Friday, November 11, 2016

Indra Piliang Bela Buya Syafii Maarif dan Alasan Mengapa Buya Syafii Ma’arif Terkesan Mati-Matian Bela Ahok

Perbedaan pendapat Syafii yang membuat banyak pro dan kontra, terutama di media sosial. Juga ada Surat Terbuka untuk Buya Syafii Maarif di salah satu media online beberapa waktu lalu. Politikus Indra J Piliang miris dengan perlakuan terhadap Syafii.
Berikut tulisan Indra J Piliang tersebut :

Sedih melihat Buya Sjafii Maarif diberlakukan spt ini. Beliau diketahui adalah oang yang tidak gila kuasa. Ditawari macam-macam, beliau tak mau. Keberpihakan Buya Sjafii Maarif terhadap pluralisme adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ia sejak kecil tinggal dengan ibunya, hidup bersama eteknya. Sampai Buya Sjafii Maarif jadi tokoh nasional, kampungnya pun belum dialiri listrik. Hampir sama dengan kampung masa kecil saya, listrik ada tahun 2002.
Buya Sjafii Maarif terlambat masuk bangku kuliah, terlambat jadi Sarjana Muda, dll, karena membanting tulang sebagai anak rantau. Ia mekanik juga. Riwayat hidup Buya Sjafii Maarif tidak dibentuk lewat perkoncoan, percaloan, apalagi perbualan politik. Ia andalkan delapan kerat tulangnya. Ia tidak menghamba kepada konglomerat manapun. Ia lebih senang hidup sebagai seorang guru, seorang pendidik, seorang pecinta ilmu.
Apa setelah jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Sjafii Maarif lantas pindah jadi warga DKI Jkt? Apa terompahnya sering terlihat di pintu Istana?. Kesederhanaan Buya Sjafii Maarif ini mirip dengan alm Ketum DPP Partai Gerindra yang rumahnya tiris itu. Kesederhanaan angkringan ala Yogya. Apa Buya Sjafii Maarif punya rumah di area2 elite Jakarta? Apa Buya punya istri simpanan? Apa Buya naik mobil2 mewah? Apa tubuhnya penuh lemak?.
Meme2 yang dibuat untuk Buya Sjafii Maarif menurut saya sangat tidak pantas, tidak etis, amoral! Meme2 itu seperti serangan kaum thogut kepada orang2 yang berprinsip. Sudah berapa ratus anak2 muda negeri ini yang dapat beasiswa atas tandatangan & rekomendasi Buya Sjafii Maarif? Apa ia sosok orang2 loba & tamak?
Taburangsang juga saya dengan cara2 buruk dan jauh lebih busuk dari berjenis serangan terhadap Buya Sjafii Maarif. Mau saja diadu domba orangg2 tak berakalbudi!. Buya Sjafii Maarif hanya memberikan pendapatnya. Ia juga bukan tipikal saksi2 ahli yang dibayar ratusan juta di muka sidang2 sengketa pilkada!.
Apa Buya Sjafii Maarif pernah terlihat kongkow2 di hotel2 mewah, dikawal orangg2 bersafari & perempuan2 berparfum menyengat hidung, bermewah2? Apa Buya Sjafii Maarif pernah terbaca muncul dalam iklan2 untuk bepergian ke tanah suci; dengan biaya mahal, kursi eksekutif, hotel bintang lima? Apa kaki Buya Sjafii Maarif terlihat jarang menyentuh tanah, dikawal dari satu forum ke forum lain, naik helikopter, dengan manajemen eksekutif?
Apa Buya Sjafii Maarif pernah terdengar menentukan tarifnya, ketika diundang ceramah agama atau ilmu pengetahuan, di suatu tempat?. Apa Buya Sjafii Maarif dengan mudah menyimpan nomor2 telp para pejabat pusat dan daerah, lalu dengan mudah juga memenuhi undangan2 yang bukan tabligh ilmu?.
Sejak kapan berbeda pendapat adalah bagian dari upaya membunuh karakter seseorang, menyatakan kebencian, hingga menghina seseorang di negeri ini?
Tirulah sikap Buya HAMKA yngg sengit berdebat dengan Mangaradja Onggang Parlindungan tentang Tuanku Rao. Walau keduanya perang opini, mereka satu shaf!!.  Buya HAMKA & Mangaradja Onggang Parlindungan yg 'perang' dengan menulis buku tentang Tuanku Rao itu, sering terlihat sholat berdua di Mesjid Al Azhar!.
Tirulah Buya M Natsir (Masyumi) & IJ Kasimo (Partai Katolik) yang saling mengantar pulang, saling menggendong cucu, setelah debat di Konstituante".
Apa debat yang paling hebat pascakemerdekaan, selain soal azas negara Indonesia? Apa tokoh2nya saling menghasut setelah debat seru di mimbar?". Singa2 podium yang muncul dalam sidang2 Dewan Konstituante itu apa saling menebar isu insuniatif tentang lawan2 debat yang berbeda degannya?.
Jika almarhum Buya HAMKA masih hidup, saia yakin, beliau akan sangat resah dengan cara2 tidak beradab yang digerakkan untuk memusuhi Buya Sjafii Maarif. Buya Sjafii Maarif tidak punya laskar, tidak punya pasukan berani mati, tidak punya pengawal bersenjata. Ia tak akan membalas cacian orang2. Buya Sjafii Maarif tidak akan taburangsang, reaktif, dengan langsung melaporkan pihak2 yg membuat hinaan2 yang disebarkan jadi viral di medsos.
Berkacalah di cermin, lalu lihat wajah anda sendiri, sebelum dengan mudah memberi sinyal ke publik betapa anda lebih baik dari Buya Sjafii Maarif.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/16/11/10/ogf5j3330-indra-piliang-bela-buya-syafii-maarif

Dialog Anak-Anak Muda Muhammadiyah dengan Buya Syafii Maarif.

Di hari pahlawan ini beredar kabar akan ada demonstrasi di rumah Buya Syafii Maarif di Nogotirto Sleman. Saya dan kawan-kawan Pemuda Muhammadiyah lantas kesana. Buya Syafii Maarif adalah orang tua kami, menjaga Buya adalah prioritas kami. Setelah dzuhur kami kumpul di Masjid Nogotirto. Selang tidak berapa lama Buya muncul dari arah selatan, dibonceng sepeda motor. Buya habis beli nasi padang di pinggir jalan kampung.
Buya melihat kami di dalam masjid dan menyalami. Kami memperkenalkan diri dari AMM DIY, wajah Buya nampak berseri.
“Ayo kerumah saya,” ucap Buya. “Pak Haedar Nashir mau kesini, sebelum dia datang, kalian menemani saya,” tuturnya sambil jalan menuju rumahnya.
Kami lantas menuju rumah Buya yang letaknya di sebelah Masjid Nogotirto.
“Ayo apa yang mau kalian tanyakan,” tanya Buya.
“Kami nonton ILC, kenapa Buya melawan arus umat Islam tentang masalah Ahok?”
Ahok itu mulutnya memang tidak terkontrol, kasar. Ahok itu mana mengerti Agama, kesalahannya Ia masuk wilayah yang dia tidak pahami. Saya sudah nonton videonya berkali-kali. Saya paham bila berseberangan dengan mayoritas umat Islam. Sekarang proses pemeriksaan Ahok sudah berjalan. Kita lihat hasilnya. Saya ingat ajaran Kiai Amir Ma’sum dari Solo, mantan Pimpinan Majelis Tarjih, Untuk memahami Agama butuh hati yang jernih. Kalau tanpa hati yang jernih niscaya Al-Qur’an tidak tidak akan bersahabat dengan kita.
“Tapi Ahok didukung oleh sembilan Naga Buya?” kata teman saya
Saya setuju. Tapi fokus saya pada Ahok itu menistakan agama atau tidak, saya tidak mau masuk ranah politik. Soal Cina, saya sudah menulis di Koran Republika tentang bahaya Kuning di Republik ini. Saya mengkritik Jokowi yang terlalu pro pada Cina. Kalau saya membela Cina, tulisan itu tidak akan muncul di Koran Republika. KTP saya bukan Jakarta, saya tidak ada kepentingan politik membela Ahok, saya orang bebas. Saya mencintai republik ini 100% dan semua orang tahu.
“Bagaimana dengan sebagian anak-anak Muda Muhammadiyah yang bersebarangan dengan Buya, ada juga yang ikut demo 4 November 2016 kemarin di Jakarta?”
Saya dengar hari ini akan ada demo di rumah saya. Kalau ada yang demo kesini, saya ingin mengundang mereka, mengajak berdialog mereka. Yang tidak setuju tidak masalah. Kalau ingin ketemu dengan saya, akan saya ajak berdialog. Demo 4 November itu elegan, damai, walau terjadi sedikit kerusuhan.
Diskusi yang asyik ini selesai setelah Pak Haedar Nashir dan Pak Yunahar Ilyas tiba di rumah Buya Syafii Maarif.
Bagi kami anak-anak Muda Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif adalah orang tua kami. Kami akan menjaga Buya. Dari Buya kami diajarkan untuk belajar mensikapi perbedaan, diajarkan untuk tegar dalam berbeda pendapat. Perbedaan pendapat dengan seseorang jangan disikapi dengan kata-kata kotor, tetapi dengan dialog dari hati ke hati. Buya berpesan agar jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum, menjadikan kita tidak adil dalam bersikap.
Yogyakarta, 10 November 2016
Iwan Setiawan
Ketua Pemuda Muhammadiyah DIY
sumber :http://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/11/11/mengapa-buya-syafii-maarif-terkesan-mati-matian-bela-ahok-alasannya/

"Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu, dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur'an dan menghina ulama sehingga harus diproses secara hukum, semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab, fatwa atau pandangan agama itu benar, shahih, jelas atau sama seperti apa yang disampaikan ahli agama, jadi jangan percaya sama orang.
Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Perhatikan, apa terdapat penghinaan Al-Qur'an? Hanya otak sakit saja yang kesimpulan begitu, yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya, apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil, untuk kepentingan klarfiikasi atas legalitas pendapat keagamaan atau fatwa tentang adanya dugaan kasus penistaan atau penistaan agama yang dilakukan oleh saudara petahana Basuki Purnama."

—Ahmad Syafii Maarif
sumber :https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Syafii_Maarif

Wednesday, November 9, 2016

Adakah Perang Melawan Nepotisme?

Beberapa media televisi dan media cetak belakangan memberitakan suhu politik di Korea Selatan memanas setelah sahabat Presiden Park Geun-hye, Choi Soon-sil, ditangkap polisi karena dianggap telah campur tangan dalam urusan pemerintahan. Namun, ditangkapnya kawan Presiden tersebut tidak membuat protes warga mereda karena mereka juga menuntut Presiden Park Geun-hye mengundurkan diri. Karena perlakuan Presiden Park Geun-hye terhadap sahabatnya Choi Soon-sil termasuk bagian dari Nepotisme yang melanggar hukum.
Jaksa penuntut yang menginvestigasi kasus kedekatan Presiden Park Geun-hye dengan kawannya Choi Soon-sil menilai bahwa hubungan kedekatan keduanya tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, Presiden telah membiarkan kawannya yang warga sipil itu mendapatkan akses ke sejumlah dokumen rahasia negara yang membuatnya bisa mempengaruhi isu-isu pemerintahan. Choi Soon-sil juga dituding telah menggunakan "perkawanannya" dengan Presiden untuk mendapatkan keuntungan pribadi lewat sejumlah yayasan nonprofit.
Di Korea Selatan, Nepotisme juga merupakan perbuatan melanggar hukum. Jauh sebelum kasus yang melibatkan Presiden Perempuan Korsel tersebut, pada tahun 2010 semasa Presiden Lee Myung-bak, Menteri Luar Negeri Korsel waktu itu Yu Myung-hwan, mengundurkan diri jabatannya karena ketahuan melakukan nepotisme dengan mengangkat putrinya menduduki posisi strategis di Kementerian yang dia pimpin.
Apa yang terjadi di Korea Selatan saat ini mau tidak mau mengingatkan kita pada gerakan Reformasi 1998 yang memaksa Presiden Soeharto mengakhiri kekuasaannya setelah 32 tahun! Dimana salah satu pemicu gelombang reformasi tersebut adalah adanya tuduhan Nepotisme terhadap Presiden Soeharto.
Pertanyaannya, apa itu Nepotisme sehingga mampu memicu gejolak sebuah negara dan memaksa mundur seorang Presiden? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nepotisme adalah perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat; atau kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah; atau tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang pemerintahan walaupun objek yang diuntungkan tidak kompeten. 
Nepotisme diatur secara tegas dalam Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, menegaskan bahwa “Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa dan negara”.
Berdasarkan Undang-undang tersebut, jelas dan tegas bahwa Nepotisme adalah sebuah pelanggaran hukum. Persoalannya adalah sampai saat ini kita belum melihat ada perang melawan Nepotisme, belum ada Vonis Hakim yang menghukum terdakwa yang melakukan perbuatan nepotisme. Perang hanya dilakukan pada Korupsi, Vonis dijatuhkan hanya karena melakukan Korupsi, padahal korupsi tersebut dilakukan dan diawali dengan melakukan Kolusi dan Nepotisme.
Sejak Era Reformasi, Pemberantasan Korupsi memang terasa gencar dilakukan. Lembaga Anti Rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk, puluhan pelaku Korupsi ditangkap dan dihukum. Para Pejabat Pemerintahan, Menteri, Gubernur, Bupati/walikota; para tokoh Partai Politik, Ketua Partai, Anggota DPR dan Para Penegak Hukum itu sendiri Hakim, Jaksa dan Polisi ditangkapi dan dihukum karena kasus korupsi.
Tetapi kasus-kasus Nepotisme sepertinya lenyap dan terlupakan begitu saja. Contohnya, Nepotisme yang dilakukan Presiden Soeharto. Nepotisme yang dilakukan Presiden Soeharto benar-benar telah membuat rakyat sakit hati karena seluruh anak-anak Soeharto dan istrinya menjadi anggota DPR, disamping merangkap sebagai pengusaha, begitupula dengan sanak saudaranya yang lain.
Nepotisme yang dilakukan Presiden Soeharto tidak pernah tersentuh hukum. Dan yang mutakhir adalah nepotisme yang dilakukan oleh Ratu Atut Chosiyah di Banten. Kejahatan nepotisme yang dilakukan keluarga Atut tidak ubahnya dengan keluarga Suharto dimana seluruh anak-anak Suharto dan istrinya menjadi anggota DPR, disamping merangkap sebagai pengusaha kakap. Ratu Atut Chosiyah “hanya” dituntut Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi karena perbuatan Korupsi yang dilakukan secara, terstruktur, sistematis, dan massif atau disingkat TSM. Ratu Atut Chosiyah menguasai elit-elit birokrasi di pemerintahan dan elit-elit politik di Banten sehingga dia bisa dengan mudah mengatur dan menguasai semua proyek yang ada.
Kini kejahatan Nepotisme seperti itu terus bermunculan, terutama dalam pengangkatan pejabat birokrasi dan penunjukan pelaksana proyek-proyek setelah berlangsungnya Pemilihan Kepala Daerah. Ada candaan yang sering terdengar, setelah Pilkada semua pejabat sampai ajudan bahkan sopir akan berganti, begitu pula rekanan penyedia/pelaksana proyek.
Walau telah dibungkus sistim dan prosedur “kompetisi” tetap saja dengan mata awam sekalipun banyak sekali terlihat bahwa yang terpilih, diangkat atau ditunjuk itu adalah para keluarga, kerabat atau teman-temannya. Orang-orang yang lebih berkualitas dan memiliki kompetensi telah duluan tersingkir, tidak diberi kesempatan untuk berkompetisi menunjukan ilmu dan keahliannya.
Nepotisme sangat kentara terjadi pada birokrasi pemerintahan daerah sekaligus terkait dengan Pemilihan Kepala Daerah adalah dengan adanya gelombang mutasi Pejabat Aparatur Sipil Negera (ASN) antar daerah. Ketika jagoannya kalah dalam Pilkada maka mereka segera mengajukan permohonan pindah ke daerah yang Kepala Daerahnya mempunyai “hubungan kekerabatan” dengannya. Dan lima tahun kemudian akan kembali ke daerah tersebut jika yang menang adalah jagoan mereka. Petualang-petualang jabatan yang mengandalkan Nepotisme tersebut dapat dilihat pada pelantikan pejabat ASN setelah Pilkada. Pada daerah tersebut mudah terlihat siapa yang orang dekat dan tidak dengan Kepala Daerah.
Berkembangnya praktek Nepotisme membuat ASN terpaksa ikut-ikut berpolitik dukung-mendukung calon kepala daerah dengan motif imbalan jabatan. Walau secara kualitas ASN itu sesungguhnya memiliki pendidikan, kualifikasi dan keahlian memadai untuk berkompetisi secara fair dalam menduduki jabatan dimaksud. Tetapi adanya praktek nepotisme itu yang membuat pada akhirnya mereka “terpaksa” ikut berpolitik, atau paling tidak mencari orang dekat/tangan kanan Kepala Daerah untuk mengamankan jalan menuju menduduki jabatan tertentu.
Hal itu pulalah yang menyebabkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015, sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015, tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota,  ada aturan bahwa petahana atau incumbent dilarang melakukan penggantian pejabat 6 bulan sebelum masa jabatannya berakhir !
Lantas bagaimana caranya agar nepotisme tidak terus terjadi? Sesungguhnya momentum itu telah terjadi pada tahun 1998 dengan adanya tuntutan penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang pada akhirnya mampu memmbuat Presiden Soehato mengundurkan diri. Bahkan telah ditetapkan oleh MPR sebagai salah satu agenda reformasi, tetapi belum menunjukkan hasil sebagaima pemberantasan korupsi. Oleh karenanya perlu “kampanye memerangi nepotisme”. Publik harus diberi tahu betapa destruktifnya praktik Nepotisme jika terus terjadi dan rakyat diminta untuk bersikap kritis terhadap praktek-praktek Nepotisme yang terjadi seperti halnya yang terjadi di Korea Selatan. Nepotisme harus diperangi sebagaimana halnya perang melawan korupsi yang telah dilakukan Presiden-presiden setelah era Reformasi. Presiden Megawati memerangi Korupsi dengan membentuk Komisi Pemberarantasn Korupsi (KPK) di era pemerintahannya. SBY memerangi korupsi dengan dengan slogan “Katakan TIDAK pada korupsi” dan “Saya akan berdiri paling depan menghunus pedang melawan korupsi”. Joko Widodo memerangi korupsi dengan memberantas pungli, bahkan "Bukan hanya Rp. 500 ribu atau Rp. 1 juta, urusan Sepuluh Ribu Rupiah pun akan saya urus!,"

Bagi sebagian orang “Perang Melawan Nepotisme” mungkin akan membuat gaduh karena telah merasa nyaman dengan kondisi seperti ini. Sama halnya dengan sinisme terhadap gerakan pemberantasan pungli yang dilakukan Presiden Joko Widodo. Pada awalnya banyak yang mengatakan “ngapain presiden mengurus yang ecek-ecek!” Tetapi baru sebulan jalan masyarakat sudah merasakan dampaknya, urusan di kantor Polisi, urusan di Samsat, urusan di Pencatatan Sipil  betul-betul murah. Dengan perang melawan Nepotisme maka akan terjadi perusakan, bila perlu penghancuran comfort zone (zona nyaman) Nepotisme yang dinikmati sebagian orang! Tetapi akan membuat lebih banyak rasa keadilan yang dinikmati lebih banyak orang. Semoga.
Lubuk Basung, 9 Nopember 2016

Wednesday, October 12, 2016

Menanti Bis Sekolah

Bis sekolah yang ku tunggu
Ku tunggu tiada yang datang
Ku telah lelah berdiri
Berdiri menanti nanti
Banyak diantara kita mungkin sangat hapal lagu Bis Sekolah yang dipopulerkan oleh Koes Ploes pada tahun 70 an. Belakangan "Bis Sekolah" kembali ngetrend, karena hampir tiap sekolah baik SMP ataupun SMA/SMK telah ataupun berencana/berniat mempunyai Bis Sekolah.
Lagu Bis Sekolah itu akan mudah teringat ketika sedang mengikuti rapat akbar Komite Sekolah dimana waktu penyampaian program oleh komite sekolah, ada program mulai dari pembelian komputer, pembuatan Gerbang Sekolah, pembelian alat marching band hingga pembelian Bis Sekolah yang total biayanya bisa mencapai setengah milyar rupiah. Seluruh siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 dikenai sumbangan yang jumlah bervariasi dengan selisih Rp.50 ribu.
Ya, sumbangan ! Bukan iuran karena iuran itu dilarang. Dan sumbangan itu dilegalkan dengan pernyataan kesetujuan masing-masing Orang Tua Siswa pada surat pernyataan tanpa paksaan dan tekanan. Dalam rapat akbar tersebut biasa waktu untuk “berdiskusi” diletakkan pada ujung acara yang mepet ke waktu shalat sehingga kesempatan diskusi terbatas. Para orang tua siswa diberi pilihan/alternatif besarnya sumbangan, pilihan pertama 500 ribu rupiah, dan pilihan yang lain 450 ribu rupiah.
Banyak yang ingin mengacungkan tangan untuk mendapatkan kesempatan mengungkapkan "keheranan" tetapi dihantui kegamangan, jangan-jangan nanti ada efeknya pada anak yang sekolah disana. Pada akhirnya semua pun setuju walau dalam hati ada perasaan “manggaritih”.
*000*
Pendidikan merupakan salah satu layanan dasar yang memang sudah menjadi hak warga negara. Dalam preambule UUD 45 disebutkan tujuan Negara Indonesia salah satunya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Agar tujuan ini dicapai, dalam pasal 31 ayat 4 UUD 1945 disebutkan “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”.
Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Sisdiknas juga diamanatkan bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pasal 34 ayat 2 menyebutkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya, sedangkan dalam ayat 3 menyebutkan bahwa wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Konsekuensi dari amanat undang-undang tersebut adalah Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) serta satuan pendidikan lain yang sederajat. Pasal 34 ayat 2 UU Nomor 2003 tentang Sisdiknas jelas mengatakan bahwa program Biaya Operasional Sekolah (BOS) adalah program untuk mengantisipasi pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Adapun penggunaan Dana BOS, diantaranya peembelian/penggandaan buku teks pelajaran, yaitu untuk mengganti yang rusak atau untuk memenuhi kekurangan, pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru, yaitu biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran, dan pendaftaran ulang, pembuatan spanduk sekolah bebas pungutan, serta kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan tersebut (misalnya untuk fotocopy, konsumsi panitia, dan uang lembur dalam rangka penerimaan siswa baru, dan lainnya yang relevan);dan lain-lain termasuk pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah, jika dinilai lebih ekonomis, dapat juga untuk membeli alat transportasi sederhana yang akan menjadi barang inventaris sekolah (misalnya sepeda, perahu penyeberangan, dll);
Dana Bantuan Operasional Sekolah tersebut pada akhirnya bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang berkualitas. Membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negeri dan SMP/SMPLB/SMPT (Terbuka) negeri terhadap biaya operasi sekolah. Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta;
Tetapi realitanya masih banyak sekolah yang mengadakan pungutan dengan berkelit keputusan Komite Sekolah dan telah disepakati orang tua siswa. Hampir tidak ada beda sekolah negeri dengan sekolah swasta. Memang, dari dulu ada juga sumbangan dari orangtua siswa, namanya Uang Pembangunan tetapi itu hanya satu kali selama sekolah, tetapi ini tiap tahun. Ah, jumlah 500 ribu itu kan tidak terlalu besar apalagi bisa dibayar 3 kali angsuran. Ya, dan banyak yang setuju bahkan tidak ada yang protes waktu rapat akbar komite serta langsung melunasinya. Iya, karena orangtua tidak ingin ada efek yang timbul terhadap anaknya yang sedang bersekolah disitu. Kita mungkin sering mendengar langsung bahwa sesungguhnya mereka terpaksa. Terpaksa dan sudah lah, bayar saja!
Padahal dalam Undang-Undang Sisdiknas tersebut dan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No 44 Tahun 2012 Tentang Pungutan Dan Sumbangan Biaya Pendidikan Pada Satuan Dasar, sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat atau daerah (sekolah negeri) tidak diperbolehkan melakukan pungutan terhadap wali murid. Pasal 9 ayat (1) Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan No 44 Tahun 2012 Tentang Pungutan Dan Sumbangan Biaya Pendidikan Pada Satuan Dasar menyatakan: Satuan pendidikan dasar yang diselenggarakan oleh Pemerintah, dan/atau pemerintah daerah dilarang memungut biaya satuan pendidikan.
Dalam peraturan perundangan tersebut dijelaskan larangan dilakukannya pungutan jenis apapun di sekolah negeri saat lulus atau pun penerimaan siswa baru (PSB) mulai dari tingkat SD, SMP dan SLTA sederajat yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat ataupun daerah. Pemerintah menjamin pendidikan dasar tanpa pungutan, terutama untuk pendidikan SD, SMP dan SMA atau SLTA sederajat. Aturan itu juga memuat ancaman sanksi bagi yang melanggar. Bagi yang melanggar mendapat sanksi disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan hukum pidana (penjara). 
Terjadinya praktek pungutan oleh sekolah dengan berkedok sumbangan tersebut karena Dinas Pendidikan tidak melakukan pengawasan atau bahkan membiarkan praktik tersebut terjadi. Bukan tidak mungkin kegiatan pemungutan tanpa sepengetahuan Dinas Pendidikana atau meski sekolah memberi laporan rencana dan anggaran operasional dan investasi setiap tahun kepada dinas pendidikan, laporan tersebut diperlakukan sebagai syarat administratif saja. Tidak ada upaya dinas pendidikan mengkritisi rencana dan anggaran sekolah tersebut.
Kita berharap persoalan ini bisa teratasi, terutama kepada para Kepala Daerah yang mulai pada saat Kampanye selalu menjanjikan pendidikan murah bahkan ada yang menjanjikan pendidikan gratis. Pemerintah daerah wajib mengkritisi dan jika perlu melarang praktek-praktek sumbangan dan pungutan yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan kebutuhan prioritas sekolah.
Semua stakeholder kembali harus berfikir ulang karena tidak bisa dipungkiri masih sangat banyak anak-anak usia sekolah yang berhenti karena tidak punya uang membayar ini dan itu. Apakah kita lebih membanggakan gerbang yang megah, peralatan marching band bahkan bis sekolah daripada anak-anak putus sekolah.
Ah, ku telah lelah berdiri
Berdiri menanti nanti Sekolah murah dan berkualitas.


Tuesday, September 27, 2016

Wow! Cabai Termahal di Dunia Dijual Seharga Lebih dari Rp 300 Juta per Kilogram!

Wow! Cabai Termahal di Dunia Dijual Seharga Lebih dari Rp 300 Juta per Kilogram!Foto: Ruptly/Thehotpepper
Ternyata ada cabai yang harganya selangit. Cabai bernama Charapita ini hargaya bisa capai Rp 300 juta per kg! 

Charapita merupakan cabai kuning berbentuk bulat kecil yang berasal dari wilayah utara Peru. Cabai ini disebut-sebut sebagai cabai termahal di dunia. 

Belum lama ini petani dari desa Frauenkirchen, Austria telah memanen Charapita. Harga untuk satu kilogram cabai Peru tersebut mulai dari 23.000 Euro (Rp 337,5 juta), lapor Asia One (23/09). 

"Dibandingkan dengan rempah-rempah lainnya, ini sangat sangat pedas. Tidak direkomendasikan mencicipi atau memakan cabai (Charapita) dalam keadaan segar. Namun ketika sudah bentuk kering, ini memberikan rasa ringan dan pedas, contohnya dalam sup ayam. Anak-anak pun bahkan bisa mengonsumsinya," jelas petani Priska Stekovicz. 

Ia menambahkan bahwa Charapita termasuk jenis cabai yang unik. Sebab memerlukan iklim yang sangat panas dan banyak cinta untuk tumbuh. 

Erich Stekovicz, suami Priska yang juga seorang petani, memberi penjelasan lebih lanjut mengenai Charapita. 

"Kami menemukan bahwa ini merupakan ibu dari cabai (mother of chilli) dan hanya tumbuh di alam liar, di hutan dekat dengan pepohonan. Cabai ini bersama saffron dan vanilla, termasuk rempah paling mahal di dunia," ujar Erich. 

Charapita sendiri masih cukup baru di pasar Eropa. Tetapi sudah meraih peningkatan popularitas karena dikenal punya rasa menarik dan luar biasa bagi chef-chef restoran kelas atas.(odi/msa)

sumber : http://food.detik.com/read/2016/09/27/055827/3307407/297/wow-cabai-termahal-di-dunia-dijual-seharga-lebih-dari-rp-300-juta-per-kilogram

Wednesday, September 7, 2016

Maninjau, Very Lovely Lake !


Danau Maninjau berada di "Ikua Darek Kapalo Rantau" tepat di jantung Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Terletak di ketinggian kurang lebih 460 meter diatas permukaan laut, danau ini membentang seluas 100 km persegi dengan kedalaman rata-rata 105 meter. Dengan luasnya tersebut, Maninjau menjadi danau terluas kesebelas di Indonesia.
Menurut sejarahnya, danau ini terbentuk akibat erupsi vulkanik dari Gunung Sitinjau yang terjadi kurang lebih 52.000 tahun yang lalu. Kaldera yang terbentuk sedemikian luas kemudian berkembang menjadi sebuah danau. Hal ini sama seperti yang terjadi pada Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Batur di Bali.
Di luar kacamata keilmuan, terdapat sebuah legenda yang berkembang secara turun

temurun dikalangan masyarakat setempat mengenai asal muasal dari danau ini. Legenda ini dikenal orang sebagai 'Bujang Sambilan' (Sembilan Laki-laki), yang menceritakan kisah 10 bersaudara kakak beradik yang terdiri dari 9 orang bujang dan seorang gadis. 
Alkisah sang gadis yang bernama Puti Rasani menjalin kasih dengan pemuda bernama Sigiran, tetapi kisah cinta berujung dengan munculnya fitnah dari Bujang Sambilan. Dan nama-nama dalam legenda itu konon merupakan asal-muasal nama-nama daerah di sekeliling Danau Maninjau seperti Sigiran, Tanjung Sani, Sungai Batang, Malintang dan lain-lain.
Jika ingin melihat keindahan Danau Maninjau pandanglah dari jauh. Banyak spot untuk menikmati pesona Danau Maninjau... dari Puncak Lawang, dari Ambun Tanai, dari Ambun Pagi, dari Kelok-kelok, atau dari Bukik Sakura.
Keindahan Danau Maninjau jauh lebih memukau dibandingkan view di Puncak - Bogor atau Danau Toba di Sumatera Utara.
Keindahan Maninjau bukan hanya di siang hari. Malam hari Maninjau juga sangat mempesona.
Kita bagai memandang hiasan cahaya yang melingkar mengelilingi danau.
Ketika kita betada di tepi, lampu-lampu keramba bererlap kerlip cahaya laksana bintang yang bersenandung menemani Danau Maninjau. Tenang, sepi....damai…tidak ada riak....diam...seakan danaupun beristirahat melepas penat. Pesona Maninjau mampu membuat kita lupa pesona yang lainnya. Sehingga suatu saat Presiden Soekarno pernah berkata” “Jangan Datang Ke Ranah Minang, Kalau Tak Mampir Ke Maninjau”. 
Tapi, dibalik pesona itu ada yang berubah pada Danau Maninjau. Dia bukan lagi jadi "tapian tampek mandi" masyarakat, bukan lagi dianggap sebagai "sumber vitamin" sehingga banyak Anak Danau yang menjadi Tokoh Berpengaruh di Negeri ini. Maninjau bukan lagi jadi "very lovely lake" bagi turis manca negara. Semua itu karna air danau Maninjau yang tidak lagi bersih dan baunya yang menyengat hidung. Bangkai-bangkai ikan seringkali mengapung menyebarkan bau busuk. Ikan-ikan pada mati, entah karena "Tubo Belerang", entah karena terlalu banyaknya keramba.
 Tidak salah Sutan Rajo Angek tokoh cerita karya Yus Dt. Perpatiah asal Sungai Batang
Maninjau mengatakan, "Maninjau tu rancak dicaliak dari jauah, rancak jika dicaliak dari Ambun Pagi, atau dari Puncak Lawang". Karena ketika didekati Indah itu hilang seketika.
Kita tentu berharap Maninjau kembali menjadi Tapian Tampek Mandi, very lovely lake...indahnya bukan hanya dilihat dari jauh tetapi juga dirasakan dari dekat.  Dan bukan pula berujung pada fitnah seperti ujung cerita legenda Bujang Sambilan.  Semoga.

*dari berbagai sumber

Saturday, August 27, 2016

Sipatokah

Manjua gantang balilih
Mambali gantang balanjuang
Gadang batuka jo nan ketek, nan ketek maimbuah pulo...nan kalamak untuk nyo surang,
Ciluah...., diharago lai samo tapi timbangan dimainkannyo
Takaran gantang diagiahnyo ganja
Sitokar baganti ganti, nan duduak di cc nan itu juo...mangutuak panumpang sa oto
Bak si lupak raok di buruan, cangok makan ka kanyang surang, sia mandakek kanai birunguih kalua saiang panjangnyo ....padohal basamo mangko ka rabah.
Dalam maangkek Dubalang jo Manti..
Walau mamatuih kapandaian, utak jalang karajo sungguah tapi ndak sasalero jo Sipatokah jan diharok ka tapakai...
Bialah binguang utak maampek namuah mairik aua songsang karambia rabah dipanjeknyo tapi pandai mauruik kaki Sipatokah atau santiang manjujai Ratu diangkek juo jadi Dubalang atau Manti.
Sipatokah juo bak kacang lupo jo kulik, kawan lamo disisiah dicimburui, bahkan ditundo kalua kampuang. Balupoan jaso pandayuang katiko lah tibo di subarang, lupo pulo jo jaso tanah dek manih raso tabu. Padohal mereka tu dulunyo banyak sato bajariah, basangkan bakuhampeh manaiakkan Sipatokah ka Balai Janggo.


Sumber : Rajo Sipatokah karya Yus Dt Parpatiah.

Tuesday, August 9, 2016

Pilih mana, Dikhianati atau Mencintai Musuh ?



Usainya pesta rakyat yang hinggar binggar ternyata meninggalkan kegalauan pada Rajo Sipatokah. Dari perjalanan pesta tersebut Rajo Sipatokah banyak menemui kejadian yang tidak pernah disangka akan terjadi. Dikhianati orang-orang kepercayaannya dan pada saat yang sama dia jatuh cinta pada orang yang dijadikan musuh.
Pengkhianatan, mengingatnya saja terasa sangat menyakitkan sampai ke sumsum tulang karena apa yang otak kita simpulkan berbeda dengan kenyataannya. Kesetiaan dibalas dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang kita beri kepercayaan, sesuatu yang tidak akan disangka dan inilah terjadi pada kita.
Banyak cerita tentang pengkhianatan, dan mungkin yang paling terkenal adalah cerita tentang pengkhianatan Marcus Brutus. Sehingga banyak kisah pengkhianatan diidentikan Brutus, karakternya dipakai untuk menggambarkan seorang yang berkhianat terhadap orang yang menolongnya, melindunginya, bahkan mempercayainya. Karakter ini hampir selalu muncul dalam pergulatan hidup, bahkan politik.
Brutus adalah kemenakan laki-laki dari Kaisar Romawi Julius Caesar. Marcus Junius Brutus bergabung dengan Senat di Roma setelah awal karirnya sangat sukses sebagai seorang rentenir. Ia adalah orang yang sangat dipercaya Julius Caesar. Tapi Brutus pulalah yang menusuk sang kaisar dengan pisau dari belakang hingga mati.

Sebaliknya, sebagian dari kita mungkin cukup sering mengalami peristiwa nyaris mati, tapi bukan betarti dengan begitu kita jadi terbiasa. Dan ketika kita kembali harus berhadapan dengan kematian, yang sangat berbeda dari yang sebelumnya. Jika sebelumnya kita bisa melarikan diri dari orang yang kita takuti, atau…kita bisa melawan orang yang Kita benci. Bahkan, mungkin kita sangat siap menghadapi “pengancam keselamatan” itu atau musuh sekalipun.
Tetapi, bila kita jatuh cinta dan akhirnya benar-benar mencintai orang yang akan membunuh atau musuh itu, dan kita tak punya pilihan lain. Bagaimana kita bisa melarikan diri?, bagaimana kita bisa melawan?, karena jika melakukannya…melarikan diri atau melawannya berarti meninggalkannya atau bahkan mencelakakan orang yang kita cintai?
Bukankah cinta itu bisa membuat gila, dan ketika nyawa kita satu-satunya yang harus diberikan untuk orang yang benar-benar kita cintai, apakah mungkin kita tidak memberikannya?
Bagi Rajo Sipatokah keduanya merupakan kejadian yang sangat berat dan menguras banyak energinya. Kalau bukan seorang Sipatokah maka tak seorang Raja pun dapat melalui kedua peristiwa tersebut. Bahkan banyak kita tidak menginginkan kedua hal itu terjadi diri kita.
Tetapi karena ini pilihan, jika itu yang harus terjadi apakah yang akan anda pilih ? Dikhianati atau Mencintai Musuh?

Saturday, June 25, 2016

Perdana Menteri Pilihan Sipatokah

Rajo Sipatokah tidak henti-hentinya membuat “gaduh”, kali ini dia kembali membuat khalayak ramai terkejut alang kepalang ketika menunjuk Sutan Malenggang menjadi Perdana Menteri yang baru menggantikan Malin Tuangku, Perdana Menteri yang lengser keprabon. Sutan Malenggang yang ditunjuk Rajo Sipatokah menjadi Perdana Menteri bukanlah orang dalam istana melainkan orang luar istana yang jauh dari perkiraan banyak orang.
Pengangkatan Malenggang sebagai Perdana Menteri membuat banyak pihak yang ikut berkomentar. Sebab sejak awal nama Sutan Malenggang tidak pernah terpikirkan oleh khalayak ramai bakal dipilih sebagai Perdana Menteri menggantikan Malin Tuangku. Banyak masyarakat beranggapan bahwa yang bakal menjadi Perdana Menteri berikutnya adalah orang dalam istana yaitu Sutan Dilangik atau Tuangku Mudo. Kedua orang ini terlihat sangat ngotot mengincar kursi Perdana Menteri.
Dari sekian banyak tabib yang ada di kerajaan, hanya satu tabib yang meramalkan bahwa Perdana Menterui pengganti akan berasal dari luar istana. Ramalan tabib tersebut disampaikan hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri mundur. Dan bagi kebanyakan orang ramalan tabib tersebut dianggap nyeleneh dan mengada-ngada. Tetapi kenyataannya, saat ini ramalan tabib tersebutlah menjadi satu-satunya ramalan yang tepat sasaran.
Penunjukan orang luar istana inilah yang menimbulkan pertanyaan, apakah kelebihannya dari calon dari dalam istana?, apakah orang luar itu bisa memahami kondisi dan suasana dalam istana? atau calon dari dalam istana tersebut tersangkut suatu perkara sehingga tidak layak ditunjuk?. Mayoritas masyarakat mendukung keputusan Rajo Sipatokah menunjuk orang luar menjadi Perdana Menteri. Karena mereka yakin, itu adalah solusi dari persaingan yang semakin panas antara Sutan Dilangik dengan Tuangku Mudo. Kalau salah satu dari mereka yang diangkat menjadi Perdana Menteri maka bisa terjadi pergolakan dalam istana antara kelompok Sutan Dilangik dengan kelompok Tuangku Mudo.
Selain itu, masyarakat juga yakin semua abdi dalem akan patuh dan taat terhadap keputusan Sipatokah yang terkenal karna matanya selalu merah dan tidak pandai tertawa. Tidak akan ada yang akan membantah, paling cuma, “mambulalang dalam kalam” atau “mangecek2 di bulakang” karena Sipatokah mempunyai jaringan intelijen yang kuat. Barang siapa yang menggugat keputusan Rajo Sipatokah akan diberikan hukuman buang.
Namun ada juga yang khawatir dengan keputusan Rajo Sipatokah tersebut. Dan yang menjadi kekhawatiran masyarakat adalah karena Malenggang bukan orang dalam sehingga nantinya sulit mengkonsolidasikan para Abdi Dalem. Apalagi para abdi dalem telah terkelompok karena adanya persaingan memperebutkan kursi Perdana Menteri tersebut.
Salah satu kelompok yang disebut sebagai kelompok garis keras dalam lingkungan istana adalah kelompok yang dipimpin Sutan Dilangik. Kelompok ini sangat kecewa dengan gagalnya Sutan Dilangik menjadi Perdana Menteri karena ini merupakan kegagalan kedua kalinya bagi Sutan Dilangik menjadi Pejabat Tinggi di lingkungan Istana. Apalagi pada suatu kesempatan Rajo Sipatokah pernah terucap akan menunjuk Sutan Dilangik sebagai Perdana Menteri jika berhasil menguasai daerah tundukan baru.
Tetapi keberadaan kelompok ini tidak disukai banyak masyarakat karena sering menggunakan cara-cara tidak fair dalam mencapai tujuannya.
Entah apa yang akan dilakukan Sutan Dilangik menyikapi kegagalannya menjadi Perdana Menteri dan apa pula posisi baru yang akan diberikan Rajo Sipatokah untuk Sutan Dilangik, mari kita tunggu cerita selanjutnya!

Saturday, May 28, 2016

Sipatokah Mencari Perdana Menteri

Gaduh-gaduh akibat kentut Rajo Sipatokah tempo hari ternyata berbuntut panjang. Pro kontra kentut Raja membuat suhu politik memanas. Bukan hanya di luar istana, pro kontra juga merambah ke dalam Istana, melibatkan Abdi Dalem, Dayang-dayang, Hubalang dan para petinggi Istana.
Jumlah yang pro (yang menganggap Kentut Raja Sewangi Parfum Paris) kalah jauh dengan jumlah yang kontra. Kondisi ini membuat suasana Istana tidak kondusif dan membuat Perdana Menteri memilih Lengser keprabon karena tidak berdaya mengatasi kondisi tersebut.
Lengsernya Perdana Menteri ternyata tidak mampu menurunkan suhu panas dalam Istana. Walaupun Rajo Sipatokah berkali-kali mengatakan bahwa kondisi dalam istana sangat kondusif, tetapi khalayak ramai tahu bahwa kondisi istana bagai api dalam sekam.
Para Abdi Dalem yang kontra dengan bau kentut Raja dikeluarkan dari Istana dan ditugaskan menjadi penggarap lahan pertanian dan peternakan kerajaan. Mereka tidak diperbolehkan lagi menginjak lingkungan Istana.
Di kalangan petinggi istana juga terjadi persaingan merebut hati Rajo Sipatokah supaya diangkat menjadi Perdana Menteri. Rajo Sipatokah sesusai tradisi kerajaan telah mengumumkan bahwa Perdana Menteri yang baru akan dilantik setelah 3 kali purnama yaitu pada saat musim panen pertanian. Waktu 3 kali purnama tersebut merupakan kesempatan bagi Raja untuk melakukan pemilaian terhadap para petinggi istana yang memenuhi syarat menjadi Perdana Menteri.
Dari beberapa petinggi istana, ada dua orang yang sangat ngotot menjadi Perdana Menteri. Kedua orang ini oleh Rajo Sipatokah mendapat perhatian khusus. Tingkah polah kedua pejabat ini kadang membuat Sipatokah sering tersenyum geli. Kedua orang ini merupakan tokoh sentral pro Kentut Raja Sewangi Parfum Paris.
Yang satu sangat jago mengkampanyekan pencitraan Rajo Sipatokah di media massa, yang satu lagi jago melakukan pencitraan di depan khalayak. Tetapi kedua orang ini saling menjelekan maupun terhadap para kompetitor lainnya.
Sipatokah sangat paham perangai maupun gelagat kedua orang ini. Khalayak ramai sangat menunggu siapakah gerangan yang akan dipilih Sipatokah menjadi Perdana Menteri. Ketika ada salah seorang Kepala Suku bertanya siapa diantara kedua orang itu yang akan dipilih menjadi Perdana Menteri?
Sambil tersenyum cimeeh, Raja Sipatokah menjawab, "hehe...tunggu tanggal mainnya !"
Tubikontinyu....
Lubuk Basung, 28 Mei 2016

Saturday, April 2, 2016

Kentut dan Wangi Parfum Paris


Belakangan Rajo Sipatokah sering terkentut. Hal itu tentu saja membuat para Abdi Dalem merasa tidak nyaman.
Para Tabib Istana pun berusaha memberikan ramuan supaya Rajo Sipatokah tidak kentut lagi. Tetapi ramuan para Tabib tidak mempan, kentut Rajo Sipatokah tetap saja berlaput-laput.
Lama kelamaan karena kebiasaan kentut tersebut, rakyat menjuluki Rajo Sipatokah dsngan sebutan Raja Kentut.
Julukan tersebut tentu saja membuat berang para Petinggi Istana dan Hulubalang Rajo Sipatokah. Setiap ada rakyat yang mempergunjingkan kentut, para Hulubalang langsung mendatangi rakyat.
"Apa kalian yakin kalau yang kentut itu Tuanku Baginda Rajo Sipatokah ?", tanya Hulubalang.
"Iya, kami sangat yakin seyakin-yakinnya !!", jawab rakyat.
"Kenapa kalian yakin ? Sedangkan kentut itu tidak bisa dilihat dan diraba, tetapi cuma bisa didengar dan dicium. Bisa jadi bukan Tuanku Baginda tetapi orang yang disamping beliau" Hulubalang berusaha menyakinkan rakyat bahwa bukan Raja yang kentut.
"Tidak mungkin ada orang lain berani kentut dekat Raja, kalau pun ada yang kebelet pasti akan ditahannya sekuat tenaga!! " sambung rakyat.
Karena tidak berhasil meyakinkan publik bahwa Raja bukan sering kentut. Istana mempersiapkan Tim Penanggulangan Kentut yang terdiri dari para relawan dan tim sukses Rajo Sipatokah. Mereka akan bertugas mencaunter isu Raja Kentut.
Dalam sebuah pertemuan yang dhadiri Tim Penanggulangan Kentut dan hatters serta rakyat yang tidak suka kebiasaan kentut Rajo Sipatokah.
"Sekarang kami bertanya pada saudara-saudara semua, Kentut itu baik atau buruk ?" Tanya ketua Tim memulai diskusi.
"Sekarang begini saja Ketua, tidak usah kita terlalu mendramatisir keadaan. Kami tahu arah pertanyaan Ketua...kalau kami menjawab "baik"...maka Ketua akan mengatakan "Karena kentut itu baik maka itu sebabnya Raja sering kentut...membagi-bagi kebaikan. Jika kami jawab "buruk" maka Ketua akan mwngatakan "Karena kentut itu buruk maka itu sebabnya Raja sering kentut...membuang keburukan ", ujar seorang rakyat.
"Ketua,....siapapun tahu bahwa siapa yang Kentut itu sulit dideteksi...tapi kalau boleh kami berpesan kepada pihak Istana dan para pendukung Raja,..janganlah terlalu over loyalis...mati2an membela Raja, lebay...!! Apapun yang dilakukan Raja selalu dipuja-puji bahkan kentut Raja pun dibilang baik dan wangi seperti parfum paris !!. Itu sama saja membiarkan Raja berada dalam kebiasaan yang membuat orang sekelilingnya tidak nyaman"..tukas rakyat yang lain.


Lubuk Basung, 1 April 2016