Tuesday, November 13, 2018

“Hoe at het met jou?”


Pagi ini, imajinasi saya melayang mengenang Persahabatan Soekarno dengan Moh. Hatta. Persahabatan yang melahirkan Proklamasi Kemerdekaan, Pasangan Presiden dan Wakil Presiden, Dwi Tunggal dan pada akhirnya berpisah dengan mundurnya Hatta dari jabatan Wapres.

Semua orang tahu bahwa antara Soekarno dan Hatta sangat berbeda dalam banyak hal, terutama aliran pemikiran dan perfomance. Soekarno sangat stylish, blak-blakan, dan egois. Sebaliknya, Hatta sangat sederhana, lembut dan demokratis.

Hatta adalah pengkritik sejati terhadap pemikiran dan kebijakan Soekarno. Apapun yang dilakukan Soekarno yang tidak tepat selalu mendapar kritikan oleh Hatta, mereka ibarat perang yang tidak usai. Tetapi itu tidak mengurangi persahabatan keduanya.

Sampai pada suatu waktu, ketika Soekarno bersikeras akan memasukan unsur Komunis ke dalam kabinet, Hatta tidak menyetujuinya. Bahkan Hatta memutuskan mengundurkan diri sebagai Wapres karena pertimbangannya tidak lagi didengar Soekarno. Sepeninggal Hatta, Soekarno semakin egois, kekuasaannya makin sentralistik dan dia menginginkan kekuasaan yang abadi, semua keinginannya tidak ada yang mengkritik.

Dari sanalah cerita persahabatan itu mulai terasa sangat berarti. Soekarno dengan segala kekuasaannya merasa kesepian karena tidak ada lagi Hatta disisinya. Tidak ada lagi orang yang mengkritiknya, tidak ada lagi orang yang membantah omongannya, tidak ada lagi mendebat pendapatnya. Soekarno hanya dikelilingi anak buah yang selalu menurut apapun kemauannya. Tetapi itulah yang membuatknya makin tidak disukai dan pada akhirnya akan membuat kekuasaannya mulai digerogoti dan semakin melemah.

Hatta adalah Konco Arek - Lawan Barek bagi Soekarno, kawan sejati sekaligus lawan sejati. Disaat kesendirian Hatta sangat dirindukan oleh Soekarno, Istana terasa sepi dan dingin, tidak ada suasana panas, tidak ada kritikan, tidak ada bantahan. Yang ada hanya ada anggukan diiringi bungkukan badan, “siap Tuang Presiden, Panglima Tertinggi!! kami siap laksanakan!. Semua hanya mengabarkan “aman terkendali”. Tidak ada kabar bahwa rakyat tidak suka, marah. Tidak ada kabar bahwa banyak pihak yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno.

Dalam imajinasi saya, ada kejadian ketika sedang sendiri itu, seorang pelayan Istana berkata kepada Soekarno;

“Apa yang tuan menungkan?, kenapa wajah tuan murung?’

Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Soekarno, dia tetap melamun dengan wajah yang murung. Tatapannya jauh menembus tebalnya dinding Istana.

“Biasanya disaat-saat seperti ini ada Bung Hatta disini menemani Tuan, dan Tuan tidak pernah murung jika ada Hatta”, ucap pelayan itu.

“Jangan kau ingat-ingatkan juga Hatta itu pada saya, itu membuat saya semakin bersedih”, jawab Soekarno tanpa menoleh.

“Tuan telah salah, tuan lebih mendengarkan orang lain, tidak mendengarkan Hatta. Tuan membuat Hatta pergi meninggalkan Tuan. Tetapi hamba yakin, Hatta tidak membenci Tuan. Hatta hanya ingin agar Tuan bisa lebih leluasa mewujudkan keinginan Tuan, Hatta tidak ingin Tuan terganggu dengan pendapatnya”.

Soekarno masih diam terpaku, tubuhnya diam, tetapi dadanya berguncang menahan beragam rasa.

“Tahukah Tuan? Sepeninggal Hatta, Tuan semakin otoriter, tidak terkontrol. Semakin banyak orang dan pihak yang tidak suka, bahkan membenci Tuan. Orang yang Tuan percaya sepeninggal Hatta, bukan membuat Tuan semakin dekat dengan rakyat tetapi semakin menjauhkan. Membuat semakin banyak yang ingin melawan dan memberontak kepada Tuan”.

Soekarno tersentak, berdiri dan bergegas meninggalkan pelayan itu sambil menghempaskan pintu.

Hingga pada akhirnya ketika Soekarno bukan lagi jadi Penguasa, kesehatannya menurun dan dia diisolasi dan dirawat di RSPAD.

“Hoe at het met jou?”, sapa Soekarno sambil menggenggam erat tangan Hatta. Sapaan seorang sahabat sejati sudah lama tidak bertemu. Sapaan antara dua orang manusia tanpa ada lagi embel-embel keuasaaan. Tidak ada lagi Soekarno yang gagah perkasa dengan segunung kekuasaan.

Sapaan Soekarno menggambarkan kesedihan dan penyesalannya telah berpisah dengan Hatta. Sapaan itu juga merupakan pengakuan bahwa Hatta benar, apa yang disampaikan Hatta selama ini benar adanya.

Hatta larut dalam kesedihan, airmatanya tumpah, bahunya berguncang. Hatta tetap menggenggam erat tangan Soekarno, tidak ingin melepaskannya. Bahkan ketika Soekarno berusaha memakai kacamata untuk dapat melihat wajah Hatta, sahabatnya itu. Seperti melihat untuk yang terakhir kali.

Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970 dan Hatta meninggal dunia 10 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 14 Maret 1980. Keduanya meninggalkan sejarah panjang yang tidak akan pernah berhenti untuk diingat bangsa ini. Sejarah perjuangan memerdekakan dan memimpin Republik ini.

Sejarah persahabatan sejati, yang berpisah karena perbedaan pandangan politik tetapi tetap bersahabat hingga akhir hayat. Setelah meninggal pun mereka tetap bersatu, pada banyak tempat nama keduanya selalu diabadikan berdua, Soekarno - Hatta.

Sahabat sejati, tidak selalu mengiyakan atau menyetujui omongan kita. Dia ibarat cermin yang memantulkan kebaikan ataupun keburukan kita. Jangan biarkan orang lain membuat kita menjauh dari sabahat sejati.

Lubuk Basung, 15 Nopember 2018