Friday, December 19, 2014

Sitti Nurbaya (Kasiah Tak Sampai) Episode 6

Datuk Meringgih
Karya Marah Rusli


Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu,
beratapan seng. Letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun
yang luas, tersembunyi di bawah pohon-pohon kayu yang
rindang. Jika ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunannya,
nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benarbenar,
karena sekalian yang ada dalamnya telah tua kotor dan
tempatnya tiada teratur dengan baik.
Di serambi muka hanya ada sebuah lampu gantung macam
lama, yang telah berkarat besi-besinya. Apabila tak ada orang
datang, lampu itu tiada dipasang. Dan oleh sebab yang empunya
rumah rupanya jarang menerima jamu pada malam hari di sana,
minyak tanah yang ada dalam lampu itu, terkadang-kadang
berpekan-pekan belum habis.
Di bawah lampu ini, ada meja bundar, yang rupanya telah
sangat tua, dikelilingi oleh empat kursi goyang dari kayu, yang
warnanya hampir tak kelihatan lagi, karena catnya telah hilang.
Di ruang tengah, hanya ada sebuah lemari makan, yang umurnya
kira-kira setengah abad.
Sebuah meja marmar kecil, yang batunya telah kuning serta
berlubang-lubang, terletak dekat dinding, diapit oleh dua buah
kursi kayu yang tempat duduknya dari kulit kambing, sedang di
lantai terhampar tikar rotan yang telah tua. Ruang tengah ini
pada malam hari diterangi oleh sebuah lampu dinding, yang
dipasang dari setengah tujuh sampai pukul sepuluh malam. Di
serambi belakang, hanya ada suatu perhiasan saja, yaitu kursi
malas kain, yang tak kelihatan lagi coraknya.
Itulah rumah Datuk Meringgih, saudagar yang termasyhur
kaya di Padang. Ia bergelar Datuk bukanlah karena ia Penghulu
adat, melainkan panggilan saja baginya. Walaupun rumahnya ini
katanya sekadar tempat bendi, kereta dan kuda dengan kusirnya,
tetapi memang itulah rumahnya yang sesungguh-sungguhnya;
karena di sanalah ia tetap tinggal, sedang sebuah daripada
tokonya, yang dikatakannya rumahnya yang sebenar-benarnya,
dipakainya hanya untuk menyambut kedatangan sahabat kenalan
saja. Malukah Datuk Meringgih mengaku rumahnya di Ranah itu
tempat kediamannya yang sejati? Barangkali jawab pertanyaan
ini akan bertemu juga nanti. Tatkala cerita ini terjadi, Datuk
Meringgih kelihatan duduk di serambi belakang rumahnya yang
di Ranah itu, di atas kursi malas tadi.
Sebelum diceritakan kekayaannya, baiklah digambarkan
dahulu bentuk dan bangun badannya dan diterangkan pula tabiat
dan kelakuannya, supaya kenal benar kita akan dia dan tiada lupa
lagi, apabila ia kelak berulang-ulang bertemu dalam hikayat ini.
Badannya kurus tinggi, punggungnya bungkuk udang,
dadanya cekung, serta kakinya pengkar, kepalanya besar, tetapi
tipis di muka, serta sulah pula. Rambutnya yang tinggal sedikit
sekeliling kepalanya itu, telah putih sebagai kapas dibusur. Misai
dan janggutnya panjang, tetapi hanya beberapa helai saja, tergantung
pada dagu dan ujung bibirnya, melengkung ke bawah.
Umurnya lebih dari setengah abad. Matanya kecil, tetapi tajam,
hidungnya bungkuk, mulutnya besar, giginya hitam dan kotor,
yang di muka keluar sebagai gigi tupai. Telinganya besar, seperti
telinga gajah, kulit mukanya berkarut marut dan penuh dengan
bekas penyakit cacar.
Menurut gambar yang terlukis di atas, nyatalah Datuk
Meringgih ini bukan seorang yang masih muda remaja dan
bersikap tampan, melainkan seorang tua renta yang buruk.
Sekarang marilah kita ceritakan adat dan tabiatnya, kalau-kalau
berpadanan dengan rupanya.
Saudagar ini adalah seorang yang bakhil, loba dan tamak,
tiada pengasih dan penyayang, serta bengis kasar budi
pekertinya. Asal ia akan beroleh uang, asal akan sampai
maksudnya, tiadalah diindahkannya barang sesuatu, tiadalah
ditakutinya barang apa pun dan tiadalah ia pandang-memandang.
Terbujur lalu, terbelintang patah, katanya.
Apabila ia hendak mengeluarkan uangnya, walau sesen sekali
pun, dibalik-balik dan ditungkuptelentangkannya duit itu beberapa
kali; karena sangat sayang ia akan bercerai dengan mata
uangnya itu.
Ditimbangnya benar-benar, sungguhkah perlu uang itu
dibelanjakan atau tidak dan tak adakah jalan lain yang akan
dapat menyampaikan maksudnya, dengan tiada mengeluarkan
uang atau dengan mengeluarkan belanja yang sedikit.
Dicekiknya lehernya, diikatnya perutnya, ditahannya nafsunya,
asal jangan keluar uangnya. Jika ia makan nasi, hanya
dengan sambal lada atau ikan kering saja yang disimpannya
sampai beberapa hari. Lauk-pauk ini padalah baginya, karena
sangkanya dapur yang berasap setiap hari, tiada berguna dan
banyak mengeluarkan biaya. Makanan dimakan, sedapnya
sehingga leher sudah itu jadi kotoran.
Rumahnya sebagai kandang kambing dan pakaiannya yang
seperti pakaian kuli itu, tiada mengapa baginya, asal jangan
keluar duitnya, untuk sekaliannya itu. "Di luar dibersih-bersihkan,
sedang di dalam perut sendiri tiada terhingga kotornya,"
demikianlah katanya.
Ditulikannya telinganya atas segala maki, nista, dan cacat
orang kepadanya, dibutakannya matanya kepada sekalian
penglihatan yang menyedapkan pemandangan asal uangnya
jangan keluar. Tiada lain kesukaan yang diketahuinya, melainkan
memandang peti hartanya, menghitung mata uang dan
meraba uang kertasnya.
Diguncangnya peti uangnya, akan mendengar bunyi uang
yang ada dalamnya dan ditimang-timangnya tabungnya untuk
mengetahui beratnya. Berjam-jam lamanya ia dapat bermainmain
dengan hartanya itu dan berhari-hari lamanya ia dapat bermain-
main dengan hartanya itu dan berhari-hari lamanya ia dapat
menghitung uangnya itu, dan di dalam hal yang sedemikian,
lupalah ia akan dunia ini dan akan dirinya sendiri.
Berapi matanya, kembang hidupnya, kuncup telinganya, ternganga
mulutnya, gemetar tangannya dan busung badannya, bila
dilihatnya cahaya uang mas dan uang perak yang berkilat-kilatan
atau didengarnya bunyi logam ini mendering. Diambilnya mata
uang itu sebiji-sebiji, lalu diperhatikan dan diamat-amatinya
capnya gerigi pinggirnya, gambarnya dan tulisannya. Gambar
pada uang itu rupanya baginya terlebih indah daripada lukisan
buah tangan pelukis yang masyhur-masyhur. Bunyi uang itu
terlebih merdu didengarnya daripada lagu yang indah-indah yang
dimainkan oleh ahli musik. Oleh sebab itu kerap kali dipermainmainkannya
hartanya itu dan dibawanya tidur bersama-sama
untuk mendapat mimpi yang menyenangkan hatinya.
Harapan, ingatan, dan niatnya, siang malam, petang dan pagi,
tiada lain, melainkan akan menambah harta bendanya yang telah
banyak itu, tiada berkeputusan dan tiada berhingga. Sekalian
kekayaan dunia ini hendaknya janganlah jatuh pada orang lain,
melainkan pada dirinya sendiri sebelumnya. Itu pun agaknya
belum juga puas hatinya. Makmurlah kehidupannya, bila tubuhnya
tertutup dalam timbungan mata benda itu. Takut ia sakit dan
mati, karena tiada dapat bercerai dengan harta dania ini.
Padanya tak ada lagi kesenangan yang lain daripada uang;
sekaliannya uang, uang dan sekali lagi uang. Ibu-bapa, anak-istri,
sanak saudara, sahabat kenalanan, handai tolan, dan pelipur
laranya, tiadalah lain daripada uang. Uang itulah kekasilmya,
uang itulah Tuhannya. "Hidup dengan uang, mati dengan uang,"
katanya. Tiada ia hendak bercerai barang sekejap pun dengan
uangnya. Uang baginya bukan alat untuk memperoleh
kesenangan, tetapi uang itulah kesenangan.
Untuk memperoleh harta benda itu, tiada ia ngeri akan
perbuatan yang kejam dan jahat, tiada ia malu akan kelakuan
yang keji dan hina. Tiada ia pandang-memandang, tilik-menilik,
segan-menyegani; tiada ibu-bapa, tiada adik tiada kakak, tiada
sahabat tiada kenalan, tiada tinggi tiada rendah dan tiada hina
tiada mulia baginya, untuk mencapai keinginannya yang rendah
ini. Tiada ia menaruh takut, tiada menaruh ngeri, tiada menaruh
kasihan, tiada menaruh sedih. Yang mulia dihinakannya, yang
kaya dimiskinkannya, yang berpangkat dijatuhkannya. Hamba
itu diletakkannya di atas singgasana dan anjing itu diangkatnya
ke puncak Gunung Merapi. Terbujur lalu, terbelintang patah,
lamun uang harus diperolehnya.
Demikianlah Datuk Meringgih, saudagar yang termasyhur
kaya di Padang itu. Ia kaya dan beringin hendak bertambah kaya
itulah, artinya karena hendak mempunyai harta. Bukan kekayaan
itu yang dimintanya hanya itulah yang dikehendakinya.
Hai Datuk Meringgih! Apakah paedahnya kekayaan yang
sedemikian bagimu dan bagi sesamarnu? Engkau dilahirkan dari
perut ibumu dengan tiada membawa suatu apa, dan apabila
engkau kelak meninggalkan dunia yang fana ini, karena maut itu
tak dapat kauhindarkan, walaupun hartamu sebanyak harta raja
Karun sekalipun tiadalah lain yang akan engkau bawa ke tempat
kediamanmu yang baka itu, melainkan selembar kain putih yang
cukup untuk menutup badanmu jua.
Semasa engkau masih hidup, berlelah-lelah engkau
mengumpulkan harta benda dengan tiada jemu jemunya. Berapa
kesusahan dan kesakitan yang kaurasai, berapa azab dan
sengsara yang kauderita, berapa umpat dan sumpah yang
kautanggung, berapa maki dan nista yang kaudengar, akan tetapi,
bila engkau kelak berpulang ke rahmatullah, akan tinggallah dan
berbagi-bagilah kembali hartamu itu kepada yang masih hidup.
Harta dunia dan harta akhirat itulah yang dapat kau bawa pulang
ke negeri yang baka dan menolong engkau dalam perjalananmu
ke sana dan kehidupanmu yang kekal di sana kelak.
Semasa hidupmu, engkau rebut harta itu dari tangan orang
lain, bila engkau telah mati niscaya jatuhlah kembali harta itu ke
tangan orang lain itu. lnilah yang dikatakan pepatah; adat dunia
balas-berbalas. Segala sesuatu tiada kekal, melainkan bertukartukar
dan berpindah-pindah juga. Bulan berputar mengedari
matahari, dan matahari berputar pula mengedari alam. Apakah
yang tetap? Tak ada, melainkan Tuhan Yang Esa juga.
Kekayaanmu yang dikurniakan Tuhan kepadamu itu tiada
memberi paedah bagi dirimu sendiri, bagi sesamamu manusia
dan bagi isi dunia ini; melainkan mendatangkan kesenangan dan
kedukaan juga kepada mereka sekalian dan kepada dirimu
sendiri pun.
Sungguhpun telah adat manusia bersifat loba dan tamak,
walaupun tiada sama pada tiap-tiap orang, karena jika telah ada
yang sejari hendak yang sejengkal, bila telah ada yang sejengkal
hendak sedepa, dan bila ada yang sedepa pun hendak lebih juga
tiada berkeputusan, selagi hayat di kandung badan, dan
walaupun sifat yang demikianlah yang membawa manusia itu ke
padang kemajuan, tetapi hendaklah berhati-hati, sebab jalan yang
ditempuh bercabang dua; sebuah jalan kebaikan dan sebuah lagi
jalan kejahatan. Apabila jalan yang baik itu kauturut, berhasillah
pekerjaanmu, karena memberi paedah kepada dirimu sendiri dan
sesamamu manusia. Akan tetapi apabila jalan yang jahat itu yang
kautempu,. takkan tiada pekerjaanmu itu akan mendatangkan
bahaya dan bencana juga kepada sesamamu manusia dan kepada
dirimu sendiri pun.
Apabila hartamu itu kaupergunakan untuk pembela dirimu,
supaya mendapat kehidupan yang senang, makan minum yang
cukup, rumah tangga dan pakaian yang baik, ataupun akan
engkau habiskan, untuk memuaskan hawa nafsumu yang baik,
sudahlah; karena seharusnyalah tiap-tiap manusia itu berikhtiar
mencari kesenangan dan kemajuan segala hal, asal jangan
melewati batas kebaikan.
Sungguhpun demikian, akan lebih berpaedah juga pekerjaanmu,
bila hartamu itu kaupergunakan untuk berbuat baik kepada
sesamamu manusia dan berbuat bakti kepada Tuhanmu supaya
dapat engkau memperbaiki yang rusak, menyelesaikan yang
kusut, menolong yang kesusahan, melipur yang miskin, jadi
mengurangi azab sengsara dunia ini. Karena ketahuilah olehmu,
bahwa dunia ini terlebih banyak mengandung yang susah
daripada yang senang, yang hina daripada yang mulia, yang,
kurang daripada yang cukup, yang miskin daripada yang kaya,
yang daif daripada yang kuat, yang malang daripada yang mujur.
Apabila tiada daripada engkau dan orang-orang kaya-kaya lain,
yang sebagai engkau, daripada siapakah mereka akan mendapat
pertolongan?
Ingatlah! Kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan
kehinaan, kesusahan dan kesenangan, ya sekaliannya, datangnya
daripada Tuhan Yang Esa juga. Jika dikehendakinya, dengan
sekejap mata, bertukarlah kekayaan itu menjadi kemiskinan,
kemuliaan menjadi kehinaan, kesukaan menjadi kedukaan dan
tinggilah yang rendah, kayalah yang miskin, mulialah yang hina,
dan tertawalah yang menangis.
Oleh sebab itu, janganlah sombong dan angkuh, karena
beroleh kekayaan, kemuliaan, kesenangan, dan kesukaan
melainkan insyaflah, bahwa sekalian itu selydar pinjaman, yang
setiap waktu boleh diambil kembali oleh yang empunya.
Dan engkau pun yang berasa miskin dan hina, yang selalu
mendapat bahaya, kesengsaraan, dan kesedihan, janganlah putus
asa, melainkan sabar dan tawakallah juga kepada Tuhanmu serta
pohonkan pertolongan dan kurnia-Nya. Sesudah hujan, niscaya
panas.
Yang beruntung janganlah menghinakan yang malang, dan
yang malang janganlah dengki kepada yang beruntung
melainkan berkasih-kasihanlah selama-lamanya, serta tolongmenolong
dalam segala hal, karena yang ber¬untung perlu
kepada yang malang, dan yang malang perlu pula kepada yang
mujur. Jika tak ada yang malang, niscaya tak ada pula yang
inujur, dan jika tak ada yang beruntung, yang malang pun tak
ada pula.
Apabila engkau pergunakan hartamu itu hai Datuk
Meringgih, untuk kebaikan, takkan tiada kebaikan pulalah yang
akan datang kepadamu, yang terlebih daripada kesukaan dan
kesenangan, yang engkau peroleh daripada bunyi dan cahaya
mata bendamu itu: karena suatu perbuatan atau pil.iran pun,
buruk dan baik, tiada hilang, sebagai hujan jatuh ke pasir,
melainkan hidup selama-lamanya dan timbul kembali pada
dirimu atau diri sesamamu.
Apabila kelak datang waktunya engkau akah meninggalkan
dunia ini dan engkau menoleh ke belakang, kepada jalan yang
telah kautempuh, niscaya perasaan yang sejahteralah yang akan
mengikutmu, karena aku ketahui, bahwa hidupmu tiada kosong,
sebagai padi hampa, melainkan banyak mendatangkan jasa
kepada sesamamu manusia.
Sungguhpun Datuk Meringgih tiada disukai orang, karena
tabiat dan kelakuannya yang buruk dan loba tamaknya itu, tetapi
ia ditakuti dan disegani orang juga, sebab hartanya yang tiada
ternilai banyaknya itu: lebih-lebih oleh mereka yang acap kali
kesusahan uang. Karena ialah tempat walaupun dengan
bunganya yang terkadang-kadang sampai separuh dari pinjaman.
Bila telah sampai kepada waktu perjanjian, hutang itu belum
dibayar oleh yang meminjam, niscaya tiada diberi maaf lagi
Datuk Meringgih, melainkan didakwanyalah mereka dan
dirampasnya panjar gadaian itu.
Di manakah diperoleh Datuk Meringgih harta yang sekian
banyaknya itu? Inilah suatu rahasia yang selalu menjadi permainan
mulut dan buah pikiran isi kota Padang. Acap kali diperbincangkan,
kerapkali diterka-terka, tetapi tiadalah seorang jua
pun yang mengetahui hal itu. Demikian pula tiada seorang juga
yang tahu, siapakah Datuk Meringgih ini sebenarnya dan dari
mana asalnya.
Kira-kira dua puluh tahun yang telah lalu, Datuk ini dikenal
orang di Padang sebagai penjual ikan kering, di pasar di
Kampung Jawa. Tiba-tiba, pada suatu waktu, dibelinya sebuah
kota dan sejak waktu itu sangatlah lekas bertambah-tambah
kekayaannya, sehingga tatkala umurnya telah lebih daripada
empat puluh tahun, ia telah mempunyai beberapa toko-toko yang
besar dan gudang-gudang yang penuh berisi barang-barang
dagangan. Rumah sewaannya berpuluh-puluh, hampir sekalian
tanah di kota Padang ada dalam tangannya. Kebun kelapanya
berbahu-bahu dan sawahnya beratus-ratus piring. Di Muara,
hampir sekalian perahu yang membawa dan mengambil
dagangan, kepunyaannya. Seisi kota Padang heran melihat
kekayaan yang sebanyak itu dan yang bertambah-tambah secepat
itu, dengan tiada diketahui orang bagaimanakah Datuk
Meringgih memperolehnya, karena yang didengar dan dilihat
orang, hanyalah bakhil dan lobanya saja.
Oleh sebab itu, berbagai-bagailah cerita yang kedengaran
tentang asal kekayaan Datuk Meringgih ini. Ada yang berkata ia
mendapat lotere seratus ribu dan ada pula yang berkata ia mendapat
harta yang tersembunyi di dalam tanah. Orang yang keras
beragama menyangka ia telah bertemu dengan Nabi Khaidir
pada malam dua puluh tujuh bulan Ramadhan. Orang yang
percaya kepada takhyul, mengira bersahabat dengan jin. Dan
orang yang benci kepada Datuk ini mengatakan ia memasukkan
candu gelap. Akan tetapi yang sebenarnya, hanyalah Datuk
Meringgih seorang yang mengetahui.
Sekarang marilah kita dekati Datuk Meringgih, yang sedang
duduk di atas kursi malas di serambi belakang rumahnya itu,
untuk mengetahui apakah kerjanya, duduk seorang diri.
Tiada lama datuk meringgih duduk sedemikian itu, hari pun
malamlah dan gelaplah segala yang di darat dan di udara pun
telah masuk ke dalam kandang atau sarangnya. Hanya
kelelawarlah yang ke luar terbang ke sana-sini, mencari
mangsanya. Keluang terbang tinggi beriring-iringan arah selatan,
mencari buah-buahan yang masak. Burung hantu mulai berbunyi
dalam lubang-lubang kayu musang pun bangunlah daripada
tidurnya, lalu mengintip ke sana kemari, akan mengetahui,
tiadakah ada bahaya di luar sarangnya. Ular menjalar di celahcelah
batu mengintip katak dan binatang yang kecil-kecil.
Si sebelah barat, langit tertutup oleh awan hitam yang
mengandung hujan, yang mengembang dari laut ke darat. Cuaca
yang terang, menjadi gelap-gulita, sehingga tiada kelihatan
barang sesuatu pun. Bintang-bintang di langit lenyap, sebagai
ditutup tabir hitam. Hari tenang, angin tak ada, tanda topan akan
datang. Di jalan, raya sunyi senyap, sebagai negeri dialahkan
garuda. Terkadang-kadang melintas orang seorang-seorang yang
berjalan cepat-cepat, sebagai takut akan kehujanan. Pada tiaptiap
rumah tiada kelihatan lampu, sebab jendela-jendela telah
ditutup. Walaupun gelap sedemikian, tetapi Datuk Meringgih
tiada menyuruh menerangi serambi belakang rumahnya. Sebab
bakhilnya pulakah atau sebab yang lain? Segera akan kita
ketahui.
Sekonyong-konyong kelihatanlah sekejap mata, kilat yang
menerangi seluruh alam yang gelap gulita itu dan tatkala itu juga
kedengaran halilintar berbunyi bagai membelah bumi, disertai
oleh hujan yang amat lebat, seperti air dicurahkan dari
langit.Tiada lama kemudian daripada itu bertiuplah angin topan
yang sangat hebat, menumbangkan beberapa pohon kayu yang
besar-besar.
Walaupun hari rupanya seakan-akan kiamat, tetapi Datuk
Meringgih tiadalah masuk ke dalam rumahnya, adalah sebagai
sekalian kekacauan alam itu tiada diindahkannya, bahkan
diingininya, karena ia masih duduk termenung di atas kursinya
memikirkan sesuatu hal yang penting.
Tiba-tiba kedengaran di tempat yang gelap, suara orang batuk
tiga kali. Tatkala itu barulah ingat Datuk Meringgih akan
dirinya, lalu melihat ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada orang
dekat di sana. Kemudian batuk pula ia dua kali. Seketika itu juga
kelihatan, seperti suatu bayang-bayang, bergerak di tempat yang
gelap, kemudian kelihatan seorang-orang yang memakai serba
hitam, datang menghampiri Datuk Meringgih, lalu masuk
keduanya ke dalam sebuah bilik, di serambi belakang. Pintu bilik
ini segera ditutup rapat-rapat oleh Datuk Meringgih.
Di dalam kamar ini, yang hanya diterangi oleh sebuah pelita
minyak kelapa, ada sebuah tilam dan sebuah peti. Di lantai ada
terbentang sehelai tikar pandan dan di atas tikar inilah duduk
kedua mereka itu.
Di sana nyata kelihatan, orang yang baru datang itu memakai
destar hitam yang lembut yang ujungnya dibalikkannya ke
mukanya sehingga dahinya tertutup. Bajunya baju Cina hitam
yang besar lengannya, dan celananya seluar Aceh, yang warnanya
hitam pula. Sarung yang disandangnya di bahunya, yaitu
sarung Bugis hitam.
"Tiada basah engkau, Pendekar Lima?" tanya Datuk
Meringgih perlahan-lahan kepada jamunya ini.
"Tidak, Engku, sebab hamba telah hampir ada di sini, tatkala
hari akan hujan," jawab Pendekar Lima.
"Apa kabar pekerjaan kita yang di Hulu Limau Manis?"
"Tidak baik jadinya."
"Tidak baik? Apa sebabnya?" tanya Datuk Meringgih sambil
mengangkat mukanya, menentang Pendekar Lima. Di situ
kelihatan bengis muka Datuk Meringgih.
"Murid-murid kita tiada menurut aturan yang telah diberikan
kepadanya."
"Siapa yang menjadi guru waktu itu?"
"Si Patah."
"Apakah sebabnya, maka tiada engkau sendiri yang mengajar
di sana? Bukankah telah kuperintahkan kepadamu?"
"Sebab hamba pada waktu itu harus mengajar di Bukit Putus;
karena di sana pun ada ilmu baru yang datang dari Tanah Jawa,
yang sangat besar harganya."
"Si Patah belum cukup kepandaiannya untuk mengajar
murid-murid pada sasaran yang besar-besar dan ia kurang sabar.
Itulah sebabnya, maka salah ajarannya. Sekarang di mana dia?"
"Dalam rumah batu."
"Rumah batu?" tanya Datuk Meringgih dengan mengangkat
kepalanya pula. "Rumah batu di mana?"
"Rumah batu di Lubuk Bagalung, bersama-sama dua orang
murid."
"Itulah upah yang patut, bagi orang yang sedemikian. Tetapi
sudahlah diperiksa perkaranya?"
"Sudah," jawab pendekar Lima, "dan rupanya ia teguh
memegang sumpahnya, karena tiada disebut-sebutnya nama
hamba."
"Cobalah kauceritakan dari mulanya, apa sebabnya maka
sampai jadi sedemikian itu?" ,
"Tatkala hamba ketahui, bahwa hamba tak dapat pergi ke
Hulu Limau Manis," kata Pendekar Lima, "hamba suruhlah
seorang murid tua ke sana, yaitu si Patah, serta hamba katakan
kepadanya aturan yang telah Engku Datuk berikan itu. Mulamula
rupanya ada diturutnya aturan itu, karena sekalian barangbarang,
jatuh ke dalam tangannya. Tetapi pendapatan ini tiada
disimpannya pada tempat yang telah ditetapkan, melainkan hari
itu juga dikirimkannya kemari; dimasukkannya ke dalam
beberapa karung, lalu ditumpangkannya pada tukang pedati,
yang berangkat malam itu juga ke sini. Rupanya pedati itu lama
berhenti di Lubuk Bagalung dan di sanalah kedapatan oleh yang
kuning leher*). Oleh sebab tukang pedati itu mengatakan ia
menerima barang-barang itu dari si Patah, hari itu juga ia
ditangkap dengan kedua muridnya."
"Baiklah, tetapi carilah akal, sebelum hukumannya
dijatuhkan, supaya mereka lepas dari rumah batu itu dan bila
telah lepas, suruhlah si Patah pergi ke Terusan atau ke Painan,
untuk sementara bekerja mengambil rotan, supaya jangan
kelihatan oleh orang. Dan kedua muridnya, suruh ke bukit
Tambun Tulang, belajar di sana dengan sungguh-sungguh," kata
Datuk Meringgih.
"Baiklah, Engku."
"Tentang perkara ilmu yang kaupelajari di Bukit Putus itu,
bagaimana pula? Aku tiada tahu hal itu."
"Sesungguhnya perkara ini belum hamba kabarkan kepada
Engku, sebab sejak waktu itu belum sempat hamba datang
kemari."
"Akan tetapi apakah sebabnya, maka engkau tiada
bermupakat lebih dahulu dengan daku?" tanya Datuk Meringgih
pula.
"Sebab tak sempat. Sebenarnya malam itu hamba akan pergi
ke Hulu Limau Manis, menolong si Patah, sebagai telah Engku
katakan. Tetapi tatkala sampai ke Bukit Putus, dapat kabar dari
*) Opas polisi, pada masa dahulunya opas-opas memakai
setrip kuning ada leher bajunya dan pada celananya.
seorang murid di sana, ada ilmu baru, datang dari Jawa, dengan
kapal yang masuk hari itu. Ilmu itu banyak harganya. Karena tak
sempat balik kemari, memberi tahu Engku, khawatir kalau ilmu
itu segera dibawa ke tempat lain, hamba tuntut sendiri ilmu itu,
sebab rupanya tak berapa susah."
"Dan dapatkah ilmu itu?"
"Dapat, sekarang ditanam dalam tanah, dekat Tanah Merah."
"Kira-kira berapa harganya?"
"Kira-kira enam atau tujuh ratus, semuanya emas dan intan.
Itulah yang hendak hamba mupakatkan, karena dua orang murid
yang bersama-sama pergi dengan hamba, minta bagiannya."
"Nanti kuberi seorang lima puluh."
"Jika boleh, ia minta seratus seorang."
"Masakan seratus, karena harga ilmu itu belum tentu sekian
banyaknya dan gajinya tiap-tiap bulan, tiadakah diingatnya?
Sudahlah, aku beri tiap-tiap orang tujuh puluh lima dan engkau
seratus lima puluh, jika benar ilmu enam atau tujuh ratus
harganya. Janganlah banyak cakap lagi! Bawalah ilmu itu kemari
dahulu! Jika telah kutaksir, tentu segera engkau mendapat
bagianmu masing-masing. Dan bawalah pula tukang mas kita
sekali, supaya lekas dapat dihancurkannya masnya yang
diperbuatnya barang-barang lain; kemudian berikan kepada
tukang penjaja mas in'tan kita, suruh jual ke negeri lain."
"Baiklah, Engku," jawab Pendekar Lima dengan riangnya,
sedang matanya yang sebagai mata burung hantu itu bercayacaya,
karena mengenangkan upah yang akan diperolehnya. Dari
uang yang tiga rarus rupiah itu, tentulah sekurang-kurangnya dua
ratus dapat olehnya, sehingga dapatlah pula ia beberapa hari
minum candu dan berjudi, sesuka hatinya.
"Suatu lagi yang hendak hamba kabarkan kepada Engku.
Tukang cetak kita, malam kemarin mati," kata Pendekar Lima.
"Mati?" jawab Datuk Meringgih dengan terperanjat. "apa
sebabnya?"
"Sakit perut."
"Siapa gantinya."
"Itulah yang hendak hamba tanyakan, siapakah yang akan
menggantikannya?"
"Temannya si Baso, belumkah dapat bekerja sendiri?"
"Sudah," jawab Pendekar Lima. "Pada pikiran hamba, dialah
yang baik pengganti yang mati itu. Tetapi siapakah yang akan
menjadi ganti si Baso pula?"
"Carilah seorang yang boleh dipercaya di antara orang-orang
kita!"
"Baiklah!"
"Hanya sekarang, janganlah terlalu banyak mencetak uang
perak, melainkan uang mas itulah yang harus dilebihkan, sebab
uang perak, lekas dikenal orang."
"Baiklah! Lagi pula tiadakah baik tempat itu dipindahkan?
Sebab hamba baru mendapat sebuah gua batu dalam gunung
yang dekat di sana yang baik rupanya, tersembunyi di pinggir
laut."
"Baiklah, nanti kita periksa bersama-sama."
"Perkara toko Bombai itu, bagaimana?" tanya Pendekar
Lima, yang rupanya sangat rajin hendak bekerja, karena
mengenangkan uang dua ratus rupiah tadi. .
"Perkara itu. nantilah; aku hendak mencari muslihat yang
baik dahulu. Sekarang ini ada perkara lain, yang hendak
kukatakan kepadamu."
"Perkara apa, Engku?" jawab Pendekar lima.
"Aku sesungguhnya tiada senang melihat perniagaan Baginda
Sulaiman, makin hari makin bertambah maju, sehingga berani ia
bersaing dengan aku. Oleh sebab itu hendaklah ia dijatuhkan."
"Akan tetapi bagaimanakah akal kita? Karena barang-barangnya
bukan sedikit, tak dapat diangkat dalam sehari dua. Dan
diambil separuhnya pun, tiadalah dirasainya," kata Pendekar
Lima.
"Bukan aku suruh engkau mencuri barang-barangnya, karena
berapakah yang akan terbawa olehmu? Aku bukan bodoh. Aku
tahu akal yang lebih baik, yaitu gudang-gudang dan tokotokonya
harus dibakar, perahu yang membawa barang-barangnya
dari Painan harus ditenggelamkan dan orang-orang yang ada di
sana dibujuk, supaya jangan mau bekerja dengan dia lagi;
sekalian pohon kelapanya di Ujung Karang, haruslah diobati,
biar busuk dan tak berbuah," kata Datuk Meringgih dengan suara
keras, serta memukul¬mukul telapak tangan kirinya dengan
tangan kanannya, yang dikepalkannya, karena geramnya.
"Esok hari juga engkau mulai bekerja di Ujung Karang!
Beritahukan kepada sekalian murid yang ada di sana! Sekalian
pohon kelapanya hendaklah dibubuh obat, supaya inati.
Kemudian pergilah engkau ke Terusan dan Painan. Bujuklah
sekalian orangnya di sana supaya meninggalkan pekerjaannya
dan masuk kaum kita. Dan bujuklah pula tukang perahunya,
supaya perahu-perahunya, dengan isi-isinya sekali, dikaramkan
di laut. Sudah itu pergilah engkau ke Padang Darat dan ke manamana,
menghasut sekalian toko yang berlangganan dengan dia,
supaya jangan membeli apa-apa lagi padanya.
Dengan demikian dapat kubeli barang-barangnya itu dengan
harga murah. Biar aku rugi. sedikit, asal Baginda Sulaiman jatuh.
Setelah selesai pekerjaan itu, barulah engkau mulai membakar
toko dan gudangnya."
Pendekar Lima termenung seketika mendengar perintah ini,
karena belum pernah ia mengerjakan yang sedemikian. Pada
pikirannya bukan sedikit belanja dan susahnya pekerjaan itu.
Melihat Pendekar Lima berdiam diri, berkata pula Datuk
Meringgih, "Aku tahu, pekerjaan ini memang tak mudah dan
harus berhati-hati benar melakukannya supaya jangan sampai
diketahui orang. Tetapi ia akan memberi keuntungan berpuluh
ribu kepada kita. Dan pada pikiranku engkau cakap menjalankannya.
Oleh sebab itu aku tiada akan memandang berapa biaya
yang berguna; biar aku rugi beribu sekalipun, asal sampai
maksudku ini. Aku tiada senang, kalau di Padang ini masih ada
saudagar yang berani bersaingan dengan daku. Sebelum jatuh ia,
belumlah puas hatiku. Kau boleh memakai duit seberapa sukamu
dan boleh pula menyuruh orang-orangku, kalau perlu."
Mendengar perkataan Datuk Meringgih ini yaitu ia boleh
memakai duit seberapa sukanya, hilanglah takut dan ngeri
Pendekar Lima lalu menjawab dengan gembira, "Baiklah, Engku
Datuk. Jangankan sekian, disuruh membunuh orang senegeri
pun, hamba mau, asal Engku Datuk yang menyuruh."
Dengan berkata demikian, pikirannya melayang kepada uang
beribu-ribu yang akan diterimanya.
"Tetapi ingat!" kata Datuk Meringgih pula. "Kalau tak
sampai maksudku ini, tak perlu engkau datang-datang lagi
kemari."
Mendengar perkataan ini berdebarlah hati Pendekar Lima,
karena artinya tentulah ia akan dilepaskan oleh Datuk
Meringgih, apabila maksudnya ini tak sampai. Dan akan
dapatkah ia mencari tuan yang sebagai Datuk Meringgih ini?
Betul ia sangat bakhil, tetapi tiada memandang apa pun, bila ada
sesuatu hajatnya. Oleh sebab itu berjanjilah ia dalam hatinya
akan menjalankan perintah yang berat ini dengan sesungguhsungguh
hati, walaupun apa pun juga yang akan terjadi atas
dirinya.
Sementara itu masuklah Datuk Meringgih ke dalam
rumahnya dan seketika lagi keluarlah pula ia lalu berkata, "lni
uang seratus untuk belanjamu sementara. Bila habis, uang ini,
boleh kauminta pula kepadaku atau kepada sekalian orangku
yang memegang uang. Nanti kukirimkan surat kepadanya
sekalian."
"Terima kasih, Engku!" jawab Pendekar Lima. "Akan tetapi
pekerjaan hamba di sini bagaimana?"
"Serahkan kepada Pendekar Empat dan suruhlah ia kemari,
supaya kukatakan kepadanya, apa yang harus diperbuatnya."
Tiada berapa lama kemudian daripada itu kelihatanlah
Pendekar Lima keluar dari dalam bilik tadi, lalu hilang di dalam

gelap.

No comments:

Post a Comment