Sunday, February 10, 2013

Jangan Pilih Kuciang Aia…..!!!


Entah siapa yang memulai, banyak para pengamat politik mengintrodusir “Calon Anggota Legislatif (Caleg)” sama dengan Kucing, sehingga muncullah istilah-istilah yang memakai kata kucing yang berkaitan dengan masalah Caleg, seperti Kucing dalam Karung. Dan pengibaratan tersebut akan lebih klop jika dikaitkan pula dengan karakteristik Kucing dan Tikus serta Anjing karena ketiga binatang tersebut mempunyai hubungan kehidupan timbal balik yang sangat erat dan biasanya hidup dalam sebuah rumah. Pengibaratan yang bukan lagi sebatas Caleg tetapi lebih dari itu yaitu sebuah Negara (rumah), Anggota Legislatif (kucing), Koruptor (tikus) dan Aparat Keamanan/Hukum (Anjing).
Pada Pemilu 2004 ada iklan yang berbunyi, “Dalam Pemilu sebelumnya kita Memilih Kucing Dalam Karung, maka kali ini Kucingnya tidak ada dalam karung”. Iklan ini adalah untuk mensosialisasikan bahwa Pemilu sekarang kita bisa langsung memilih orangnya untuk menjadi Anggota Legislatif (DPR, DPRD dan DPD), tidak seperti sebelumnya yang hanya memilih partai sedangkan Anggota Legislatif ditentukan oleh Partai.
Jika Iklan pendek tersebut dijadikan sebuah Cerita maka banyak polemik yang bisa dimunculkan agar Iklan pendek tersebut menjadi cerita yang panjang… misalnya, Dulu sewaktu memilih Kucing Dalam Karung kita berspekulatif… kita memilih tetapi tidak tahu apakah kita akan mendapat kucing baik atau kucing jelek. Kita hanya bisa melihat karung saja tanpa tahu persis isinya kecuali bahwa di dalamnya ada beberapa ekor kucing.
Ada berbagai alasan orang untuk menentukan pilihan: ada yang memilih karena karungnya bagus dan bersih, dan berpikir sudah tentu isinya juga bagus dan bersih. Ada yang memilih karena isi karung… kalau karungnya berguncang-guncang hebat pastilah didalamnya terdapat kucing yang kuat dan gesit. Ada juga  yang memilih karena karung itu diam saja, berpikir pastilah kucingnya baik-baik semua, tidak suka ribut-ribut.
Alasan memilih karena suka di atas bisa kita balik untuk alasan orang yang menentukan pilihan karena tidak suka, aku pilih yang ini saja karena yang itu ribut melulu
Memilih di antara pilihan yang kelihatan jelas akan membuat kita leluasa memakai bermacam kriteria dalam memutuskan pilihan sesuai yang diinginkan… apakah dari kelaminnya, warna belangnya, posturnya, bunyi meongnya, atau keterampilannya, dan untuk apa kucing itu kita pilih. Apakah akan digunakan sebagai pembasmi tikus atau sekedar untuk dielus-elus.
Di sisi lain kita sudah memahami betul bahwa dari dulu hingga kini sangat banyak Tikus berkeliaran di sekitar kita, kelakuan mereka sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari… kadang beras kita dimakan, sambal kita yang dicuri, tong sampah kita diobok-obok, bahkan suara mereka entah itu berkelahi atau bergelut di atas loteng membuat kita susah tidur. Ukuran mereka pun semua type ada mulai dari yang normal, yang sangat kecil bahkan yang seukuran kucing pun ada. Mereka sangat gesit dan pintar… kita lengah sekejap makanan kita sudah tinggal sisa.
Karakter Anjing boleh dikatakan sama dengan Kucing… Cuma dalam tugas Anjing mendapat posisi lebih strategis yaitu melindungi rumah dari ancaman pencuri maupun tamu tak diundang….
Kita ibaratkan dalam Negara saat ini kita sedang menuju jurang kehancuaran.. karena para Tikus (Koruptor) sangat meraja lela. Hampir disetiap sudut mereka ada dan mengincar apa saja yang bisa dimakan.. incaran utama mereka tetap beras (Bulog) tetapi mereka juga memakan kabel-kabel dan Dinding lemari. Sementara Kucing-kucing (Politikus & Pejabat Negara) kita tidak kuasa menghadapi serangan tikus-tikus tersebut. Kucing kita kalah gesit… Lemari (Bank) sudah bobol baru memeong, sementera tikusnya sudah kabur. Kucing kita tak ubahnya “Kucing Tua” yang tidak bisa apa-apa kecuali menuggu dikasih makan atau menunggu empunya lengah dan ikut-ikutan mencuri makan. Kucing kita juga sudah tidak ada wibawa terutama dimata para Tikus… mereka tidak lagi ditakuti, karena jangankan untuk menguber Tikus… menangkap cicak yang jatuhpun tidak sanggup!
Kondisi tersebut bertambah parah ketika para Anjing turut campur urusan Kucing… mereka jadi sering berkelahi soal teritorial dan wewenang dan terus menjadi musuh berbuyutan. Apa jadinya… Tikus pada terbahak-bahak dan tepuk tangan sambil berkata… teruskan permusuhan kalian sementara kami akan teruskan pekerjaan kami.
Kita sebagai pemilik kadang-kadang memang lupa diri, tidak waspada…entah sudah beberapa kali lumbung beras dan lemari kita dibobol Tikus tetapi kita tidak mengambil tindakan tegas. Padahal kalau mau ada caranya, yiatu.. diracun saja! Mungkin timbul masalah, bagamaimana kalau Kucing dan Anjing ikut kena racun? Biarin saja… kalau ada Kucing dan Anjing yang memakan umpan untuk Tikus berarti mereka bukan yang baik. Kucing dan Anjing yang baik tentunya sudah tahu makan dimana, kan makanannya sudah dijatah (Gaji)… kalau coba-coba mencari makanan lain resikonya ya itu, kena Racun Tikus, Mati!
Kesimpulannya… nanti pada Pemilu 2014 akan ada lebih ribuan bahkan puluhan ribu calon Kucing dan kita harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Walaupun secara Ekstrim dikatakan lebih baik memilih kucing dalam karung, walapun spekulatif tetapi masih ada “sedikit” harapan, siapa tahu dalam karung itu ada yang bagus dan kita beruntung memilihnnya, dari pada sekarang terbuka tapi tak satupun yang bisa diharapkan. Orang Minangkabau bilang, dulu ndak tau nan ka dipiliah, antah rancak antah busuakkini lah dibukak karuangnyoe.e ruponyo Kuciang Aia sadonyo, lai juo nan lain tapi Kuciang Ijuak pulo.
Kita harus tetap berfikir optimis, bahwa dari sekian ribu calon tentu ada sebagian yang bagus… nah pilihlah yang bagus… dengan memilih yang bagus minimal kita telah ikut menghalangi yang jelek untuk dapat suara. Selain berbuat baik kita juga harus mencegah kemungkaran… setuju! Ayo memilih.

No comments:

Post a Comment