Friday, September 14, 2012

Rekayasa Sejarah : Dipaksa






Rekayasa Sejarah :
Dipaksa

Tahun 2023, disaat Republik Indonesia dipimpin oleh Raja V, di Jakarta terjadi “Pelurusan Sejarah”. Raja ke-5 mengundang 4 orang seniornya, Bung Karno, Pak Harto, Try Sutrisno dan Raja IV. Di Gedung DPR mereka berdialog, disaksikan secara live 210 juta rakyat Indonesia lewat TV Pool.
Raja V        :     Pertama sekali saya mohon maaf karena telah mengganggu “tidur” tuan-tuan di Alam Baka! Sengaja saya mengundang tuan-tuan agar rakyat tahu bagaimana Indonesia sebenarnya dari doeloe hingga saat ini.
PH              :     Terus terang saya tidak suka acara ini, buat apa sih membuka cerita lama, toh sampai saat ini rakyat masih setia dan cinta pada Negara ini. (pada waktu dijemput, PH menolak memenuhi undangan tetapi karena TS juga menolak kalau PH tidak hadir, maka akhirnya dengan terpaksa PH datang juga)
BK              :     Kamu..! (BK menunjuk muka PH) Harto, harus bersikap demokrat! Nggak boleh mengelak, toh saat ini secara lahir kita nggak dijangkau dosa lagi, kita kan udah The End.
Raja V        :     Oke, apa sudah bisa dimulai? Baik, pertama saya akan bertanya pada BK, bagaimana Orde Lama sesungguhnya?
BK              :     Setelah kita merdeka tahun 1945, Indonesia masih morat-marit, persatuan dan kesatuan kita masih labil, mudah goyah. Sengaja saya tidak mengadakan Pemilu kecuali tahun 1955 dan sengaja saya biarkan Pe-Ka-I karena saya ingin Indonesia tetap bersatu, tidak terpecah. Nggak mungkin kita mengadakan Pemilu sesuai UUD 1945, lima tahun sekali, disamping biayanya besar, taraf masyarakat kita rendah dalam segala hal. Mereka (rakyat) waktu itu Cuma butuh seorang Raja pemersatu, seorang pemimpin yang bisa mereka bangga-banggakan. Dan soal keberadaan Pe-Ka-I, terus terang saya salah karena membiarkannya hidup dan besar, walau akhirnya saya sadar tetapi sudah terlambat! Mereka sudah kuat dan punya pengaruh yang besar pada kekuasaan saya. Nggak mungkin dan sangat sukar untuk menghilangkan seketika, bahkan sampai kapanpun nanti.
Raja V        :     Bagaimana dengan situasi 1965 sampai wafatnya Bung?
BK              :     Awal tahun 60-an kita sudah mulai maju, rakyat sudah mulai kompak, Indonesia mulai menapak pada pergaulan Internasional, taraf politik masyarakat kita juga mulai oke. Pada saat itu, rakyat mulai bertanya-tanya tentang kekuasaan saya yang sudah cukup lama, lebih dari 15 tahun. Juga ABRI kita mulai kuat, sebagian dari mereka kurang suka kepada saya dan cara kepemimpinan saya. Tahun 1965 adalah klimaks dari persaingan politik antara ABRI dengan Pe-Ka-I, kekuatan mereka berimbang, sama-sama kuat dan berpengaruh. Karena kekuatan yang berimbang tersebut terjadilah benturan keras! G 30 S PKi! PKI akhirnya kalah dan saya ikut jadi korban, saya jadi korban karena berada di antara dua kekuatan tadi, kalau saya berada di luar atau berada pada salah satu pihak yang bersaing tersebut peristiwa G 30 S tidak akan terjadi, tidak akan pernah! Tetapi karena saya tidak memihak dan memilih berada di antara 2 kekuatan yang diibaratkan 2 ujung tombak yang saling berhadapan, maka saya tertusuk dan hancur! Dan memang harus hancur karena hanya dengan cara begitulah salah satu dari dua kekuatan tadi bisa menjadi “satu-satunya” di Indonesia.
Soal peristiwa 11 Maret 1966… karena pada saat itu keadaan politik dan keamanan sangat kacau dan rawan, rakyat mulai meragukan saya, sementara di sisi lain “pemenang” persaingan politik tadi belum menerima hadiah dari jerih kemenangannya, maka kemudian saya “dikunjungi” Basuki Rahmat, Amir Mahmud dan M. Yusuf. Mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka (ABRI)-AD) tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi keadaan di Jakarta tanpa ada perintah dan izin dari Bung Karno! Terus saya Tanya mereka, “mau kalian apa?”. Mereka menjawab, “beri kami (AD) kepercayaan untuk mengatasi masalah di laur sana”. Oke! Lalu saya bikin Surat Perintah (Supersemar) dan saya menunjuk Soeharto karena dia-lah senior AD yang tinggal, sementara yang lain sudah out dan saya percaya saja padanya. Tetapi, akhirnya surat itu juga yang membawa bencana bagi saya, saya dikerjain dan…
PH              :     Interupsi! (PH mengangkat tangan, semua kaget)
Raja V        :     Silakan!
PH              :     Saya kurang suka BK bicara soal Supersemar… terlalu sentimental… tak ada yang dikerjain waktu itu, saya tidak mau dijadikan kambing hitam dalam soal itu. Saya tahu kemana arah pembicaraan BK ! sebagai seorang tentara, sebagai abdi Negara… saya berhak dan bertanggungjawab mengamankan keadaan. Saya melaksanakan tugas sebagai pengemban Supersemar sesuai kebutuhan waktu itu. Tidak ada niat untuk mengerjain Bung! Dan tidak ada maksud untuk menghancurkan dan menghabisi Bung! Kalaupun saya akhirnya jadi Presiden menggantikan BK, itu adalah kehendak rakyat, sekali lagi…itu adalah kehendak rakyat Indonesia! Tolong digaris bawahi!
BK              :     Keberatan! (BK juga mengangkat tangan)
PH              :     Tunggu! Saya belum selesai…
BK              :     Harto! Saya tidak menuduh kamu begitu, kamu kok emosi banget….rilek, rilek saja.
Raja V        :     Saya mohon tuan-tuan menghargai saya sebagai tuan rumah! Sebelum saya persilakan tuan-tuan bicara….tuan-tuan tidak etis nyerocos begitu… sekarang persoalan itu kita stop! Saya ingin tanya pada PH… bagaimana kok PH tega-teganya jadi Presiden selama hamper 30 tahun?
PH              :     Tidak ada komentar! Sekarang no coment!
Raja V        :     Baik, tetapi nanti saya harap PH mau member keteranga tertulis (Raja V tidak mau memaksa PH karena PH kelihatan masih sangat emosi) selanjutnya saya Tanya pada TS, bagaimana proses suksesi pada zaman anda?
TS              :     Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya, terus terang saya agak grogi berada diantara senior-senior (BK dan PH) juga Raja IV dan Raja V, karena jujur saya akui.. saya jadi Presiden adalah karena telah dipersiapkan oleh PH, saja jadi orang nomor satu bukan karena kemampuan saya, bukan pula karena kepandaian saya. Saya diberi tugas untuk mengamankan kepergian PH. Tugas saya untuk mengamankan PH agar tidak sama dengan cara kepergian Marcos. Saya berhasil menjalankan tugas itu… kemudian ketika masa jabatan saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan berakhir habis untuk periode pertama, ada keinginan dalam hati kecil saya untuk jadi Presiden lagi… benar-benar jadi Presiden! Tetapi Raja IV “telah dating” dan dia memang lebih pantas dan dikehendaki rakyat untuk memimpin Republik Indonesia ini. Selanjutnya… dengan proses yang demokratis saya serahkan Negara dan Bangsa ini kepada Raja IV dengan segala apa adanya serta pesan untuk terus membangun tanah air tercinta ini.
Raja V        :     Ada pertanyaan untuk TS?... sekali lagi apa ada pertanyaan untuk TS sehubungan dengan pertanggunganjawabannya sebagai Presiden RI ketiga?
BK              :     Ada!... bagaimana keadaan Negara pada zaman anda TS?
TS              :     Sekali lagi saya jelaskan, pada hakikatnya saya tidak dapat menjalankan tugas sebagai Kepala Negara, karena tugas terpenting saya adalah mengamankan kepergian “bekas juragan” saya. Hampir 5 tahun saya berusaha untuk menahan gejolak agar tidak terjadi kasus Ferdinad Marcos di sini,… dan saya cukup berhasil akan hal itu walaupun tugas sebagai Presiden yang hakiki tidak terlaksana. Jadi pada kesempatan ini saya mohon maaf kepada seluruh Rakyat Indonesia dan mohon dimaklumi atas posisi dan keadaan saya waktu iyu.
Raja V        :     Kembali pada BK… bolehkah kami tahu rahasia Pribadi bung?
BK              :     Rahasia? Saya nggak pernah menutup-nutupi sesuatu, baik pribadi maupun politik… anda-anda tahu kan berapa isteri saya… bahkan yang nggak sempat saya nikahi di Ka-U-A (resmi). Saya rasa itu hal yang wajar sebagai manusia yang menyukai lawan jenis dan saya tidak mau jadi orang munafik! Kemudian soal harta… saya tidak meninggalkan banyak harta buat isteri-isteri dan anak-anak kecuali nama!... ya hanya meninggalkan nama Soekarno Putra/i. Sebab saya tahu kalau saya mengumpulkan harta, rakyat kita akan tambah miskin dan melarat. Tetapi entah kenapa.. hanya dengan nama tersebut telah membuat orang-orang seakan telah berhadapan dengan saya sendiri, dengan Bung Karno!
Raja V        :     Kalau PH bagaimana?
PH              :     Baik! Pertama saya akan bercerita soal kenapa sampai 30 tahun saya jadi Presiden! Jujur saya akui, pada mulanya saya hanya pengin jadi Presiden… hanya kepingin merasakan bagaimana rasanya jadi Presiden! Saya tidak membayangkan untuk seumur hidup atau selama itu, tidak! Saya “dipaksa” oleh bawahan-bawahan dan keluarga saya agar tetap dan terus jadi Orang Nomor Satu. Karena tanpa kekuasaan saya mereka takkan bisa melakukan apa-apa..
Raja IV       :     Keberatan!
Raja V        :     Soal apa?
Raja IV       :     Menurut hemat saya, adalah tidak mungkin bawahan memaksa atasan… saya cenderung melihat PH yang memaksakan diri untuk tetap jadi Presiden! Sekali lagi saya tekankan… ndak mungkin dan ndak logis bawahan memaksa atasan… sulit diterima logika!
(Plok.plok.plok..dstnya, penonton bertepuk tangan memberikan aplaus kepada Raja IV karena kejeliannya menilai kata-kata mdan keberaniannya “menantang” PH)
PH              :     Tau apa anda soal politik? Pada zaman saya… keterbukaan itu nonsens. Mungkin anda (Raja IV) pernah membaca Buku Sejarah tahun 1993… bagaimana seorang HARMOKO melejit jadi Ketua Umum DPP Golkar! Semua itu bukan kemauan saya, tetapi saya “terpaksa” menyetujuinya karena sebelumnya telah berkembang isu bahwa calon dari saya adalah Harmoko. Padahal saya belum memilih siapa yang akan didudukan sebagai Ketua Umum DPP Golkar pada Munas tahun tersebut. Saya terpaksa, sebab kalu saya mengatakan tidak… kan kasihan si Harmoko jadi malu! Kesimpulannya… pada era saya soal atasan dipaksa bawahan itu bisa saja terjadi.
Raja IV       :     Apakah itu karena kurang tegasnya PH pada bawahan sehingga anda bisa didikte bawahan?
PH              :     Saya lihat anda cukup nyiyir! Tetapi baiklah.. tidak ada di atas dunia ini ada orang yang bisa sendiri tanpa bantuan orang lain dalam berpolitik! Camkan itu! Maaf saya kembali pada pertanyaan soal rahasia… saya akui banyak sekali rahasia di sekitar saya, boleh dikatakan sepanjang Orde Baru banyak hal yang ditutup-tutupi pada masyarakat, dan media informasi waktu hanya sebagai instrument pemerintah. Kalau diceritakan sekarang rahasia tersebut… rasanya terlalu panjang dan itu juga percuma! Tapi percayalah suatu saat anda-anda semua pasti akan tahu juga.

= The End =

Ini hanya sebuah rekayasa… tetapi layakkah sebuah rekayasa selalu ditanggapi dengan konotasi negatif? Atau, haruskah sebuah rekayasa senantiasa harus dinilai posistif? Semua itu terpulang kepada siapa yang membaca dan member tanggapan.

Nota Bene :
Bang Komar berspekulasi bahwa Try Sutrisno lah Presiden RI jika Soeharto  berhenti pada akhir periodic, tetapi jika Soeharto berhenti atau diberhentikan ditengah jalan maka belum tentu Try Sutrisno penggantinya.

Aur Atas, Bukittinggi – Sumbar, 10 Juni 1995



Dari kumpulan tulisan Kamaruddin dalam Buku : Bang Komar – Prediksi, Khayalan, Pikiran dan Doa-doa.

No comments:

Post a Comment