Tetapi kondisi jalan yang menurun tajam, mau tidak mau tangannya harus memegang punggung Irwan,kalau tidak maka badannya kan terdorong kedepan.
Cuaca mendung seperti mauhujan lebat. Angin bertiup kencang. Tidak sampai 10 menit mereka sampai di rumah Mamak Menan. Disana Irwan diperkenalkan kepada isteri dan anak-anak Mamak Menan. Mamak Menan mempunyai 3 orang anak yang kesemuanya perempuan tapi yang ada dirumah hanya 2 orang. Anak perempuannya yang sulung tinggal di Jakarta ikut suaminya. Yang nomor baru tamat sekolah kebidanan, dan yang bungsu kelas 3 SMA. Setelah bersalam-salaman Isteri dan kedua anak Mamak Menan serta Aida langsung menuju dapur.  Sementara Irwan dan Mamak Menan duduk diruangan tamu.
Baru sebentar berbicang-bincang, terdengar suara Aida,
“Mamak, Da Irwan..nasi sudah terhidang, silakan makan”
“Ayo Irwan, mari kita makan” sambung Mamak Menan sambil berdiri dan berjalan ke arah meja makan yang ada di ruangan tengah rumah itu.
Irwan pun berdiri mengikuti Mamak Menan. Irwan duduk dikursi kosong sebelah kanan Mamak Menan. Disampingnya duduk Aida. Pas didepannya duduk anak menan yang baru tamat sekolah kebidanan.
“Makan lah Irwan, ada panggang ikan danau, goreng bada masiak jo palai rinuak, jarang-jarang ada di Sulawesi !” ujar isteri Mamak Menan.
“Iyo Etek!”, sahut Irwan sambil mengangguk pelan.
Irwan makan dengan lahap, dua kali nambah. Masakan itu enak sekali dan terasa pas sekali di lidahnya. Mungkin karena dia keturunan Minang dan mungkin juga karena isteri Mak Menan pintar memasak.
Ketika hampir selesai makan, terdengar hujan mulai turun. Makin lama makin lebat. Irwan dan Aida saling berpandangan.
“Ada apa?” tanya Mamak Menan ketika melihat Irwan dan Aida saling bertatapan begitu.
“Ini Mamak, tadi rencananya setelah dari sini, Aida akan mengajak Uda Irwan keliling Danau...ke Bayur, ke Muko-muko, Tanjung Sani....kan besok Da irwan akan balik Mamak!”, sahut Aida.
“Oo...tunggu saja...mudah-mudahan hujan reda, baru berangkat kalian!”
“Iya mamak!” sahut Aida dan Irwan hampir bersamaan.
***
Ternyata hujan tidak reda-reda juga. Langit bahkan semakin kelam seakan akan menumpahkan semua air yang ada dilangit. Hingga pukul 4 sore Irwan dan Aida terkurung di rumah Mak Menan. Irwan resah karena hasratnya untu berkeling danau berdua dengan Aida tidak tercapai. Dan pembicaraan di rumah Mamak Menan pun mulai terasa membosankan karena topiknya sudah berulang-ulang. Keresahan Irwan itu diketahui oleh Aida, sesekali Aida tersenyum sambil menatap kepada Irwan seakan memberi tahu,”hari hujan, tidak mungkin kita pergi”.
Irwan seakan mengerti isi tatapan Aida itu dan itu membuat hatinya lega apalagi Aida tersenyum sangat manis seperti ketika saat pertama kali melihat senyum itu.
Setelah shalat Asyar, hujan mulai reda. Dan kesempatan itu dipergunakan Irwan dan Aida untuk pamit. Tetapi pamit untuk kembali pulang karena tidak mungkin lagi pergi berkeliling danau, sudah sore dan cuaca tidak mendukung.
Baru saja sampai dirumah hujan kembali turun dengan deras. Bahkan semakin deras bunyinya. Irwan dan Aida kembali duduk di teras memandang ke Danau yang tidak terlihat jelas karena curah hujan yang deras.
Sudah beberapa saat berlalu keduanya masih saling diam. Irwan menatap jauh ke arah Danau, entah apa yang dilihatnya karena tidak ada yang bida dilihat kecuali hujan.  Bahasa tubuhnya menyuratkan kegelisahan.
Aida sedari tadi memperhatikan perubahan sikap Irwan. Berkali-kali Aida berusaha meberikan senyuman agar Irwan juga tersenyum tapi balasan senyum Irwan menggambarkan kesedihan.
“Udaa...!
“Ya Aida..” jawab Irwan sambil menoleh kepada Aida, tetapi kemudian kembali menatap lurus kedepan.
“Cerita lah uda...jangan hanya diam!”

“Cerita apa Aida,...besok aku pergi, pulang...dan mungkin kita tidak kan betemu lagi!”

Bersambung.....