Tuesday, October 2, 2012

Lamunan Pak Harto


Setelah sekian tahun menguasai Republik Indonesia ini, ada rasa was-was dihatiku. Saya begitu lama jadi orang nomor satu, 5 kali dipilih jadi Presiden! Separo dari usia kemerdekaan Indonesia berada dalam genggamanku! Hebat atau keterlaluan ya.
Sekarang setelah sekian banyak yang saya bangun hingga saya dijuluki Bapak Pembangunan, masih saja ada rakyat Indonesia yang mencibir saya ketika saya berpidato!
Andai Indonesia ini tetap ditangan Bung Karno pada tahun 70-an atau di tangan Bung Hatta atau Nasution atau di tangan Sumitro atau ditangan Ali Sadikin, apakah Indonesia akan seperti ini? Apakah Indonesia yang kita cintai ini akan lebih baik dari keadaan sekarang?
Ah, mungkin rakyat sudah bosan atau bahkan muak kepadaku karena terlalu lama jadi Kepala Negar, mungkin ya…, iya seharusnya saya nggak jadi Presiden lagi ketika Pemilu 1982, seharusnya saya menolak ketika dicalonkan pada Pemilu 1987, seyogyanya saya minta pensiun jadi Presiden ketika Pemilu tahun 1992!.
Seharusnya hari ini saya bisa menikmati masa tua dengan canda cucu-cucu dan cicit-cicitku. Hari ini harusnya saya Cuma menonton pertarungan ekonomi dan persaingan politik anak-anak saya dengan para pesaingnya. Harusnya saya nggak ikut campur lagi urusan keduniawian.
Oh My God, kelewat banyak yang melintas dibenakku. Tuhan, saya ingin mati sebagai seorang manusia biasa, saya tidak ingin kematian saya merupakan kehidupan bagi rakyat Indonesia. Saya ndak ingin rakyat bersyukur atas kematian saya, saya ingin setelah kematian saya tidak terjadi kekacauan dan pertumpahan darah di negeriku ini. Amin!

Aur Atas – Bukittinggi, 31 Mei 1995



Dari kumpulan tulisan Kamaruddin dalam Buku : Bang Komar – Prediksi, Khayalan, Pikiran dan Doa-doa.

No comments:

Post a Comment