Thursday, December 4, 2014

Sitti Nurbaya (Kasiah Tak Sampai) Episode 1.

Karya : Marah Rusli



Kira-kira pukul satu siang, kelihatan dua orang anak muda,
bernaung di bawah pohon ketapang yang rindang, di muka
sekolah Belanda Pasar Ambacang di Padang, seolah-olah mereka
hendak memperlindungkan dirinya dari panas yang memancar
dari atas dan timbul dari tanah, bagaikan uap air yang mendidih.
Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki, yang umurnya
kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana
pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu
hitam tinggi, yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam
pula dan diikatkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya.
Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai bangsa Belanda.
Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi
dan dengan tangan kanannya dipegangnya sebuah belebas, yang
dipukul-pukulkannya ke betisnya.
Jika dipandang dari jauh, tentulah akan disangka, anak muda
ini seorang anak Belanda, yang hendak pulang dari sekolah.
Tetapi jika dilihat dari dekat, nyatalah ia bukan bangsa Eropa;
karena kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan
matanya hitam sebagai dawat. Di bawah dahinya yang lebar dan
tinggi, nyata kelihatan alis matanya yang tebal dan hitam pula.
Hidungnya mancung dan mulutnya halus. Badannya sedang, tak
gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang
jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus,
tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya.
Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak
seorang yang mampu dan tertib sopannya menyatakan ia anak
seorang yang berbangsa tinggi.
Teman anak muda ini, ialah seorang anak perempuan yang
umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai
pakaian anak Belanda juga. Rambutnya yang hitam dan tebal itu,
dijalinnya dan diikatnya dengan benang sutera, dan diberinya
pula berpita hitam di ujungnya. Gaunnya (baju nona-nona)
terbuat dari kain batis, yang berkembang merah jambu. Sepatu
dan kausnya, coklat wamanya. Dengan tangan kirinya dipegangnya
sebuah batu tulis dan sebuah kotak yang berisi anak batu,
pensil, pena, dan lain-lain sebagainya; dan di tangan kanannya
adalah sebuah payung sutera kuning muda, yang berbunga dan
berpinggir hijau.
Alangkah elok parasnya anak perawan ini, tatkala berdiri
sedemikian! Seakan-akan dagang yang rawan, yang bercintakan
sesuatu, yang tak mudah diperolehnya. Pipinya sebagai pauh
dilayang, yang kemerah-merahan warnanya kena bayang baju
dan payungnya, bertambah merah rupanya, kena panas matahari.
Apabila ia tertawa, cekunglah kedua pipinya, menambahkan
manis rupanya; istimewa pula karena pada pipi kirinya ada tahi
lalat yang hitam. Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai
janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga
melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan di antara
kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagai dua
baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan
pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak,
yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air
embun. Di lehernya yang jenjang, tergantung pada ranjai emas
yang halus, sebuah dokoh hati-hati, yang bermatakan permata
delima. Jika ia minum, seakan-akan terbayanglah air yang
diminumnya di dalam kerongkongannya. Suaranya lemahlembut,
bagai buluh perindu, memberi pilu yang mendengarnya.
Dadanya bidang, pinggangnya ramping. Lengannya dilingkari
gelang ular-ular, yang bermatakan beberapa butir berlian yang
bemyala-nyala sinarnya. Pada jari manis tangan kirinya yang
halus itu, kelihatan sebentuk cincin mutiara, yang besar matanya.
Kakinya baik tokohnya dan jalannya lemah gemulai.
Menurut bangun tubuh, warna kulit dan perhiasan gadis ini,
nyatalah ia bangsa anak negeri di sana; anak orang kaya atau
orang yang berpangkat tinggi. Barangsiapa memandangnya, tak
dapat tiada akan merasa tertarik oleh sesuatu tali rahasia, yang
mengikat hati, dan jika mendengar suaranya, terlalailah daripada
sesuatu pekerjaan. Sekalian orang bersangka, anak ini kelak, jika
telah sampai umurnya, niscaya akan menjadi sekuntum bunga,
kembang kota Padang, yang semerbak baunya sampai ke manamana,
menjadikan asyik berahi segala kumbang dan rama-rama
yang ada di sana.
"Apakah sebabnya Pak Ali hari ini terlambat datang?
Lupakah ia menjemput kita?" demikianlah tanya anak laki-laki
tadi kepada temannya yang perempuan, sambil menoleh ke jalan
yang menuju ke pasar Kampung Jawa.
"Ya, biasanya sebelum pukul satu ia telah ada di sini.
Sekarang, cobalah lihat! Jam di kantor telepon itu sudah hampir
setengah dua," jawab anak perempuan yang di sisinya.
"Jangan-jangan ia tertidur, karena mengantuk; sebab tadi
malam ia minta izin kepada ayahku, pergi menonton komidi
kuda. Kalau benar demikian, tentulah kesalahannya ini akan
kuadukan kepada ayahku," kata anak laki-laki itu pula, sebagai
marah rupanya.
"Ah, jangan Sam. Kasihanilah orang tua itu! Karena ia bukan
baru sehari dua bekerja pada ayahmu, melainkan telah bertahuntahun.
Dan di dalam waktu yang sekian lamanya itu, belum ada
ia berbuat kesalahan apa-apa. Bagaimanakah rasanya, kalau kita
sendiri sudah setua itu, masih dimarahi juga? Pada sangkaku,
tentulah ada alangan apa-apa padanya. Jangan jangan ia
mendapat kecelakaan di tengah jalan. Kasihan orang tua itu!
Lebih baik kita berjalan kaki saja perlahan-lahan, pulang ke
rumah; barangkali di tengah jalan kita bertemu dengan dia
kelak," kata anak perempuan itu pula seraya membuka payung
suteranya dan berjalan perlahan-lahan ke luar pekarangan rumah
sekolah.
"Ya, tetapi aku lebih suka naik bendi daripada berjalan kaki,
pulang ke rumah, sebab aku amat lelah rasanya dan hari amat
panas. Lihatlah mukamu, telah merah sebagai jambu air, kena
panas matahari!" jawab anak laki-laki itu, seakan-akan merengut,
tetapi diikutinya juga temannya yang perempuan tadi.
"Benar hari panas, tetapi tak mengapa. Kaulihat sendiri, aku
ada membawa payung yang boleh kita pakai bersama-sama.
Merah mukaku ini bukan karena panas semata-mata, melainkan
memang sejak dari sekolah sudah merah juga."
"Apa sebabnya? Barangkali engkau dimarahi gurumu," tanya
Sam, demikianlah nama anak laki-laki itu, sambil memandang
kepada temannya.
"Bukan begitu, Sam, hanya ... O, itu Pak Ali datang!"
Tiada berapa lama kemudian, berhentilah di muka anak muda
ini sebuah bendi yang ditarik oleh seekor kuda Batak. Rupanya
kuda ini telah lama dipakai, karena badannya basah dengan
peluh. Di atas bendi ini duduk seorang kusir, yang umurnya kirakira
45 tahun, tetapi badannya masih kukuh. Pada air mukanya,
nyata kelihatan, bahwa ia seorang yang lurus hati dan baik budi,
walaupun ia tiada remaja lagi.
"Pak Ali, mengapa terlambat datang menjemput kami?
Tahukah, bahwa sekarang ini sudah setengah dua? Setengah jam
lamanya kami harus berdiri di bawah pohon ketapang, sebagai
anak ayam ditinggalkan induknya," kata Sam seakan-akan
marah, sambil menghampiri bendi yang telah berhenti itu.
"Engku muda*), janganlah marah! Bukannya sengaja hamba
terlambat. Sebagai biasa, setengah satu telah hamba pasang
bendi ini, untuk menjemput Engku Muda. Tetapi Engku
Penghulu**) menyuruh hamba pergi sebentar menjemput engku
Datuk Meringgih, karena ada sesuatu, yang hendak dibicarakan.
Kebetulan Engku Datuk itu tak ada di tokonya, sehingga
terpaksa hamba pergi ke Ranah, mencarinya di rumahnya. Itulah
sebabnya terlambat hamba datang," jawab kusir tua itu dengan
sabar.
"Hm ... Marilah Nur, naiklah, supaya lekas kita sampai ke
rumah, sebab perutku telah berteriak minta makan," kata Sam
pula.
*) Panggilan kepada anak orang yang
berpangkat di Padang
**) Nama pangkat di Padang, yang hampir
sama dengan Wedana di tanah Jawa
Kedua anak muda tadi lalu naiklah ke atas bendi Pak Ali dan
dengan segera berlarilah kuda Batak yang amat tangkas itu,
menarik tuannya yang muda remaja, pulang ke rumahnya di
Kampung Jawa Dalam.
Setelah sejurus lamanya berbendi, berkatalah anak laki-laki
tadi, "Nur, belum kanceritakan kepadaku, apa sebabnya mukamu
merah."
"O, ya, Sam. Tadi aku diberi hitungan oleh Nyonya Van der
Stier, tentang perjalanan jarum pendek dan jarum panjang, pada
suatu jam. Dua tiga kali kucari hitungan itu, sampai pusing
kepalaku rasanya, tak dapat juga. Bagaimanakah jalannya
hitungan yang sedemikian?"
"Bagaimanakah soalnya?" tanya si Sam.
"Demikian," jawab si Nur. "Pukul 12, jarum pendek dan
jarum panjang berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit
pula, sesudah itu?"
"Ah, jalan hitungan yang semacam ini, hampir sama dengan
jalan hitungan yang telah kuterangkan dahulu kepadamu," jawab
si Sam, "yaitu tentang perjalanan orang yang berjalan kaki dan
naik kuda. Yang terutama harus kau ketahui pada hitungan yang
sedemikian ini, ialah jarak dari angka XII ke angka XII, pada
jam kalau lingkaran itu dibuka dan dijadikan baris yang lurus.
Berapa?"
Si Nur terdiam, sebagai berpikir.
"Begini. Cobalah pinjami aku batu tulismu itu!" kata si Sam
pula, seraya mengambil batu tulis si Nur dan membuat sebuah
garis yang panjang di atasnya.
Sejenak kemudian si Nur menjawab, "60 menit."
"Benar, 60 menit atau 60 meter atau 60 pal, sekaliannya itu
sekadar nama saja. Panjang yang 60 menit antara dua angka XII
di jam, boleh kita samakan dengan panjang jalan yang 60 Km,
antara dua buah negeri, misalnya antara negeri P dan M.
Sekarang manakah yang lebih cepat, jalan jarum panjangkah
atau jarum pendek?" tanya Sam pula.
"Tentu jarum panjang," jawab si Nur.
"Nah, jarum panjang itu misalkanlah si A, yang menunggang
kuda dari P ke M, dan jarum pendek si B, yang berjalan kaki dari
P ke N." kata si Sam. "Sekarang berapakah kecepatan perjalanan
kedua jarum itu?"
"Jarum panjang 60 menit sejam dan jarum pendek 5 menit,"
jawab si Nur.
"Jadi berapa perbedaan perjalanan kedua jarum itu dalam
sejam?"
"55 menit," jawab si Nur.
"Nah, suruhlah kedua mereka itu sama-sama berangkat! Si A
dari P ke M, dan si B dari P ke N," kata si Sam pula.
"O, ya, benar, benar!" kata si Nur, "sekarang mengertilah
aku."
"Ya, kalau tahu rahasia hitungan, mudah benar mencarinya,
bukan?"
"Benar. Terima kasih, Sam!" kata anak perempuan tadi
sambil melihat ke hadapan. "Hai, dengan tiada diketahui, kita
telah sampai ke rumah."
Ketika itu berhentilah bendi tadi di muka sebuah rumah kayu,
bercat putih dan beratap genting, yang dihiasi sebagai rumah
Belanda. Anak perempuan tadi turun dari kendaraan Pak Ali,
lalu hendak masuk ke rumah ini.
"O ya, Nur, tunggu sebentar," kata si Sam. "Hampir lupa aku.
Tadi, waktu keluar bermain-main, aku telah bermupakat dengan
si Arifm dan si Bakhtiar, akan pergi esok hari ke gunung Padang,
bermain-main mencari jambu Keling, sebab hari Ahad sukakah
engkau mengikut?"
"Tentu sekali suka, Sam," jawab si Nur dengan girang.
"Tetapi aku harus minta izin dahulu kepada ayahku. Jika dapat,
nanti petang kukabarkan kepadamu."
"Baiklah. Tetapi kalau engkau ikut serta, hendaklah kaubawa
apa-apa, yang dapat kita makan bersama-sama di sana.
Perjanjian kami tadi, si Arifin membawa air seterup dan aku
membawa roti. Kalau boleh, aku hendak meminjam bedil angin
si Hendrik, supaya dapat berburu pula sekali, kalau-kalau ada
burung di sana."
"Alangkah senangnya! Kalau diizinkan aku mengikut, nanti
akan kupikirkanlah apa yang baik kubawa," jawab si Nur.
"Baiklah. Tabik, Nur!" .
"Tabik, Sam!"
Setelah itu bendi yang membawa kedua anak muda ini,
masuk ke dalam pekarangan rumah si Sam, yang letaknya di
sebelah rumah yang dimasuki anak perempuan tadi. Ketika anak
laki-laki ini sampai ke rumahnya, kelihatan olehnya di muka
rumahnya, ada sebuah kereta berhenti dan ayahnya duduk
bertutur dengan seorang tamu, di beranda muka.
Sebelum diteruskan cerita ini, baiklah diterangkan lebih
dahulu, siapakah kedua anak muda yang telah kita ceritakan tadi,
karena merekalah kelak yang acap kali akan bertemu dengan
kita, di dalam hikayat ini.
Anak laki-laki yang dipanggil Sam oleh temannya tadi, ialah
Samsulbahri, anak Sutan Mahmud Syah, Penghulu di Padang;
seorang yang berpangkat dan berbangsa tinggi. Anak ini telah
duduk di kelas 7 Sekolah Belanda Pasar Ambacang. Oleh sebab
ia seorang anak yang pandai, gurunya telah memintakan kepada
Pemerintah, supaya ia dapat meneruskan pelajarannya pada
Sekolah Dokter Jawa di Jakarta.
Ia bukannya seorang anak yang pandai sahaja, tingkah
lakunya pun baik; tertib, sopan santun, serta halus budi
bahasanya. Lagi pula ia lurus hati dan boleh dipercayai.
Walaupun ia rupanya sebagai seorang anak yang lemah-lem¬but,
akan tetapi jika perlu, tidaklah ia takut menguji kekuatan dan
keberani¬annya dengan siapa saja; lebih-lebih untuk membela
yang lemah. Dalam hal itu, tiadalah ia pandang-memandang
bangsa ataupun pangkat. Itulah sebabnya ia sangat dimalui
teman-temannya. Kalau tak ada alangan apa-apa, tiga bulan lagi
berangkatlah Samsulbahri ke tanah Jawa, untuk menuntut ilmu
yang lebih tinggi.
Temannya yang dipanggilnya Nur tadi ialah Sitti Nurbaya,
anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang
mempunyai beberapa toko yang besar-besar, kebun yang lebarlebar
serta beberapa perahu di laut, untuk pembawa
perdagangannya melalui lautan. Anak ini pun seorang gadis,
yang dapat dikatakan tiada bercacat, karena bukan rupanya saja
yang cantik, tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya,
serta kebaikan hatinya, tiadalah kurang daripada kecantikan
parasnya.
Oleh sebab ia anak seorang yang kaya dan karena ia cerdik.
dan pandai pula, ia disukai dan disayangi pula oleh temantemannya.
Hanya ayahnya, bukan seorang yang berasal tinggi,
sebagai Sultan Mahmud Syah, Penghulu yang tinggal di sebelah
rumahnya. Sungguhpun demikian, Penghulu dan saudagar ini
bukannya dua orang yang bersahabat karib saja, tetapi adalah
sebagi orang yang bersaudara kandung. Hampir setiap hari
saudagar Baginda Sulaiman datang ke rumah Penghulu Sutan
Mahmud Syah. Kalau tidak, tentulah Penghulu itu datang ke
rumah saudagar ini. Jika seorang mempunyai makanan, tak dapat
tiada diberikannya juga sebahagian kepada sahabatnya. Barang
sesuatu yang akan diperbuatnya, dirundingkannya lebih dahulu
dengan karibnya.
Oleh sebab itulah, Samsulbahri dan Nurbaya tiada berasa
orang lain lagi, melainkan serasa orang yang seibu sebapa
keduanya. Istimewa pula, karena mereka masing-masing anak
yang tunggal tiada beradik, tiada berkakak. Dari kecil, sampai
kepada waktu cerita ini dimulai, kedua remaja itu belumlah
pernah bercerai barang sehari pun; boleh dikatakan makan
sepiring, tidur sebantal.
Bagaimanakah hal kedua anak muda ini kelak, apabila datang
waktunya, Samsulbahri harus berangkat meninggalkan kampung
halamannya dan ibu-bapa serta handai tolannya? Nantilah akan
diceritakan betapa berat perceraian itu.
Tadi telah dikatakan, tatkala Samsulbahri sampai ke rumahnya,
ayahnya sedang bercakap-cakap dengan seorang jamu, di
serambi muka. Orang ini masuk bilangan sahabat Penghulu itu
juga, sebab ia acap kali kelihatan makan minum di sana.
Menurut air muka dan rambutnya yang telah putih ditumbuhi
uban, nyatalah ia tiada remaja lagi. Akan tetapi, walaupun ia
telah tua, badannya masih sempurna, kukuh dan sehat, karena ia
seorang yang mampu.
Itulah Datuk Meringgih, saudagar Padang yang termasyhur
kayanya, sampai ke negeri-negeri lain. Pada masa itu, di antara
saudagar-saudagar bangsa Melayu di padang, tiada seorang pun
dapat melawan kekayaan Datuk Meringgih ini. Hampir sekalian
toko dan rumah yang besar-besar di Pasar Gedang, kepunyaannya.
Hampir sekalian tanah di Padang, tertulis di atas namanya.
Sawahnya beratus piring dan kebunnya beratus bahu. Hampir
sekalian perahu yang berlabuh di Muara, di dalam tangannya.
Sekalian rotan dan damar, serta hasil hutan yang lain-lain, yang
datang dari Painan dan Terusan, masuk ke dalam tempat
penyimpanannya. Berkapal-kapal kelapa keringnya, yang
dikirimkannya ke benua Eropah. Bergudang-gudang barangbarang
yang dipesannya dari negeri lain-lain.
Siapakah yang tiada mengenal namanya? Sampai ke
Singapura dan Melaka, Datuk Meringgih diketahui orang. Tak
ada seorang bangsa Eropah atau Cina, Arab atau Keling yang
kaya dan berpangkat di Padang, yang tiada bersahabat dengan
dia. Ia pun sangat pula merapati mereka, terlebih-lebih yang
berpangkat tinggi. Adakah maksudnya berbuat demikian? Atau
sebab memang ia seorang yang baik budi? Kelak akan kita
ketahui juga hal ini.
Sungguhpun Datuk Meringgih seorang yang kaya raya, tetapi
tiadalah ia berbangsa tinggi. Konon khabarnya, tatkala mudanya,
ia sangat miskin. Bagaimana ia boleh menjadi kaya sedemikian
itu, tiadalah seorang juga yang tahu, lain daripada ia sendiri.
Suatu sifat yang ada padanya, yang dapat menambah kekayaannya
itu, ialah ia amat sangat kikir. Perkara uang sesen, maulah ia
rasanya berbunuhan. Jika ia hendak mengeluarkan duitnya,
dibolak-balikkannya dahulu uang itu beberapa kali, sebagai tak
dapat ia bercerai dengan mata uang ini, seraya berkata dalam
hatinya, "Aku berikanlah uang ini atau tidak?" Hanya untuk
suatu perkara saja ia tiada bakhil, yaitu untuk perempuan. Berapa
kali ia telah kawin dan bercerai, tiadalah dapat dibilang. Hampir
dalam tiap-tiap kampung, ada anaknya. Tiada boleh ia melihat
perempuan yang cantik rupanya, tentulah dipinangnya. Walaupun
ia harus mengeluarkan uang seribu rupiah sekalipun, tiadalah
diindahkannya, asal sampai maksudnya. Kebanyakan
perempuan yang jatuh ke dalam tangan Datuk Meringgih ini,
semata-mata karena uangnya itu juga. Sebab lain daripada itu,
tak ada yang dapat dipandang padanya. Rupanya buruk, umurnya
telah lanjut, pakaian dan rumah tangganya kotor, adat dan
kelakuannya kasar dan bengis, bangsanya rendah, pangkat dan
kepandaianpuntak ada, selain dari pada kepandaian berdagang.
Akan tetapi karena kekuasaan uangnya, yang tinggi menjadi
rendah, yang keras menjadi lunak dan yang jauh men-jadi dekat.
Bukankah besar kekuasaan uang itu? Tentu, apakah yang
lebih daripada uang? Dunia ini berputar mengelilingi uang.
Sekaliannya ujudnya uang.
"Hai, telah pukul satu!" demikian kata Sutan Mahmud,
tatkala dilihatnya anaknya pulang dari sekolah.
"Sudah setengah dua," jawab Datuk Meringgih, setelah
melihat arlojinya, yang besar, yang berantaikan pita berpintal,
dari kantung atas bajunya.
"Jadi Engku Datuk beri pinjam hamba uang yang 3000
rupiah itu?" tanya Sutan Mahmud.
"Tentu," jawab Datuk Meringgih dengan pastinya.
"Tetapi apakah yang akan hamba berikan kepada Engku
Datuk untuk jadi andalan?" tanya Sutan Mahmud.
"Tidak apa-apa. Hamba percaya kepada Tuanku Penghulu,
karena Tuankn bukan baru hamba kenal. Jika orang lain, tentu
hamba minta jaminan."
"Bukan begitu," kata Sutan Mahmud pula. "Hamba banyak
meminta terima kasih kepada Engku Datuk, sebab percaya pada
hamba; tetapi utang harus ada tandanya. Bila besok lusa hamba
meninggal dunia sebelum utang itu lunas dibayar, bagaimanakah?
Oleh sebab itu, kelak akan hamba kirimkan kepada Engku
Datuk, suatu surat perjanjian, bahwa rumah hamba ini dengan
tanah-tanahnya, telah hamba gadaikan kepada Engku dengan
harga 3000 rupiah."
"Mana suka Tuankulah; sekarang hamba minta diri dahulu,
sebab Tuanku tentulah sudah lapar," jawab Datuk Meringgih.
"Tidakkah Engku datuk makan di sini? tanya Sutan Mahmud.
"Tak usah, kemudian marilah," jawab Datuk Meringgih pula,
sambil berdiri.
Kedua mereka kelihatan berjabat tangan, lalu Datuk
Meringgih turun dari atas rumah itu dan naik ke atas keretanya.
Seketika lagi, hilanglah ia dari mata Sutan Mahmud.
Waktu itu kelihatan Sutan Mahmud menarik napasnya,
sebagai terlepas daripada sesuatu bahaya, lalu masuk ke dalam
rumahnya, sambil berkata, "Kalau tak dapat kupinjam padanya,
tentulah aku akan terpaksa menjual sawah pusaka. Untung
benar! Kepada Baginda Sulaiman, tak hendak kupinta tolong.
Segan aku, kalau-kalau ia tak mau dibayar kembali."
Tatkala ia sampai ke dalam rurnahnya, kelihatan olehnya
Samsulbahri baru keluar dari dalam biliknya dan telah memakai
baju Cina putih dan celana genggang, yang baru dikenakannya;
penukar pakaian sekolahnya.
Setelah dilihat Samsu ayahnya, lalu dihampirinya orang
tuanya itu, seraya berkata, "Kalau Ayah izinkan, hamba hendak
pergi esok hari bermain-main ke gunung Padang."
"Dengan siapa?" tanya Sutan Mahmud.
"Dengan si Arifin dan si Bakhtiar dan barangkali juga dengan
si Nurbaya," jawab Samsu.
"Dengan si Nurbaya?" tanya Sutan Mahmud pula, sambil
berpikir. "Baiklah, tetapi hati-hati engkau menjaga dirimu dan si
Nurbaya! Jangan sampai ada alangan apa-apa dan jangan berlaku
yang tiada senonoh."
"Baiklah, Ayah," jawab Samsu.
Sejurus lagi, duduklah anak dan bapa, makan di meja
bersama-sama ibu Samsu, yang telah lama duduk menanti.
.....Bersambung.

No comments:

Post a Comment