Thursday, December 18, 2014

Saya bukan pecundang



Catatan: Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan "Testimoni : Korban Tragedi Birokrasi" (http://bangkomaragam.blogspot.com/2012/09/testimoni-korban-tragedi-birokrasi.html), mudah2an ini akan memperjelas apa yang sebenarnya terjadi.
Tahun 2011 ketika saya mencabut gugatan di PTUN Padang, isu yang berkembang  bahwa saya mencabut gugatan itu karena tahu akan kalah. Saya tidak pernah membantah atau mengkonfirmasi isu tersebut karena bagi saya kalah atau menang saya sendiri dan keluarga yang merasakannya.
Setelah tiga tahun berlalu, ternyata isu tersebut masih dihembuskan…seakan-akan saya seorang pecundang. Dan saya merasa perlu untuk bercerita apa sebenarnya yang terjadi sampai akhirnya mencabut gugatan itu.
Pagi hari sekitar pukul 05.30 ketika akan memasukan gugatan ke PTUN Padang, HP saya berdering… ada panggilan masuk dari seseorang yang sangat saya hormati.
Ananda, iyo ka mamasuak an gugatan hari ko? Tanya beliau.
Iyo Pak, dari ma Bapak tau, padahal selain istri hanya 1 orang yang tahu rencana saya ini…itu pun baru tadi malam pukul 11.
Itulah… Bapak ditelpon mereka,…mereka meminta bantuan Bapak untuk “melarang” ananda memasukan gugatan itu demi Kabupaten Agam!
Terus, menurut Bapak bagaimana?... kalau kata Bapak jangan, saya tidak akan memasukan gugatan itu.
Saya tidak akan melarang atau menyuruh Ananda memasukan gugatan itu,… Bapak percaya Ananda dan isteri telah dewasa…bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Dan sebelum melakukan sesuatu harus mempunyai pertimbangan dan keyakinan….kalau yakin itu yang terbaik, lakukan! Kalau ragu-ragu, jangan!
Pak, saya sebetulnya mau menyelesaikan persoalan ini secara sederhana…cukup hanya dengan meminta Maaf! Tetapi mereka terlalu angkuh dan sombong dengan jabatan mereka!... anehnya, saya pula yang diminta untuk mengalah, bukankah kalau mereka merasa sebagai Pejabat atau orang besar…mereka lah yang harus mengalah. Yang besar dan kuat lah yang harus mengalah….
Ya,… saya pun berpikir bahwa penyelesaian persoalan itu bisa secara sederhana, mungkin sambil makan sate dengan beberapa orang saja. Bapak percaya… bahwa ananda memiliki rasa hormat yang tinggi…
Iya Pak, tuntutan saya tidak lah terlalu rumit…. Tetapi persepsi mereka, saya menuntut jabatan… dan berkali-kali mereka mencoba menyelesaikan dengan solusi pemberian jabatan. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini akan memberikan mereka sebuah “catatan” yang akan mereka ingat sepanjang hidup mereka….
Iyalah Ananda,… Bapak mendoakan apa langkah yang kalian lakukan merupakan jalan terbaik. Dan jangan pernah lupa berdoa kepada Tuhan… karena tidak ada kekuatan di atas itu!
-------------000000000000------------
Malamnya, saya dipanggil oleh seseorang yang mengaku “Orang Dekat” Bupati. Dia bercerita tentang kegelisahan Bupati karena banyaknya orang yang ikut campur dalam persoalan tersebut.
Saya mengatakan bahwa saya tidak pernah mengadu kepada siapa pun dalam menghadapi persoalan tersebut, tetapi memang banyak orang lain yang ikut campur. Saya tidak mungkin melarang mereka ikut campur karena itu adalah bentuk simpati mereka atau bentuk kasihan terhadap apa yang saya alami.
Orang dekat Bupati, itu menyarankan saya untuk menemui Bupati dan “maunjua” tetapi saya langsung memotong pembicaraannya bahwa saya tidak akan pernah melakukan itu! Karena saya tidak pernah mengharapkan jabatan, bahkan untuk mempertahankan pendirian saya telah mempersiapkan diri selama 10 (sepuluh) tahun untuk tidak berjabatan (andai Bupati itu menang lagi)..... Bersambung.

No comments:

Post a Comment